Masih Mengenang

MEDAN

Tak ada yang berubah dari jalanan protokol kota Medan, tetap seperti dahulu. Kala pertama kali aku menginjakkan kaki di kota ini. Macet. 

Klakson saling bersahutan, teriakan isi kebun binatang, berlompatan bersamaan dengan asap yang keluar dari knalpot becak, bercampur semburan linting dari mulut kakek tua di sudut lopo tuak, Keseharian menghiasi udara kehidupan.

Saling berlomba antara jeritan inang-inang pedagang monja atau pengemis yang memaksa untuk bersedekah recehan, pengamen lampu merah dengan ukulele dalam pelukan teman setia mencari pengganjal usus agar tetap memainkan peran, menggiling makanan melanjutkan sisa usia jika masih diberi panjang.

Kampung halaman Sisingamangaraja penuh sesak padatnya manusia. Apa lagi yang hendak kucoba. Aku sudah berusaha dekat dengan Gadis atau janda. Hasilnya. Sia-sia.

Baru pertama bertemu saja Rita sudah ketakutan, seperti di wajah ini ada stempel kutukan melekat "Tak pantas melamar Perempuan" apa melamar laki - laki saja?

Haahh! Aku normal tulen kawan.

Sial sekali rasanya. Duit berlimpah, plus wajah ganteng, cakep, terlihat blasteran, walau aslinya Indonesia bersangatan. Satu biji saja ada makhluk yang namanya cewek tersangkut. Mungkin aku tidak segila ini.

Apa sih kekuranganku? Aku tidak pernah mempermainkan perempuan. Apalagi menduakan. Dari pertama mengenal yang namanya cinta aku hanya punya Mhita.

Mengapa dia tega mengkhianati? Banyak perempuan dengan berbagai versi datang mendekat, belum termasuk yang disodorkan mama. Dari varian selevel Nia Ramdani sampai varian Okki Setiana.

Bukannya tertarik aku justru muak, mungkin ini yang disebut gagal move on. Tidak. Tidak. Aku sudah lama move on, buktinya aku berhasil mencapai level ini. Sukses sebagai politisi.

Bukan tak kucoba membuka hati pada wanita lain. Mira. Wanita dengan karir melejit dan incaran para eksekutif dengan jelas menyatakan mencintaiku. Mama pun setuju. Mira gadis yang baik. Bebet bobot dan bibitnya dari keluarga baik - baik. 

Ayahnya seorang alat negara, Ibunya pemilik saham perusahaan Migas, Mata lelaki mana yang tak terhipnotis menatap gadis tinggi bak model pragawati, hidung mancung, tubuhnya langsing berisi. Kulit putih mulus seperti artis Jepang. Tawa manis dengan gigi putih berderet rapi.

Apa aku yang tak normal? Sial.

Saat berada di dekatnya. Aku bangga di puji oleh beberapa kolega, "Cocok Yan. Yang satu ganteng yang satu cantik, yang satu pengusaha, yang satunya politisi ternama. Segeralah! kalo gak mau, bilang - bilang ya Yan. Biar ikutan antri" celoteh kawan sekoalisi. Pret.

Mira hanya melempar senyum menanggapi candaan teman-temanku. Dia sudah biasa dipuji.

Entahlah! 

Jangankan berdesir, cemburu pun tidak aku pada candaan itu. Sangat berbeda saat Mhita dicandain Retno teman sekelas dulu saat santer berita pernikahannya menghebohkan grup Whatsapp angkatan kami. Berita itu tak berhenti siang-malam semua membully aku yang sekarat menahan endapan ingin bumi segera menelan.

"Kapan ya Mhita jadi janda? Biar aku antri pertama, penasaran sama tu cewek dari dulu, susah amat digodain cowok." 

"Eh tetiba merid aja si Mhita."

"Doyan ah aku cewek kayak gitu" Kalimat nyaris candaan. Tapi berhasil mendentum tepat jantungku, malam itu Aku dan Melisa sedang makan berdua. Melisa gadis selebgram itu masih terbilang saudara jauh mama.

Setelah kelulusan aku kehilangan jejak Mhita.
Aku masih berseragam abu-abu, dia pasti sudah memasuki universitas. Sedangkan Melisa saat itu setahun di bawahku.

Membaca candaan di grup Whatsapps tentang pernikahan Mhita. Membuat darahku mendidih tak karuan.

Meraih kunci segera. Mendarat tepat di teras rumah Retno.

Prak ... bum. Tanpa kusadari akibat dari itu, sebuah kepalan mendarat di ujung bibir Retno. Berdarah. Sejak saat itu hubunganku dan Melisa kian jauh.

*

Sejak saat itu pula, setiap bertemu, cara Retno menatapku terlihat aneh, seperti menertawakan. Yah! Mungkin aku pantas di tertawakan. Tidak.

Retno sahabatku sejak di Karya bangsa. Juga sahabat Mhita, dia sama sekali tidak menertawakan. mungkin merasa kasihan. Aku lah yang terlalu Baper. Retno teman se--kelas Mhita, ketua osis SMA Karya Bangsa dan Mhita adalah sekretarisnya.

Aku kebetulan hanya adik kelas yang punya prestasi dibidang olahraga, peraih renang terbaik, pendulang medali emas tingkat provinsi, dan Mhita pendulang medali tingkat olympiade matematika, cerdas. 

Orator ulung dengan bahasa inggris yang sangat komunikatif, aku bahkan tidak berkedip saat Mhita berpidato di acara pensi, event event sekolah dan terakhir di acara perpisahan kelas dua belas Karya Bangsa.

Di hari detik-detik terakhir kami bersama di sekolah, hari yang harus kuakui tidak akan pernah bisa hilang dari ingatan. Mhita lulus, sedangkan aku masih naik kelas dua menunggu dua tahun lagi untuk bisa bersama. Karena aku tahu, Mhita akan menyambung kuliah ke luar kota.

Kemudian…

Ia menghilang tanpa jejak. Meninggalkan bekas yang sangat menyakitkan. Harusnya aku benci dengan perbuatannya yang pergi tanpa kabar. Entah kuliah di mana dia? seharusnya Ia mengucapkan kata benci padaku. Kata putus atau apa saja yang bisa meyakinkan hati dia tak lagi mencintai.

Satu tahun tak terasa berlalu, Aku mencoba move on dengan memilih Melisa sebagai paacr.
Malangnya, kejadian malam itu Melisa memilih putus.

Setahun berlalu lagi, setelah lulus dari Karya Bangsa aku terpilih menjadi mahasiswa undangan salah satu universitas bergengsi di Jakarta.

Mhita benar-benar seperti ditelan bumi. Rumahnya kosong tak berpenghuni. Tetangganya tak satupun yang mengetahui di mana keberadaan keluarga itu.

Dua semester kulalui tak ingin mengenang seorang Mhita lagi. Tiba-tiba seseorang hadir di teras rumahku dengan menghantar lembar undangan. 

Sosok mungil bermata indah bak boneka india. Senyumnya teduh, netra coklat menunduk malu. Penampilannya sedikit berubah. Ia semakin keibuan. 

Tak ada suara, hening tercipta, jangankan untuk bicara, menatapku saja, bola mata itu melempar jauh pandangannya.

"Maaf." Hanya kalimat itu kemudian keluar dari bibir mungilnya. Sepi dengan adegan ambigu, Jilbab lebarnya tertiup angin sore. 

Berpamitan hanya dengan isyarat mata. Tak lagi menoleh. Kejam. Sakit tersayat silet lebih kupilih daripada perlakuannya.

*

"Ayank. Lihat sini!" Teriakan kecil dari suara manja memanggil, aku mendekati yang ia tunjukkan, bergelayut mesra pada pergelangan tangan, memamerkan strawberry yang ia dapat lebih besar dari buah lainnya.

"Strawberrinya besar banget, merah ranum, aku makan langsung ya?" Tanya wanita dengan sejuta pesona padaku, bersegera memasukkan buah itu ke dalam mulut.

Tanganku lebih cepat meraih strawberry tidak steril itu sebelum giginya siap untuk mengunyah.

"Dicuci dulu Mhit! Pestisidanya masih lengket, Kan?" Ku raih air kemasan yang memang kubawa sebagai persediaan. 

Mengucek pelan kulit strawberi, sedikit kasar pada permukaan, menghilangkan jejak pestisida. Aku tak ingin orang yang kucintai terdampak sesuatu akibat kecerobohan.

Menaruh kembali dalam mulut Mhita. Ia mengunyah sambil sesekali menatapku mesra. Ah, Mhita.

"Jangan pernah pergi dari aku, Mhit!" Bisikku di telinganya. 

"Apaan sih?"

Mhita menjewer telingaku pelan. Tersenyum kecil seraya menjawil dagu. 

"Kalo mau pergi, sudah dari tadi ayank. Nih Mhita masih di sini. Ngak kemana mana, kan?" Ia menunjuk dadanya. membulatkan mata lucu. Memindahkan telinganya menjauhi bibirku. 

Aku tertawa kecil. Mhita yang kadang kekanakan. Dewasa dalam banyak hal. Dia seperti oase di tengah gurun pasir, Tidak bertemu sehari saja aku seperti orang kesurupan, entah lah. Ah, Mhita.

Mhita tidak pernah memanggilku nama, sayang atau abang, Ia lebih memilih menyebut panggilan dengan sebutan “Ayank” ia juga sih, kalo menyebut “sayang” terlalu lebay, menyebut “abang” pasti lidahnya kelu. secara Mhita lebih tua dua tahun dari-ku. 

Aku tidak pernah menolak apapun panggilan yang ia sematkan. dan panggilan itu, kini. hanya tinggal sebuah ingatan.

*

Menyesap pahit sebuah takdir. Detak desir yang semakin hari tak lagi bisa ku sembunyikan. Tatapan lelah seorang ibu memohon untuk meminang seorang gadis.

Entah apa yang ada di pikiran. Aku tak butuh diskusi dengan siapapun. Karena ku tahu aku hanya butuh seseorang. Seseorang yang tak lagi sendiri. 

Sosok yang tak pernah lekang oleh waktu. Sesakit apapun penghianatan, tak mampu meredam sedikitpun cinta ini, seolah kalimat benci terbang jauh dari kategori.

Aku tertohok menerima kenyataan, masih mencintai Mhita. Dengan kadar yang sama.

Jika manusia takut pada kematian, aku justru takut pada sebuah rasa. Rasa yang tak terkendali, meski iman sebanyak pasir di gurun emirat. Perempuan itu. Telah menjadi istri orang lain. Dan ... Aku. 

Merindukannya.

*

#TBC