Pagi Itu

Sepanjang jalan Harum menjadi banyak diam. Baru kali ini dia merasa tegang, dan hampir tidak bisa mengucapkan kata-kata sepatah kata pun ketika sampai halaman kantor. Bahkan dia diam saja ketika Raka meminta helm, jaket, dan kain yang dikenakannya, hingga Raka pamit sambil mengucapkan salam.

"Assalamualaikum," ucap Raka sebelum pergi.

Harum tanpa sadar masih berdiri mematung sampai motor yang ditumpangi Raka menghilang dari hadapannya, meninggalkan debu pagi yang berterbangan.

“Duh, yang pagi-pagi dibonceng pacar sampai bengong,” sebuah suara nyaring menggoda menyadarkan Harum.

Harum tersengat, dan mendapati Tiara yang tersenyum lebar menggodanya. Bahkan wanita itu sampai membekap mulutnya sendiri karena tawanya nyaris pecah.

Harum mencibir, “Kau naksir Raka ya?”

Tawa Tiara pun pecah sungguhan, sehingga Harum salah tingkah. Dalam hati Harum mengeluh bertemu Tiara di saat yang tidak tepat, dan anehnya selalu Tiara yang memergoki momen tidak tepat itu.

Hih! Harum mengepalkan tangannya seraya berjalan meninggalkan Tiara.

Tiara mengejarnya, dalam waktu singkat wanita itu sudah bisa menjajari langkah Harum.

“Rum, serius dia itu supirmu?” tanya Tiara.

“Ya serius lah, sejak kapan aku mengarang cerita. Kau tuh yang justru mengarang cerita sendiri tentang Raka,” cerocos Harum. Kedongkolan hatinya keluar.

“Aku bukan mengarang cerita, Rum. Tapi aku merasakan sendiri sepertinya antara kau dan Raka tidak sekedar hubungan supir dan boss,” ujar Tiara serius.

Deg! Harum merasakan dadanya berdebar, tapi segera dia halau. Dia tidak boleh terbawa perasaan yang tidak jelas.

“Kau pasti berkhayal karena Raka mirip Shahrukh Khan ya?” tebak Harum untuk menghalau perasaannya sendiri.

Lagi-lagi Tiara tertawa.

“Harum, kapan sih kamu bisa bersikap adil dengan dirimu sendiri?” Cetus Tiara.

“Maksudmu?” Harum menghentikan langkahnya, menatap Tiara tajam. Berbagai praduga mengisi pikirannya.

“Coba deh kamu jujur tentang perasaanmu terhadap Raka?” bisik Tiara.

Wajah Harum langsung pias.

“Kamu tahu gak, pagi ini wajahmu tuh pink semua. Kalau orang melihat kamu sudah persis anak ABG lagi jatuh cinta, dan bahagia banget bisa boncengan sama cowok yang disukainya.” Habis berkata seperti itu Tiara berjalan cepat, meninggalkan Harum yang bengong.

...

Harum membanting pulpen yang sejak tadi dia gigitin sambil memandang layar monitor. Hari ini sungguh dia jadi kehilangan fokus, beruntung pekerjaannya sedang tidak banyak. Sehingga dia bisa sedikit longgar melepas keresahannya.

Sebentar-sebentar Harum jadi terbayang perjalanan naik motor bersama Raka tadi pagi. Bagaimana dia begitu dekat dengan laki-laki itu, bahkan aroma tubuhnya begitu jelas menyelusup lubang hidungnya. Tidak hanya itu, Harum juga merasakan punggung Raka yang luas dan hangat.

Ya Tuhan, kenapa semua ini terjadi? Tidak seharusnya dia sedekat itu dengan Raka, keluhnya.

“Harum, kapan sih kamu bisa bersikap adil dengan dirimu sendiri?” 

Tiba-tiba Harum teringat kata-kata Tiara. Sungguh, dia tidak memahami ucapan wanita itu, tapi benarkah dia sudah tidak adil terhadap dirinya sendiri? Tapi keadilan seperti apa yang dia harapkan dari perjalanan pagi ini?

Harum mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Kalau mau jujur pada dirinya, dia merasakan perasaan yang saling tarik menarik, yakni di satu sisi dia mengakui ada rasa nyaman dan senang, tapi di sisi lain... dia merasakan ini sesuatu yang bodoh dan menjijikkan.

Brak! Tanpa sadar Harum menggebrak meja hingga pulpen yang tadi dia gigit-gigit terpental jatuh ke lantai, bersamaan dengan itu ponselnya bergetar.

[ Non Harum, hari ini mobil sudah masuk bengkel. Insaallah, sore ini bisa untuk menjemput lagi ]

Pesan dari Raka, namun entah mengapa Harum merasa kecewa. Dia seperti berharap mobil itu tidak keluar bengkel hari ini. 

Ya ampun, aku sudah berpikir apa sih? Harum segera meneguk segelas air putih dingin di depannya. Sepertinya dirinya butuh secangkir kopi panas agar bisa berpikir normal.

Harum pun bangun dari kursi untuk berjalan menuju pantry.