Vonis Dokter
Insentif dua setengah persen cair keesokan harinya, Bening segera memeriksakan dirinya ke rumah sakit. 

“Sudah berapa lama mengalami batuk darah?” Dokter menanyakan.

“Dua tiga tahun terakhir“ Bening menjawab.

“Ada keluhan nyeri dada atau nafas berbunyi?”

Bening mengangguki.

“Sudah pernah melakukan pemeriksaan sebelumnya?”
Bening menggeleng.

“Saya akan membuat rujukan untuk melakukan bronkoskopi dan tes darah. Dari hasilnya nanti baru bisa disimpulkan apa penyakitmu." Dokter memberikan surat rujukan pada perawat.

“Tolong antar pasien ke lab.“ Dokter mengintruksikan.

Perawat mempersilakan Bening mengikutinya.

“Permisi Dok.“ Bening beranjak meninggalkan ruang pemeriksaan.

Hampir jam lima sore ketika Bening tiba di tempat kerjanya, Jingga yang sejak tadi menunggu di ruang ganti langsung mengembangkan senyum.

“Kirain baru masuk kerja dah mau bolos."

“Nggak. Tadi nyari hadiah buat Lu dulu, kan insentif dah cair." Bening mengambilkan blus yang dibelinya untuk Jingga. Ia tak menceritakan bagaimana blus itu dibeli, dengan memanfaatkan waktu tiga jam menunggu hasil lab. Dan hasilnya baru Ia terima tadi, sejam yang lalu sebelum Ia tiba ditempat kerjanya. 

“Kanker paru stadium tiga. Secepatnya Anda harus melakukan radioterapi sebelum kanker meluas” Dokter dengan berat hati mengatakan hasil diagnosanya.

Bening shock dan tak percaya dengan apa yang di dengarnya, Ia tak yakin dirinya terkena kanker. Apalagi kanker paru yang tak satupun anggota keluarga atau kerabatnya pernah mengidap.

“Ada keluarga yang merokok dan tinggal satu rumah?”

Bening terangguk. Masih dengan benak mencerna semua yang disampaikan dokter.

“Bisa jadi Anda perokok pasif, yang terkena dampak dari perokok aktif karena menghirup asap rokok” Dokter menguraikan.

“Anda tahu, Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. Kemungkinan dari sinilah Anda terserang kanker paru.“

Bening tak lagi butuh penjelasan, yang Ia perlukan sekarang bagaimana mengumpulkan uang untuk mengobati dirinya. Menebus resep yang tadi diresepkan Dokter dan nyatanya tak murah. Erlonitib, gefinitib dan antiangiogenesis yang akan menghambat pembentukan pembuluh darah baru dijaringan kanker.

“Gue bilang makasih kok Lu malah ngelamun sih Ning?” Jingga menepuk lengan Bening yang baru kelar berganti baju. 

“Akh nggak, Gue lagi mikir kira-kira hari ini bisa dapet prospek lagi nggak ya?” Bening menarik lengan Jingga keluar ruang ganti menuju lobby.


Small room lantai dua, tiga orang berpenampilan Businessman yang menyewa. Seorang tamu berwajah Indonesia, muda dan tampan. Dua orang lainnya sepertinya WN Jepang, paruh baya dan terlihat sudah berumur. 

“Malam Pak, mau di setkan lagu apa?” setelah tamunya duduk Bening bertanya dengan ramah.

Pria muda yang mengantarkan dua tamu asingnya memperhatikannya dengan tatapan kurang simpatik. Mungkin dalam gambarannya Bening adalah companion girl yang menawarkan jasa plus-plus.

“Saya tanya sekali lagi, Anda dan tamu Anda mau diputarkan lagu apa?” Bening yang menyadari tatapan sinis  itu akhirnya berkata ketus.

Pria muda itu bicara dalam bahasa Jepang dengan tamu asingnya, Bening berdiri menunggu.

       Kono on’nanoko wa anata ga utaitai don’na uta tazune?”

Ikimonogakri, toki wo kakeru shoujo,”

Yell, bengawan solo,“ dua orang Jepang tersebut bergantian menyebutkan lagu yang diminta.

“ Apa lagunya? bisa anda tuliskan ejaannya?"

Pria muda itu menghela nafas kesal sebelum akhirnya mencatatkan lagu-lagu yang diminta pada secarik kertas. 

“ Jingga, tolong dong set lagu yang diminta,“ Bening menyodorkan catatan pria muda itu pada Jingga.

“Tanyakan pada tamu Anda apa mereka mau mencicipi arak Bali?"

“Arak Bali?“ Pria tampan itu seperti kaget dengan minuman yang ditawarkan Jingga.

“Iya arak Bali. Bukankah orang Jepang suka minum arak?" Bening menyahut.

“Tapi arak Bali itu berbeda dengan arak Jepang,“ pria muda itu menatap janggal.

“Karena berbeda itu makanya Saya tawarkan untuk Mereka mencicipi. Itu bentuk nasionalisme Saya mempromosikan minuman asli Indonesia,“ Bening mencari-cari alasan.

Ia tahu pria muda dengan stelan jas di hadapannya ini pastinya bukan orang biasa-biasa saja yang tak mengerti apapun.

Pria mula itu sepertinya mulai sedikit terkesan dengan alasan Bening, Ia akhirnya bicara pada dua tamunya dalam bahasa Jepang tentang arak bali yang tadi ditawarkan Bening. Dua tamu Jepang itu mengangguk setuju.

“Kau boleh ambilkan minuman itu dan meletakkannya di meja,“

Bening tersenyum simpul, Ia segera beranjak meninggalkan ruangan.
Selama Bening tidak ada, Jingga yang melayani permintaan request lagu tamunya. 

Sesekali tamu Jepang itu mengisyaratkan pada Jingga untuk duduk bergabung bersama Mereka. Salah satu dari mereka menepuk-nepuk sofa yang kosong dan melambaikan tangan ke Jingga.

“Anda minta Saya duduk di sebelah Anda?" Jingga yang tak mengerti maksudnya bertanya pada orang Indonesia yang menjamu mereka.

Pria muda itu tersenyum sinis saat mendengar pertanyaan Jingga.

“Kalian pasti senang kalau ada orang asing seperti tamu Saya tertarik pada salah satu dari Kalian”, Pria Indonesia itu mengomentari.

“Apa maksud perkataan Anda?” Jingga yang tak mengerti maksud ucapan Pria Indonesia itu bertanya.

“Gadis–gadis kelas bawah seperti Kalian pasti bermimpi bertemu orang asing untuk dijadikan pacar sehingga bisa merubah garis nasib kalian. Bukan begitu?"

Jingga terkejut, tak mengira pria tampan di hadapannya bisa bicara dengan begitu pedasnya.

“Maaf, Anda salah sangka,“ Jingga mencoba meluruskan.

Dua tamu Jepang yang tak mengerti obrolan mereka terus saja menyanyi.

“Tidak mungkin, tebakan Saya pasti tepat. Bekerja di tempat karaoke seperti ini, sebagai compagnion girl. Apa yang bisa Kalian banggakan? Tidak ada. Kecuali kalau Kalian mendapat pria kaya dari tempat ini,“ Pria muda itu semakin sinis berkomentar.

Jingga merasa dadanya mulai sesak menahan kesal.

“Maaf, Saya permisi dulu,“ Jingga buru-buru keluar ruangan dan mengusap dadanya berulang kali.

Bening yang baru kembali dari mengambil minuman, terheran-heran saat melihat Jingga di koridor.

“Jingga, Lu kok disini?” Bening bertanya.

Jingga mendongakkan kepala, wajahnya terlihat sangat murung. 

“Tamu itu. Tamu itu bilang kelas bawah seperti Kita bekerja disini untuk mencari pria kaya,“ bibir Jingga bergetar saat menceritakan.

Bening geram mendengarnya, Ia menarik nafas dalam-dalam.

“Dari awal sudah bisa ditebak Pria macam apa Dia. Orang kaya sombong yang bersikap seenaknya. Dia harus dapat pelajaran,“ Bening mengumpat kesal.

“Bagaimana caranya?”

“Foto mesra,”

“Rayu tamu Jepang itu agar mengajaknya minum. Kalau Dia mabuk Gue bisa berfoto dengannya. Setelah dapat fotonya, Gue tinggal paksa Dia beli property paling mahal,“ Bening menambahkan.

Mendung di wajah Jingga berangsur menghilang.

“Oke, Gue setuju. Sekarang Kita berdua hadapi Dia bersama!" keduanya kembali masuk ke ruang karaoke.