Miris
Akibat Nikmat Sesaat

Part 2 : Miris

Bayangan akan penderitaan Diyya masih saja berkelebat di kepalaku. Entah kenapa, aku terus memikirkannya. Padahal ini bukan kali pertama ada siswa dikeluarkan dari sekolah karena ketahuan hamil.

Kasus Diyya berbeda, dia hamil tanpa diketahui siapa ayahnya. Setahun yang lalu juga ada siswa kelas IX yang ketahuan hamil, tapi langsung dinikahkan sebab dia melakukan perbuatan haram itu bersama pacarnya yang beda sekolah. Lalu ada kasus juga beberapa tahun silam, dia hamil sama suami orang dan dinikahi tapi jadi istri kedua.

Lamunanku buyar kala melihat Mas Bilal memasuki kamar. Buru-buru kuhapus air mata yang ternyata sudah menggenang tanpa sadar.

"Ada apa, Dek?" tanya Mas Bilal sambil membuka kemejanya.

"Gak ada apa-apa. Mas udah makan belum? Biar Adek siapkan makanan," jawabku sambil beranjak dari tempat tidur.

"Gak usah, Mas udah makan di luar."

"Oh, ya sudah." Aku kembali duduk di tempat tidur.

Setelah berganti pakaian, Mas Bilal berbaring di sampingku. Lalu kceritakan masalah Sandiyya kepadanya dan seperti biasa tanggapan pria suka memelihara kumis dan jambang itu selalu datar.

"Ya sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo, tidur!" ucapnya sembari memelukku.

********

Diantara tidur dan terjaga, terdengar suara ketukan pintu. Kubuka mata dan memindahkan tangan Mas Bilal dengan hati-hati, agar ia tak terbangun. Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu kamar.

"Bu Endang, hiks .... " Terdengar suara isakan pelan dari depan pintu.

Kusibak tirai jendela, tampaklah Sandiyya di luar sana dengan daster selutut. Wajahnya pucat sambil memegangi perut. Segera kubuka pintu.

"Sandiyya ... kamu kenapa, Nak?" tanyaku sembari membawanya masuk.

"Maaf, Bu, Diyya ganggu malam-malam begini, soalnya gak tahu lagi harus ke mana .... " ujarnya sembari menangis dengan tubuh gemetar.

Kulirik jam di dinding yang sudah  menunjukkan pukul 01.17, segera kututup pintu dan mengajaknya duduk di sofa ruang tamu.

"Apa yang terjadi?" tanyaku dengan perihatin melihat anak seusia dia berkeliaran malam-malam begini, dengan pakaian tipis dan tanpa alas kaki pula.

"Ibuk ngamuk, Bu. Dia ... mau membunuh Diyya .... " jawab anak belia itu di tengah isak tangisnya.

"Ya allah .... " Kudekap Sandiyya dengan air mata yang tak tertahan lagi.

Kenapa ada orangtua yang seperti itu? Anaknya sudah tertimpa masalah begini, bukannya diberi support tapi malah disiksa dan mau dibunuh. Memangnya masalah akan selesai dengan membunuh gadis kecil ini? Tidak, itu hanya akan menambah permasalahan dengan terjadinya kasus krimimal.

"Kenapa Ibumu mau melakukan itu, Diyya?" tanyaku pelan sambil membenarkan rambutnya yang berantakan.

"Diyya gak mau bilang ayah dari anak ini, Bu. Ibuk marah dan hampir saja mau menggorok leher saya." Sandiyya menangis sesegukkan.

Kusibak rambut panjang gadis itu, darah segar mengalir dari bagian leher sebelah kiri.
Astaga, aku segera berlari mengambil kotak obat dan langsung mengobati luka goresan senjata tajam itu.

"Dek .... " panggil Mas Bilal sembari membuka pintu kamar.

Sandiyya langsung ketakutan melihat suamiku yang berjalan mendekat ke arah kami. Mas Bilal memang terlihat menyeramkan bagi orang yang baru pertama kali melihatnya. Tubuhnya tinggi berisi dengan kulit hitam, dan rambut ikal yang dipotong tipis.

"Jangan takut, dia suami Ibu," ujarku melihat Sandiyya yang tiba-tiba bersembunyi di belakangku.

Sandiyya menutup wajahnya dengan tubuh gemetar, ia duduk meringguk di sofa.

"Dia siapa, Dek?" tanya Mas Bilal.

Melihat Sandiyya yang ketakutan, segera kuhampiri Mas Bilal dan menariknya masuk ke kamar. Kuceritakan permasalahan mantan anak didikku itu kepadanya dan memohon izin agar anak itu boleh menginap di sini.

"Dek, jangan terlalu ikut campur dengan urusan orang lain!" Mas Bilal menatapku tajam.

"Kasian, Mas. Sandiyya murid Endang, izinkan dia menginap di sini, ya!" bujukku pada pria bertubuh tegap itu.

"Terserah kamu saja! Ingat, jangan terlalu ikut campur! Mas gak mau kamu sampai stres hanya karena memikirkan permasalahan orang lain," jawabnya sambil menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.

Aku menelan ludah, Mas Bilal memang begitu, jiwa sosialnya memang kurang. Ia terlalu cuek dan tidak perduli dengan urusan orang lain. Ya sudah, yang terpenting dia sudah memberi izin walau terlihat tidak ikhlas.

Segera kuhampiri Sandiyya yang masih duduk meringkuk.

"Diyya, jangan duduk seperti ini! Kasian bayimu. Malam ini kamu tidur di rumah Bu Endang saja. Ayo, Ibu antar ke kamar." Kupapah tubuhnya masuk ke kamar tamu yang sudah kussiapkan.

Setelah menyelimuti gadis malang itu dan menyuruhnya tidur, aku keluar dari kamar dengan hati yang pilu. Hatiku semakin teriris dengan masalah yang dihadapi Sandiyya. Nasibnya semakin miris, ibunya juga tidak mau mengerti dengan keadaan anaknya. Aku harus bagaimana? Semalaman mata ini enggan terpejam, otakku terus berkelana mencari solusi untuk masalah yang dihadapi Diyya.

bersambung ....

***

Jangan lupa tinggalkan jejakmu, gaes

Subscribe, love dan komentar

Ada hadiah 50 koin emas untuk 3 orang yang rajin komentar dari Part 1 - 10

Happy reading 🤗🤗🤗