Kala rindu membuncah


Bismillah semoga karya yang saya persembahkan ini bisa menarik tema berbeda dari Cerbung cerbung yang sudah ada. Semoga suka ya Bunda, Amin.


❤️


Penyesalan itu selalu menyakitkan, andai ada cara memutar waktu tak terhitung banyaknya orang yang akan berusaha memperbaiki masa lalu.

❤️

Kalau ada perasaan paling sedih di dunia maka itu adalah rasa penyesalan yang menggumpal di hatiku. Andai bisa kuputar waktu, tentu tak akan kulakukan kesalahan yang akan membuatku hanya bisa menatap dari jauh kedua anakku.

Alena dan Salsa anakku sedang bermain lempar bola bersama ibunya--wanita yang pernah kucampakkan-- yang kini sudah berubah jadi lebih cantik dan terlihat mapan. Anak-anakku tertawa gembira sedang aku hanya bisa menatap miris dari balik pohon besar, merasa terbuang sendiri.

Aku merindukan mereka tapi tak bisa memeluk atau mendaratkan ungkapan, betapa aku sangat menyayangi mereka dengan perasaan terdalam. Andai bisa, aku ingin berlari dan berkata pada anak-anakku bahwa aku adalah ayah mereka. 

Lantas, aku ingin tahu reaksi apa yang akan mereka tunjukkan. Kubayangkan jika mereka melompat girang dan berlari ke pelukanku, pasti sangat bahagia sekali. Ah, mataku memanas begitu saja. Jika bisa, aku sungguh ingin melakukannya.

❤️

Enam tahun lalu,

Di malam jahanam itu, aku memukul istriku dengan kalap karena ia menolak gagasan poligami yang aku ajukan. Dia berteriak, menangis dan jeritan murkanya sama dengan petir yang kala itu menggelegar di langit.
Ketika kilat menyambar sorot mata Yeni istriku menyala, seolah ada kobaran api kekecewaan di bola matanya.

"Aku gak setuju, Bang, menghidupi kami saja Abang belum bisa maksimal, kenapa Abang tega mau kawin lagi?" keluhnya menangis.

"Aku ini mapan, aku juga pria yang taat pada agama, kenapa tidak, toh tidak dilarang juga," jawabku sengit.

"Abang hanya supir truk, Bang." Suara tangisnya melemah.

"Tapi truknya milikku, jangan remehkan aku, Yeni!"

"Aku gak remehin, Bang, aku khawatir seorang pria tak bisa menjaga kecendrungan hatinya, aku juga takut pada rasa dengki dan cemburu yang mungkin akan menguasai hatiku, Bang, jadi tolong, jangan bang!"

"Dengar ya ...," desisku mencekal lehernya hingga wanita itu tersengal sengal.
"Jika kau melarangku, maka akan kupulangkan kau ke bapakmu," ucapku dengan  kepala yang sudah mengebul amarah.

Saat itu tak ada rasa iba atau  simpati di hatiku, hilang semua rasa cinta menggebu, atau dentuman rasa tergila-gila hingga rela menghambakan diri demi kebahagiaan Yeni, entah kenapa semuanya luntur begitu saja.

Rasa sukaku pada istri hilang, ketika mengenal gadis cantik yang lebih perhatian dan menarik dari Yeni. Hatiku meleleh pada pesona Karina gadis penjaga warung makan tempat trukku suka berhenti.

Ketika mendapatkan perhatian dan kasih sayang lebih, saat itu juga aku terlena, ditingkahi  kebencianku pada Yeni  yang tak pandai menggoda suami dan  mengurus diri, hingga semua rasa bosan terakumulasi lalu  menggunung jadi rasa jijik.

"Pikirkan anak kita dan bayi yang ada di dalam perutku Bang, mereka masih butuh kasih sayang dan perhatianmu, kalo kamu pergi, kami bagaimana?" tanyanya ketika aku memasukkan semua barang-barangku ke dalam tas dan menarik resletingnya.

"Makanya kalau kamu mau aku bertahan maka terima keputusanmu untuk menikah lagi!"

"Astaghfirullah, istighfar Bang, Abang telah dibutakan oleh kesenangan sesaat," ucapnya mengusap dada, sementara air mata dan rambutnya terurai membuatku makin malas padanya.

"Ah, sudahlah, aku pergi," ucapku tanpa perasaan, dan aku tak tahu, jika sikapku saat itu akan membuatku menyesal di kemudian hari.

Yeni menghiba dan berlutut di kakiku, dia memeluknya sambil menangis pilu, seakan dunianya berakhir tanpa aku. Semua usahanya seakan tidak menyentuh perasaanku, aku tetap pergi sementara hujan di luar mulai turun.

Kuhidupkan truk yang kubeli dari pernikahanku dengannya, kendaraan besar itu mundur meninggalkan pekarangan rumah, sementara istriku  menangis menyusul dan memanggilku. Dia menghiba akan nasib anak dan bayi dalam perutnya, lantas terjatuh lemas di pekarangan. Ketika Lampu kendaraan menyorot wajahnya, hujan telah membuat kuyup rambut dan tubuh wanita itu,  itulah momen terakhir aku  melihatnya, hingga kami benar benar berpisah di meja pengadilan.

Sebenarnya sebelum bercerai berkali-kali dia mendatangi tempat aku sering mengambil barang, berkali-kali dia berusaha menemuiku dan berkali-kali pula aku menolaknya. Bahkan dia sempat mengejar trukku dan terjatuh menggelinding ke sisi aspal jalan. Aku pergi, mengabaikannya tak peduli meski saat itu dia terluka. 

Kusadari saat itu aku benar-benar tidak punya hati, bahkan mungkin apa yang terjadi padaku saat ini adalah buah yang aku tuai setelah menabur kebencian dan dendam di dadanya.
Aku tahu, dalam kebahagiaan pernikahanku dengan Karina, istriku berduka, baru  mulai saja menata hati untuk bangkit, mengumpulkan kepingan luka lalu merekatkannya kembali hingga bisa menjadi perasaan yang tegar untuk menjalani hidup.

Aku sungguh, pria yang buruk, aku menyesal, sungguh, menyesal. Aku menangis dengan bahu berguncang mengingat betapa kejinya aku.

Sementara bulan demi bulan  bergulir,
tak pernah kuperdulikan tentang dia dan anak-anak kami. Aku tenggelam dalam kebahagiaanku dengan istri baru, bahkan tentang kelahiran anak kedua kami aku pun tidak terlalu menanggapinya.

Kini, melihat mereka yang sedang berbahagia bermain lempar bola di taman, aku jadi terluka. Lebih sakit lagi kala menatap wajah istriku yang begitu cantik dan mempesona, timbul penyesalan yang semakin besar di ini. 

Aku ingin pergi dan berlutut minta maaf ke kaki Yeni, meski aku harus menanggung malu atau bahkan di tendang, tak masalah asalkan dia mau bicara padaku.

Baru saja hendak bangkit dan maju ke arah mereka, tiba-tiba istriku mengajak kedua anak kami pulang. Mereka naik ke atas mobil Brio merah dan meluncur meninggalkan taman tempatku berdiri,  meninggalkan hatiku yang terlubangi  oleh sesal yang tidak termaafkan.

Ah, kilatan masa lalu itu membunuhku, andai bisa, aku ingin menebusnya satu persatu. Jujur, merindukan anak, sementara kamu tidak mampu memeluknya  adalah penyiksaan yang paling pedih di dunia ini.