Pertemuan Kembali

Mawar Hitam 10

Ada dua orang di rumah Sugeng kala itu ketika Areez datang dengan wajah murung. Santo, pria sembilan belas tahun dengan telinga ditindik dan Sugeng sendiri yang kumisnya semakin lebat di umur 20 tahun. Kamar Sugeng jauh dari kata rapi. Botol-botol minuman tergeletak bahkan minumannya tumpah ke lantai dan dibiarkan begitu saja. Bungkus rokok ditumpuk di sudut kamar. Asbak rokok di atas meja terbalik, menumpahkan isinya yang tertiup angin dan melayang-layang. Teman-teman Sugeng biasa bebas memasuki kamar itu seperti milik mereka.

Asap rokok mengepul dan dua lekaki itu sedang berbicara tentang pemuda gang sebelah yang mulai membuat ulah. Areez tiba-tiba masuk dan duduk di kursi kayu tanpa sandaran. Dua tangannya langsung mengusap rambut belah duanya itu.

"Ono opo, Reez?" Sugeng menanyakan keadaan keadaan temannya itu.

Areez hanya menjawab dengan gelengan kepala. 

"Gara-gara cewekmu itu?"

"Halah, gara-gara cewek aja bingung tho, Reez!" ledek Santo.

"Hari ini mangkal, gak?" lanjut Sugeng.

Areez bergeming.

"Reez?"

Brak! Areez menendang kursi yang tadi ia duduki dan berjalan keluar.

"Apa maksudmu, Reez?" Sugeng mendekat, merasa terhina dengan sikap temannya itu. "Kamu mau lawan aku?"

"Geng, udah, udah. Mungkin dia lagi kesal aja." Santo berusaha menghalangi Sugeng dengan menghambat langkahnya.

"Minggir, To, dia udah ... ini pasti gara-gara Lont* itu! Sejak pacaran sama ja*ang itu Areez mulai berani sama aku."

Arez yang mendengar Sugeng menghina Ratu langsung menoleh dengan tatapan geram. Areez pun mendekat.

"Reez, udah, udaaah!" Santo berusaha melerai.

"Kalo kamu berkata seperti itu lagi, mati kamu, Geng." Kata-kata Areez mengejutkan Sugeng, dan membuat amarahnya memuncak.

Tak berselang lama, Ibu Sugeng pulang dan membuat Areez menahan amarahnya. Tak mungkin ia berkelahi dengan Sugeng dilihat ibunya. Areez mengalah dan melangkah pergi dari rumah itu.

"Lari sana!" pekik Sugeng, dan Santo tetap berusaha melerai mereka.

***

Sekian hari tanpa bertemu Areez, Ratu lebih banyak menghabiskan waktu dengan tanaman bonsai kakeknya ketimbang keluar dari rumah. Aktivitas sore yang biasanya ia habiskan bersama Lika, Ani dan Wati, kini berganti dengan menyiram tanaman. Ia juga menyukai melipat-lipat kertas dan membuat berbagai macam bentuk. 

Saban hari ketika menyiram tanaman, Ratu kerap melihat ke arah gapura dan membayangkan pertemuannya dengan Areez disana. Ia ingat ketika Areez mengantarnya pertama kali, lalu pertemuannya terakhir kali disana pula.

Matahari entah berapa kali berlalu lalang di angkasa. Sekian bulan berlalu sejak Areez dan Ratu memutuskan untuk tak saling berjumpa. Di hati Ratu, ada keinginan untuk menemui lelaki itu tapi selalu ia urungkan. Ia berharap takdir lah yang mempertemukan mereka kelak, bukan kesengajaan.

Hingga kemudian Ratu berada di ujung masa sekolah serta hendak melanjutkan studi di perkuliahan. Ia memilih Universitas Negeri Solo sebagai tempatnya kuliah. Ia pun mengontrak sebuah kamar di kota Solo. Ibu kos bernama Bu Dewi cukup baik padanya, ramah, selalu mengajaknya bicara banyak hal ketika bertemu. 

Seperti di pagi itu ketika Ratu hendak berangkat kuliah dan itu adalah Ospek hari pertama. Bu Dewi menahan langkahnya ketika ia mulai membicarakan sinetron yang ditontonnya semalam. Sampai Ratu terlambat berangkat.

Ketika Bu Dewi puas dengan ceritanya, Ratu baru keluar dari kos. Jam di lengan kirinya menunjukkan pukul 7.00. Padahal ia sudah harus sampai jam 7 itu. Ia bergegas setengah berlari menuju kampus.

Terlambat! Panitia Ospek bisa marah besar dan ia bisa dihukum. Sehari sebelumnya ia sudah dipeingatkan ketika briefing, agar datang tepat waktu. Kalau tidak akan ada hukuman keras yang ia dapat. Semakin terlambat semakin keras pula hukumannya.

Dengan membawa bingkisan dan tas ransel, Ratu berlari kecil di trotoar. Bingkisan berisi makanan dan minuman itu berguncang ketika ia bawa lari. Beberapa kertas origami berbentuk perahu dan bunga jatuh dari tasnya yang lupa ia kancingkan ketika itu.

Brak! Ratu menabrak punggung seseorang yang berjalan searah dengannya, dan juga tampak buru-buru.

Bingkisan Ratu terjatuh dan beberapa botol minuman tergeletak. 

"Maaf, saya buru-buru tadi." Ratu berusaha mengambil botol minumannya yang berserakan.

"Saya juga salah. Maaf juga." Lelaki itu membantu Ratu mengambil botol minuman.

"Makasih. Mau ke kampus juga?"

Lelaki itu mengangguk. "Sampai ketemu, aku duluan."

Ratu kini yang mengangguk. Ketika lelaki itu berlalu, Ratu menepuk-nepuk tangannya untuk membersihkan debu karena mengambil minuman botol dari atas trotoar.

Tiba-tiba seorang lelaki menyapa, suara yang ia kenal. Suara yang lama tak didengarnya. Suara yang ia begitu rindukan.

"Tadi siapa?" Suara itu berasal dari belakang. Ia ragu untuk menoleh. Lebih tepatnya takut kalau yang ia lihat bukanlah yang ia harapkan.

"Aku tanya kamu, tadi itu siapa."

Ratu menoleh. Areez!

"Mas Areez?" 

Seorang lelaki berdiri dengan pakaian putih abu-abu. Tampaknya Areez melanjutkan sekolahnya.

"Ayo aku antar." Areez menunjuk vespa putih milik kakaknya itu.

"Tapi, kamu ...."

Tangan Areez menyambar tangan Ratu dan membawanya naik ke motor, lalu Areez menjalankan motor itu menuju kampus Ratu.

"Kamu nanti terlambat, kalau jalan kaki bisa lima belas menit lebih. Kalau pakai motor tiga menit sampai."

"Kamu sekolah lagi, Mas Areez?" 

"Ya. SMK Perhotelan."

Ratu tersenyum. Tampak lesung pipit di pipinya yang ranum.

"Kamu tinggal di kos, Ra?"

"Iya." 

"Sekarang aku bisa antar jemput kamu dengan lebih bebas."

Percakapan itu harus terputus ketika motor sampai di lokasi Ospek. 

"Nanti aku jemput kamu, Ra. Kamu pulang sore, 'kan?"

"Iya."

"Aku berangkat dulu."

"Mas Areez, tunggu."

"Iya?"

"Makasih udah dengarkan permintaanku untuk sekolah lagi."

Areez hanya mengangguk pelan, sebelum menggeber vespanya menjauhi Ratu. Percakapan itu seperti terlalu singkat. Setelah sekian lama mereka tak bersua, dan ada sebuncah rindu yang bergelora, mereka hanya dipertemukan dalam tiga menit perjalanan. 

Oiya, terlambat! Batin Ratu yang memandangu Areez menjauh dan menghilang di tikungan sana.

Ratu berlari ke tempat Ospek. Semua mahasiswa baru sudah berbaris rapi di lapangan. Ada dua orang terlambat. Pertama Ratu, kedua, lelaki yang tadi bertabrakan dengannya.

Ratu dan lelaki itu dihukum hormat ke matahari. 

"Kamu yang tadi 'kan?" Lelaki berambut lurus dengan belah terngah itu menyapa.

"Ya. Akhirnya kita telat sama-sama."

"Aku, Ray." Ia mengulurkan tangan.

"Ratu." Mereka berjabatan sejenak lalu hormat kembali pada matahari.

***

Motor vespa putih itu sudah terparkir mantap, dan Areez terbaring menghadap langit di atasnya, sambil meletakkan daun di mulut. Azan ashar berkumandang tapi Ratu belum juga selesai dari acara Ospek. Areez menyempatkan shalat ashar di mushalla kampus sambil menunggu Ratu keluar. 

Usai shalat, Areez kembali memarkirkan motor dan berbaring di atasnya.

"Mas Areez!" panggil seorang wanita berlari kecil ke arahnya. Siapa lagi kalau bukan Ratu. "Ini." Ratu menyodorkannya minuman Saparilla kepada Areez. Lelaki itu menerima, membuka tutup botolnya dengan gigi kerasnya lalu meminumnya.

"Udah lama?" tanya Ratu.

"Udah ketiduran tiga kali."

"Ah, siapa suruh datang cepet banget."

Ketika mereka bercakap-cakap. Seorang lelaki mendekat. Lelaki itu Ray.

"Ra, kamu pulang bareng dia?" tanya Ray menatap pada Areez dengan agak merendahkan. Mungkin karena Areez masih mengenakan seragam sekolah.

"Iya, Ray."

"Dia adik kamu?"

"Bukan. Dia ...."

"Aku pacarnya." Areez sontak menjawab. "Ayo, Ra. Kita pulang."

"Tunggu!" Ray menahan.

Makasih udah baca. Komen dam share ya.


Komentar

Login untuk melihat komentar!