Terbayang Wajahnya
Tapi memang Harum cantik. Awal melihat putri bossnya itu Raka cukup terkesima, wajah Harum seperti lukisan yang sempurna sekali. Bentuk wajahnya bagai daun sirih, dagunya runcing, bibirnya tipis, hidungnya mancung, dan matanya bulat. Rambutnya ikal dicat warna tembaga.

Ketika hari pertama mengantar wanita itu ke kantor, Raka sampai terperangah melihat penampilan Harum. Mengenakan blouse bunga-bunga warna pink, rok selutut yang menampakkan sepasang kaki jenjang. Raka nyaris tidak fokus karena terkagum-kagum, maka dia berusaha fokus dengan mengerjakan semuanya serba cepat. Termasuk saat mengantarkan koper wanita itu ke ruangannya.

Kalau bisa dia ingin jadi The Flash agar bisa cepat-cepat tidak melihat Harum. Karena lama-lama memperhatikan wanita itu bikin dia sulit konsentrasi. Sungguh, dia tidak menyangka menggantikan posisi Ayahnya sebagai sopir pribadi seorang bidadari.

Sayangnya, ternyata Harum bersikap tidak baik. Sering marah-marah tidak jelas, apa yang Raka lakukan dianggap salah dan tidak berarti. Bahkan beberapa kali Harum seperti menunjukkan sikap jijik padanya.

Namun pernah berapa kali Raka memergoki wanita itu tengah memandangnya lama. Raka mengira Harum mungkin diam-diam mengaguminya, tapi segera dia tepis.

Kenyataannya Harum selalu marah dan marah padanya. Sampai Siah pernah menyampaikam pesan, kalau Harum sedang makan, jangan sekali-kali Raka lewat. Entah kenapa, mungkin wanita itu eneg melihat wajahnya. 

Raka tertawa miris. Dulu di sekolah, di kampungnya, banyak gadis yang tergila-gila padanya. Di rumah surat-surat cinta para gadis itu menumpuk banyak yang tidak Raka baca. Karena hatinya belum pernah merasa benar-benar jatuh cinta pada salah satu dari mereka.

"Ayo, ngelamun apa nih, Mas?" Siah muncul saat Raka sedang duduk santai di depan kamarnya di belakang. Dulu itu bekas kamar Ayahnya.

Memang Ayah bekerja dengan menginap di rumah orangtua Harum, pulang ke Tegal sebulan sekali. Karena Ibu tidak mau hidup mengontrak di Jakarta, Ibu lebih memilih tinggal di kampung membesarkan anak-anaknya, Mbayu Nani, Mas Dewo, dan Raka.

"Belum tidur, Si?" 

"Belum, masih menunggu boss kelar makan malam. Beberes, cuci piring, baru tidur.'

"Oh, aku pamit ke kamar dulu ya." Raka hendak bangun dari duduknya. Dia memang sering menghindari ngobrol dengan Siah.

"Eh, tunggu dulu, Mas!" Siah mencegah.

"Ada apa? Besok aku harus bangun pagi karena Mba Harum ada meeting."

"Temanin aku dong, nanti aku buatkan kopi yang enak. Sebentar saja kok nunggu boss pada kelar makan malam," rengek Siah. Wajahnya yang manis membuat Raka tidak tega.

"Baiklah, aku temani. Tapi jangan ngobrol keras-keras, aku tidak enak sama Ibu dan Bapak. Apalagi sama Mba Harum," bisik Raka. "Aku pernah melihat Mba Harum melotot melihat kita ngobrol, terus buang muka dan pergi."

"Maklum, Mas, perawan tua suka sewot lihat orang berduaan," seloroh Siah, gadis itu menutup mulutnya yang hampir mengeluarkan suara tawa.

"Hus! Kalau bicara yang sopan, Si."

"Aku serius, Mas, Mba Harum itu sudah tiga puluh tahun tapi belum punya jodoh."

"Ehmmm..orang secantik itu, apa mungkin karena galak?" gumam Raka diluar sadar.

"Apa katamu, Mas?" sambar Siah. Matanya mendelik mendengar Raka memuji Harum.

"Oh--- Eh, tidak," Raka menggeleng. Dia tidak ingin Siah mengetahui apa yang digumamkan barusan. Padahal tanpa Raka ketahui Siah sudah mendengar dengan jelas.

Diam-diam Siah merasa jengkel. Raka yang ganteng dan muda, bagi Siah tidak cocok dengan Harum. Meski Harum cantik, tapi lebih tua. Raka lebih cocok untuk dirinya, lihat saja nanti. Perasaannya pasti tidak akan bertepuk sebelah tangan.

...