Ada Apa Hati ini?
Sebenarnya Harum tidak ingin bersikap seperti ini, terlebih ketika dia teringat Pakde Hartono sudah tiada, Papa ikut andil menyebabkan laki-laki baya itu pergi begitu cepat. Meski kecelakaan itu bukan salah Papa, tapi Pakde Hartono tiada karena sedang mengantar Papa. Harusnya dia lebih menjaga Raka, buka justru sewena-wena.

Apakah dirinya semena-mena?

Harum memejamkan matanya, seraya merebahkan tubuhnya ke tempat tidur. Enam bulan sudah Raka bekerja sebagai supir pribadinya, selama itu tidak ada sikap Harum yang ramah padanya. Bahkan cenderung terlalu cerewet, terlalu banyak mau, dan terlalu merendahkan. Padahal dia dulu begitu menghargai Ayah Raka, sampai pernah dikira alm Pakde Hartono adalah Omnya.

Kesadaran akan sikapnya yang keterlaluan ini diawali ketika dia mendengar obrolan Siah dan Raka di belakang kemarin pagi. Saat dia akan meminta Siah mengambilkan sepatu kerjanya. Ternyata Siah sedang di belakang memasukkan pakaian kotor  ke dalam mesin cuci, sementara Raka tengah minum kopi dan menikmati sarapannya.

Tadinya Harum akan berlalu, dan mengambil sendiri sepatunya. Karena dia paling kesal kalau melihat Raka, terutama saat tampak akrab dengan Siah. Entah kenapa rasanya jijik.

Astagfirullahaladzim, Harum menggit bibirnya kesal. Kenapa dia merasakan hal tidak pantas itu. Apa salah Raka, bahkan laki-laki itu sampai bingung dengan sikapnya.

"Kenapa ya, Mba Harum itu sepertinya tidak suka denganku, Si?"

"Sabar, Mas, mungkin Mba Harum banyak kerjaan jadi uring-uringan. Aslinya baik banget kok, dulu Bapakmu sudah dianggap seperti Pakdenya sendiri loh."

"Serius, Si? Alhamdulillah, kalau begitu. Kupikir Mba Harum dulu zholim ke Bapak, sampai kadang aku sedih kalau ingat alm Bapak..."
...
Obrolan itu yang menohok hati Harum. Jadi rupanya selama ini Raka sudah merasa ia zholim, sampai laki-laki.itu mengira semasa hidup Ayahnya diperlakukan Harum tidak layak.

Ya Tuhan, ingin rasanya Harum menjelaskan pada Raka kalau ia tidak pernah sedikit pun berlaku tidak sopan pada Pakde Hartono, bahkan kepergian Ayah Raka itu sedah membuat Harum berduka. Tapi bagaimana cara menjelaskannya?

Harum bukan tidak memiliki kata-kata, dia biasa menyusun kata-kata, dalam pekerjaannya. Banyak klien deal karena kepandaian Harum dalam menyusun kata-kata.

Tapi entah dengan Raka, ia tidak bisa mengutarakan isi hatinya. Padahal ia hanya ingin bilang, maaf kalau selama ini sudah bertindak tidak baik pada Raka. Dulu semasa alm Pakde Hartono ada, Harum sangat santun padanya.

Harum ingat tadi pagi setelah secara tidak sengaja mendengar obrolan Siah dan Raka kemarin itu, sepanjang jalan ke kantor ia diam saja. Rasanya dirinya sampai takut bersikap keliru, dan menyebabkan Raka merasa dizholimi. 

Dan, dirinya hampir keceplosan marah ketika melihat ada sekantung gorengan di mobil saat Raka menjemput tadi.

"Itu gorengan siapa?"

"Oh, tadi saya beli buat Siah, Mba. Dia kan rajin suka membuatkan saya kopi, sesekali saya membelikan kesukaannya," kata Raka.

Harum melihat dari kaca spion ada ekspresi malu di wajah laki-laki itu, menyebabkan rasa emosinya muncul. Ia tidak suka ada aroma gorengan di dalam mobilnya. Tapi karena mengingat obrolan Raka dan Siah kemarin pagi,  ia tahan perasaan tidak suka itu.

Tapi kenapa dirinya harus merasa tidak suka?