Majikan Galak
"Mas Raka, maaf. Bu Harum masih banyak kerjaan. Nanti kalau sudah selesai, Mas Raka akan  dihubungin," kata Ujang.

Raka mengangguk, dia memutuskan untuk menunggu di dalam mobil.

"Mas, lebih baik menunggu di warung kopi saja karena Bu Harum biasa kelar paling cepat jam 8 malam. Tapi kalau Mas Raka mau tempat yang lebih nyaman, bisa di kafe seberang kantor." Ujang memberi usul. Dia tidak tega melihat lelaki tampan itu duduk di dalam mobil berjam-jam.

"Waduh, kalau di kafe gak ada uangnya," Raka tertawa.

"Masa pacar manager bank gak ada uang, Mas ini bercanda," kata Ujang pelan. Senyumnya mengembang penuh arti.

Raka menatap Ujang.

"Udah ah, saya pamit, Mas. Takut dicariin Bu Harum, biasa kalau lembur pasti minta kopi. Kopi susu," bisik Ujang.

Raka hanya mengangguk, karena dia tidak mengerti arah pembicaraan Ujang. Sejak kapan dia diaku pacar Harum? Raka tertawa kecil. Bisa terbalik dunia, sopir jadi pacar majikan kaya.

Raka menggedikkan bahunya, keluar dari mobil untuk mencari warung kopi yang Ujang maksud. Dia pikir ide bagus juga menunggu Harum sambil ngopi dari pada bengong di dalam mobil sendirian.
...
Jam menunjukkan pukul 9 malam ketika Harum selesai mengerjakan materi untuk presentasi besok. Dia menelepon Raka untuk segera ke lobi, hari ini sungguh melelahkan sekali. Dia ingin pulang, bebersih, dan tidur. Biar besok saat presentasi fresh.

Tapi tiga kali teleponnya tidak diangkat Raka, Harum langsung kesal. Dipanggilnya Ujang yang sedang bersiap untuk pulang juga.

"Ya, Bu." Ujang datang sudah rapi, laki-laki itu memang sudah tidak sabar ingin pulang karena rumahnya cukup jauh.

" Raka nunggu di mana ya?"

" Ujang kurang tahu, Bu. Tadi sih Ujang saranin kalau gak ke warung kopi, ke kafe," jawab Ujang polos.

" Ke kafe?" Harum melotot.

Ujang mengangguk.

"Gaya bener!" Harum langsung keluar ruangannya.

"Mau kemana, Bu?" kejar Ujang.

" Sudah kamu pulang saja, biar Raka saya yang cari!"

Aduh, Ujang menatap kepergian Harum. Bakal ada perang dunia ke tiga nih. Dasar wanita, memang sulit dipahami. Tadi dimarahin disuruh pulang, sekarang dikejar-kejar.

Ujang menggeleng-gelengkan kepala, lalu memutuskan untuk pulang lebih dahulu. Biarlah urusan Bu Harum diselesaikan sendiri, paling nanti begitu ketemu mesra lagi, batin Ujang
...
Langkah Harum lebar-lebar, padahal dia mengenakan rok midi dan high heels. Tapi emosi sudah menguasainya, dan matanya mendelik ketika melihat Raka berdiri di Lobi.

"Loh?" Harum seperti kehilangan kata-kata karena jengkel. Dia telepon berkali tidak diangkat, dan kini laki-laki itu berdiri santai di lobi. Dia mau jemput boss'nya atau gaya bagai karyawan bank? Batin Harum.

"Maaf, Mba Harum. Ponsel saya tertinggal, makanya saya menunggu di lobi sejak pukul delapan tadi. Kata OB di sini, Mba Harum paling cepat kalau lembur pulang jam 8," ujar  Raka dengan senyum di bibirnya.

Harum menarik napas dan dihembuskan cepat. Dia pengen bilang ke Raka, harusnya tanya resepsionis kek atau satpam. Suruh mereka hubungi Harum, atau hubungi langsung Harum melalui telepon resepsionis, ketimbang diri di loby satu jam. Tapi dia malas untuk bicara panjang lebar.

" Ya, sudah. Ambilkan tas saya  di ruangan kerja yang tadi pagi kamu masuk saat antar koper saya," kata Harum tegas.

"Siap, Mba." Raka bergegas ke ruangan Harum untuk mengambil tas wanita itu. Dalam hati dia heran, bisa-bisanya sudah keluar tidak langsung bawa tas. Mungkin memang selain galak, Harum pelupa.

Hebat juga Bapak kuat bekerja puluhan tahun, pasti sesekali akan menghadapi wanita galak ini. Raka jadi sedih teringat Bapaknya. Jika Bapak kuat, maka dia juga harus kuat demi membantu Ibu, juga untuk dirinya. Saat ini berbekal ijazah STM sulit mencari pekerjaan yang gajinya sesuai UMR.

Di rumah Ayah Harum meski dirinya hanya seorang supir, gajinya standart UMR, dan kata Bapak dulu tidak jarang bossnya memberi tips. Namun sepertinya tipe Harum tidak bakal sering-sering kasih tips.

Raka tersenyum mengingat wajah Harum yang selalu cemberut, padahal wanita itu cukup cantik.

Ah, digelengkan kepalanya. Dia tidak boleh fokus pada hal lain selain bekerja. Apalagi sampai memikirkan wajah bossnya yang cantik.
...