Ayah

Manusia ini apa? Hanya seonggok daging yang diberi nyawa, mau apa? Sombong pun percuma karena jarak antara hidup dan mati itu begitu dekat. 

Aku memijit kening yang sejak tadi begitu berdenyut, rasanya seperti ada yang menusuk dan siap pecah. Kak Ratih tengah mengurus administrasi rumah sakit sementara aku masih di sini, menunggu hingga Haniku sadar. 

“Anak ibu pingsan di lapangan sekolah, mungkin kelelahan, sudah kami beri pertolongan pertama namun tak kunjung sadar.” Penjelasan wali kelas Hani. “Maka kami berinisiatif membawanya ke rumah sakit agar segera bisa ditangani.” 

Berkali aku berterima kasih kala itu serta memohon maaf karena merepotkan. Hani adalah separuh hidupku, titipan-Nya yang berarti nyawa bagiku. Melihatnya terbaring, belum sadarkan diri seperti ini, entahlah rasanya diri ini begitu tak berarti, seandainya bisa… biar aku saja yang menderita. 

Pintu kamar dimana Hani dirawat terbuka, aku menoleh, kukira Kak Ratih atau perawat, ternyata… dia…

“Kita bicara di luar dahulu,” ucap Mas Hendra dingin. Wajahnya terlihat kusut dan tak bersemangat. 

Aku mengangguk dan mengikutinya ke luar. 

“Kenapa Hani?” tanyanya sambil mendecak kesal. 

“Pingsan,” jawabku singkat. Kalau dia berkeberatan menjenguk putrinya, mengapa pula mesti datang, toh tak ada yang meminta. 

“Pingsan biasa, kan?” tanyanya lagi. 

Aku mengangkat bahu. “Semoga saja, dokter belum memberi keterangan.” 

Mas Hendra menghela napas panjang. “Sa…” panggilnya. 

“Ya.”

“Pernikahan itu tentang kita saja, kan, aku kira kau mengerti akan hal itu.” 

Aku menatap Mas Hendra belum paham sepenuhnya tentang apa yang ia maksud. 

“Kenapa kau harus menyuruh Kak Ratih marah-marah datang menemui aku dan Harum dan mengatakan jika aku tak bertanggung jawab membiarkan Hani sakit.” Mas Hendra berkata pelan. “Kita memang belum resmi bercerai, Sa, tapi setidaknya hargailah aku, ini adalah hari pernikahan aku dan Harum. Apa perlu sampai ribut-ribut begini?” 

Aku tersenyum walau ada yang semakin nyeri di hati. “Mas, aku gak pernah meminta Kak Ratih untuk menemuimu, aku juga tak akan pernah mengusik hidupmu lagi. Kita tak ada hubungan apa-apa, hanya tinggal menunggu selembar surat dari pengadilan saja dan semua selesai.” 

“Lalu apa maksud Kak Ratih tadi menemuiku.” 

“Tanyakan saja pada Kak Ratih, aku tak ada hubungannya dengan ini semua.” Ah ini rupanya alasan kenapa Kak Ratih belum kembali lagi sejak pergi mengurus administrasi rumah sakit. 

Mas Hendra menghela napas lagi. “Ya sudah, kalau begitu berapa biaya rumah sakit? Kebetulan aku bawa uang cash.” 

“Gak perlu, Mas, aku gak minta dan gak butuh uangmu. Sudahlah, aku malas melihatmu.”

“Hani anakku juga, setidaknya aku harus bertanggung jawab." 

“Terserah, Mas, aku capek, mau ke dalam dulu.” 

Mas Hendra menarik tanganku. “Sa…”

“Maaf, Mas, aku gak mau disentuh oleh laki-laki yang sudah jadi suami orang. Kelasku berbeda dengan istrimu yang bisa disentuh sebelum dihalalkan.” Aku menepis tangannya. 

"Sa... Please jangan kayak ini. " 

"Tapi itu benar, kan? " tanyaku. 

“Ya sudah, kau hubungi saja aku jika ada yang diperlukan. Tak usah melalui Kak Ratih, kita ngobrol berdua saja.”

Aku kembali tersenyum. “Maaf juga, Mas, aku gak biasa menelpon suami orang. Mungkin kalau ada apa-apa biar Hani yang menghubungimu saja.”

Mas Hendra mengangguk. “Iya,” jawabnya pelan. Laki-laki ini, masih sama, tak pernah mau memperpanjang masalah. 

“Aku masuk,” sahutku cepat.

***

Hani tersenyum ketika pertama kali membuka netra dan melihatku tengah mengenggam jemarinya. Aku membelai halus rambutnya dan mengecup lama keningnya. “Sudah sadar, Nak?” bisikku. 

Putriku ini tersenyum. 

“Jangan banyak pikiran, Hani mesti kuat ya, cepat sehat biar bisa sekolah lagi.” 

Hani kembali mengangguk. 

“Nanti kita liburan mau? Kita pergi ke pantai atau Hani mau kemana?” 

“Gak mau, Bu. Hani gak mau…” Hani mulai terisak. 

“Hani mau apa?” Aku kembali membelai rambutnya. 

“Hani mau kita pergi saja.” 

“Pergi kemana, Nak?” 

“Hani mau kita pindah saja. Hani mau pindah rumah dan sekolah.” 

“Kenapa, Sayang? Bukannya rumah kita nyaman? Di sekolah juga Hani punya banyak teman kan?” 

Hani mengangguk. “Iya, tapi teman-teman sudah tahu kalau ayah selingkuh. Waktu di rumah sakit itu teman-teman banyak yang lihat. Hani malu, Bu… malu.” 

“Apa kita pindah sekolah saja, gak usah pindah rumah ya, Nak.” 

Hani menggeleng cepat. “Hani selalu keingat ayah, Bu kalau di rumah itu. Kalau ke dapur Hani keingat mi goreng buatan ayah, kalau di kamar Hani ingat kalau warna dinding kamar adalah pilihan ayah, ke ruang tamu, ke teras, ke setiap sudut rumah selalu keingat ayah. Hani sedih, Bu.” Isak Haniku kembali menjadi. “Hani sayang ayah, Bu… tapi kenapa ayah jahat ke Hani dan ninggalin kita. Hani salah apa?” 

“Hani gak salah, Sayang. Ayah juga tetap sayang Hani, hanya ibu dan ayah saja yang berpisah, sampai kapan juga kamu adalah putri kesayangan ayah.”

Hani menggeleng cepat. “Gak, Bu… nanti ketika ayah punya anak lagi dari wanita itu, pasti ayah gak ingat Hani lagi.” 

“Gak Sayang, ayah akan tetap sayang Hani.” 

“Bu, Hani mohon… Kita pindah ya… Hani gak mau di kota ini lagi. Kita pergi ya, Bu.” 

Aku mengangguk dan mencoba tersenyum. Pindah? Bukan sesuatu yang mudah, mencari tempat baru pun  tak segampang mengucapkannya, tapi… kini aku hidup untuk Hani, jika ia tak nyaman lalu apa gunanya bertahan? “Ibu akan mulai mengurusnya, kita akan pindah, Nak. Hani yang sabar ya.” 

“Janji, Bu?” Hani menatapku lekat. 

Aku mengangguk. “Janji, tapi Hani mesti sehat dulu ya. Kata dokter Hani terlalu lelah, gak boleh juga jajan dulu.”

“Janji, Bu, Hani akan sehat, gak akan nyusahin ibu lagi.” 

“Hani gak pernah nyusahin ibu kok, pokonya apapun masalahnya, Hani harus cerita ya, Sayang.” 

Haniku mengangguk dengan netra yang lebih bercahaya. 

Bagi seorang wanita, ayah adalah cinta pertamanya, seorang ksatria yang selalu siap membelanya. Mas Hendra adalah pahlawan bagi Haniku, ia yang dengan riang mengantar putrinya ke sekolah, mendengar celoteh manja Hani hingga berbagi rahasia hanya berdua saja. Dan ketika wanita lain mematahkan sayap kepercayaan Hani, membawa pergi laki-laki kesayangannya itu maka saat yang sama Haniku terpuruk. Ia seolah kehilangan arah, pegangan dan tempat sekedar berkeluh kesah. Ayah yang selama ini menjadi idolanya kini berbalik menancapkan luka di hatinya. 

Aku memang terluka, karena Mas Hendra adalah kekasih hatiku, ini bahkan terlalu tiba-tiba sebab hingga akhirnya perselingkuhan itu terbongkar ia tetap hangat seperti biasa. Lukaku akan sembuh, dan mungkin aku akan segera melupakannya namun bagaimana dengan Hani? Sakit itu pasti begitu menyiksa karena kutahu ia begitu mencintai ayahnya. 

***

Hani

Dua minggu setelah aku keluar dari rumah sakit, ibu masih tetap sama seperti biasa. Walau kutahu kadang netranya berkaca tapi ia selalu mencoba ceria dan tertawa. Menutupi luka demi menyenangkan aku. 

Ayah adalah panutanku, laki-laki yang selalu kubanggakan pada siapapun, pahlawan yang siap membelaku kapan saja. Aku ingat ketika kecil pulang sekolah dalam keadaan menangis, ayah langsung pergi ke sekolah dan menemui wali kelasku. Bertanya siapa yang mengangguku dan sejak itu ia layaknya satpam yang selalu siap mengantar dan menjemputku. Ayah juga akan hadir di barisan terdepan ketika namaku disebut sebagai juara, senyumnya mengembang dengan tepuk tangan yang sangat kencang. Ayah akan berkali mengatakan bangga menjadi ayahku dan aku suka rasa itu. 

Ayahku, laki-laki yang kukira hanya akan menjadi milikku dan ibu saja, seseorang yang kurasa akan setia selamanya dan akhirnya waktu juga lah yang merubahnya. Ayah berpaling dan memutuskan untuk pergi menikahi wanita itu. Wanita muda, cantik dan tentunya sangat menarik. Ah, mungkin ayah lupa di masa mudanya, ibu bahkan berkali lebih cantik dari wanita itu. 

“Benar kan, Han, kalau ayahmu dan wanita itu ada hubungan?” tanya seorang temanku hari itu. 

Aku hanya bergeming. Mau bilang apa? Bahkan lisan ini tak pernah tega menjelek-jelekkan ayah, aku terlalu mencintainya. 

“Itu selingkuhannya ya?” Temanku yang lain bertanya. 

“Masih muda ya? Cantik pula, kasihan ibumu.” 

“Kamu gak malu, Han, ayahmu kayak gitu? Omongin dong, kasihan ibumu.” 

“Mereka ke rumah sakit ngapain? Kulihat ke bagian kandungan. Wanita itu hamil ya?”

“Emang ayahmu sudah nikah dengan wanita itu?”

“Mereka mesra banget, aku sempat foto waktu ayahmu memeluknya di ruang tunggu.” 

Kalimat-kalimat itu, aku tak tahu apakah bentuk dari rasa peduli ataukah sebuah sindiran, yang pasti hati ini begitu sakit… sangat sakit hingga rasanya ingin tenggelam saja atau mati sekalian. Aku malu… sangat malu. 

Hari ini aku melihat ibu menangis di kamar, di atas tempat tidur sambil menatap sebuah map yang diserahkan oleh pengacara ayah. Surat cerai. Ah… ibuku resmi menjadi janda kini dan aku selamanya akan disebut sebagai anak korban broken home. Julukan itu akan selamanya melekat sampai kapanpun. 

Aku berpamitan pada ibu, alasanku adalah ingin kumpul dengan teman sebelum hari perpisahan aku pindah sekolah. Ibu tentu mengizinkan bahkan sempat menawarkan diri untuk mengantarku dan tentunya kutolak halus. Ini adalah soal aku saja, ibu tak perlu tahu apa yang akan aku lakukan. 

Aku berdiri di sebuah rumah kecil dengan halaman luas yang asri. Ada bunga mawar, melati bahkan anggrek menghiasi perkarangan rumah ini. Sungguh cantik dan kupastikan pemiliknya pastilah orang yang rajin dan berselera tinggi. 

Aku menekan bel bersamaan dengan mengucapkan salam. Ini adalah sore hari, seharusnya penghuni rumah ini pasti sedang berada di rumah. 

Seorang wanita tua yang mengenakan jilbab coklat susu langsung menyapaku dengan senyum yang ramah. 

“Cari siapa, Nak?” tanyanya. 

“Maaf mau tanya, Bu, benarkah jika Bu Harum dan Pak Hendra tinggal di sini?” Aku tersenyum. 

Ibu itu mengangguk. “Iya, benar, saya ibunya Harum. Ada apa?”

“Apa mereka ada?” tanyaku lagi. 

“Ada, Nak. Mau ketemu?”

“Iya, sekalian mau ketemu dengan ibu juga. Ada perlu penting,” ucapku ramah. 

Ibu itu tersenyum walau kutahu pastilah ia bertanya-tanya soal siapakah aku. 

“Boleh, Nak, ayo masuk,” ucapnya sambil mempersilahkan aku masuk ke ruang tamunya yang tak kalah rapi. 

Aku langsung duduk di kursi tamu langsung menghadap ke ruang tengah, dari sini aku bisa memastikan jika rumah ini adalah hunian yang nyaman dan sangat bersih. Wajar saja jika ayah betah, apalagi jika dilayani oleh istrinya yang muda. 

Aku semakin melebarkan senyumku ketika melihat wajah terkejut ayah dan istrinya ketika melihat kedatanganku, keduanya saling pandang sebelum akhirnya mencoba untuk senyum walau kutahu itu terpaksa. 

Bersambung….

Komentar

Login untuk melihat komentar!