PROLOG 1.

JODOHKU TETANGGAKU

Prolog (1)

“Sekar ndak mau, Bude!” Aku menggeleng untuk menegaskan jawaban. 

Pakde Amin dan Bude Hanum yang ada di hadapanku senyum-senyum seraya sesekali menatap anak laki-lakinya yang juga duduk tak jauh dari mereka.

Lelaki muda yang kukenal itu membuang muka dengan angkuh. Sementara, di sebelahnya ada Mbak Ratih, kakak perempuan dari lelaki itu. Wanita itu memberi isyarat padaku dengan mencebikkan mulut sembari matanya melirik ke adik semata wayangnya itu. 

Keluarga yang aneh! 

“Lha, Masmu itu kurangnya apa? Wis baik, sholeh, pinter. Masa kamu nggak lihat. Ganteng juga iya,” tambah wanita yang kusapa Bude itu,  sambil mengerling ke Mbak Ratih. 

Duh, mimpi apa aku semalam. Aku tuh datang ke rumah Bude Hanum karena disuruh ibu mengantar kue pagi-pagi. Kok malah kejadiannya kayak gini. 

Seperti biasa, ibu kalau bikin cemilan, pasti dilebihkan. Nanti aku disuruh nganter ke rumah Bude Hanum, tetangga kami yang hanya berjarak beberapa rumah. 

Ibu dan Bude Hanum sangat dekat karena dulu dari kecil sampe SMA sekolah bareng meskipun beda tingkat satu tahun. 

Tak heran jika anak Bude Hanum dan ibuku juga usianya tidak terpaut jauh. Mbak Ratih, kakaknya Mas Gilang, dan Mas Aji, kakakku, juga selisih setahun. Begitu juga aku dan Mas Gilang.

Aku dan Mas Gilang memang selalu satu sekolah sejak SD sampai SMA. Namun bukannya dekat, malah dia menganggapku musuh bebuyutan. 

Mungkin karena Bude Hanum sering menyuruh Mas Gilang jagain aku sewaktu di sekolah.

“Ngapain sih, Ma. Sudah gede pake suruh dijagain,” begitu selalu jawaban Mas Gilang sambil bersungut-sungut. 

Jaman aku masih SMA, kami sama-sama aktif di kegiatan OSIS. Kalau ada acara sampai malam, pasti terjadi drama. 

Bagaimana tidak, Mas Galang selalu ngloyor pulang begitu aja tanpa menungguku. Padahal angkutan umum sudah ngga ada kalau malam. 

Terpaksa, Dewi, sahabatku yang naik motor akan mengantarku sampai rumah. Biasanya anak-anak OSIS yang pulang setelahku akan berkomentar pedas terhadap Mas Galang. Dan tentu saja, aku bakal kena imbas juga. 

“Makanya, nggak usah gaya-gaya ikutan OSIS, kalau pulang aja masih ngrepotin orang,” gerutunya. 

Aku hanya mencebik. Dasar dianya saja yang ogah pulang bareng. 

“Sorry lah, aku boncengin kamu. Nggak akan ada cewek yang boleh bonceng aku kecuali istriku!” 

Begitulah Mas Galang dengan keangkuhannya dulu. Meskipun dengan paksaan Bude, sering juga aku dipaksa bonceng dia ke sekolah. Tapi, sepanjang jalan 12 km dia diam seribu bahasa. Nyebelin. Mendingan aku naik angkutan umum!

Untungnya, saat kuliah, kami kuliah di kampus yang berbeda. Mas Gilang yang suka teknik memilih kuliah di Bandung. Sedangkan, aku kuliah dekat-dekat sini saja yang bisa setiap weekend pulang. 

Sejak kuliah, aku sudah jarang ketemu Mas Gilang. Paling banter hanya lebaran saja. 

Aku pikir, dengan jarangnya ketemu, dia sudah tidak jutek lagi. makin dewasa lah minimal. 

Tapi, ternyata harapanku pupus. Bahkan kini, sudah bekerja pun dia tetap saja jutek! 

Pantesan nggak kawin-kawin, nggak punya pacar juga. Ih, mana ada gadis yang mau sama dia! Ganteng sih iya, tapi emang bisa kita hidup modal ganteng doang? 

“Sekar pulang ah, Bude!” pamitku kemudian. Males banget berlama-lama di sini dengan serangan membabi buta dan ekspresi mereka yang mengintimidasi tanpa bisa kulawan. 

“Yo wis sana pulang. Besok Pakde sama Bude tak ke rumah kamu. Nganter Mas Gilang,” kata Bude Hanum datar. 

“Lhah? Ngapain nganter Mas Gilang?” tanyaku sembari menghentikan langkah yang sudah mencapai pintu, dan berbalik menatap Bude.

“Ya ngelamar kamu. Ngapain lagi. Ya kan, Pak?” kata Bude Hanum sambil mengerling ke Pakde Amin, lalu melirik ke Mas Gilang. 

Pria yang dilirik Bude pun diam aja. Bahkan hanya memainkan ponselnya dan sesekali menunjukkan muka masamnya. Uasyeeemmm!

“Pamit Bude, Pakde!” kataku sambil bergegas keluar rumah. 

Hufff! Rupanya candaan Bude Hanum sama Mbak Ratih kala itu bukan hanya candaan. 

Dulu, tiap ke rumah Bude Hanum, memang aku sering lama disitu. Ngobrol ngalor ngidul sama Bude Hanum dan Mbak Ratih. Mereka sering bilang anak mantu dan adik ipar. Tapi aku nggak terlalu peduli. Itu kan jaman masih ABG labil. Dan nggak kepikiran kalau mereka ada udang di balik bakwan. 

Aku mempercepat langkah kembali ke rumah. Tiba-tiba langkahku terhenti. Kok, ada mobilnya Paklik Hanif dan Pakde Marwan di halaman rumah? Tumben-tumbenan kompak banget ke rumah bukan saat lebaran. 

Perlahan aku masuk ke rumah melewati pintu samping. Di dapur terlihat banyak kantung berisi bahan makanan. Ada apa ini? Kok ibuk sama bapak nggak bilang apa-apa. 

BERSAMBUNG....