tak tergapai
Lonceng berbunyi, membuat keriuhan  tersendiri, kelas mulai mengucapkan salam, dan anak anak menghambur keluar dari kelas mereka menuju lapangan dan gerbang.

Dari ratusan anak, kucoba mencari dari Alena dan Salsa, berharap bisa memindai mereka dari sekian wajah ceria yang keluar pintu besi itu. 

Benar saja, tak lama kemudian putri sulungku keluar bersama dua orang temannya, dia terlihat tertawa gembira  sambil memegang tas wadah melodika.

"Alena ..." Bibir ini seolah bergerak sendiri memanggil namanya, tentu dia refleks menoleh kearahku dan nampak langsung syok melihat ayahnya sendiri. Melodica yang ada di tangannya terjatuh dan dia langsung berlari ke dalam sekolahnya kembali.

"Alena, tunggu, ini ayah," panggilku, namun Gadis kecil itu tidak menggubrisnya.

Rasanya ingin masuk ke halaman sekolah namun satpam tempat itu menatapku dengan tatapan tajam seolah-olah aku adalah pencuri anak. Demi agar tidak dicurigai ya aku segera mendekat kepada Pak satpam dan memberitahunya bahwa aku ini adalah ayahnya.

"Saya ayahnya Pak," ujarku.

"Kok dia bisa takut sama ayah sendiri?"

"Ya udah cerai sama Ibunya Pak, jadi, ya, begitulah, anak saya sudah lama tidak bertemu dengan saya."

Tak lama kemudian si adik pun muncul di gerbang bersama 3 orang temannya mereka bergerombol tertawa sambil memakan es loli.

"Itu adiknya," ucapku sambil bersiap mendekat namun satpam itu menahan bahuku.

"Tenang dulu, Pak, sikap Anda akan membuat anak-anak ketakutan dan jika hal itu terjadi maka posisi saya sebagai satpam akan dipertanyakan. Jika anda ingin bertemu maka tunggulah orang tua atau walinya datang menjemput."

"Oh, begitu ya ... baiklah," jawabku terpaksa menyerah.

"Saya hanya ingin memeluka anak saya Pak," nada bicaraku tertahan. Ada beban berat yang menghimpit dada dan membuatku ingin menangis.

"Bantu saya sekali ini Pak, Anda adalah seorang ayah juga bukan? Saya hanya ingin memeluk anak saya sebelum waktu saya berakhir," balasku tak tahan lagi membendung genangan air mata yang mengaburkan penglihatan.

"Saya mengerti, tapi sekolah ini sangat ketat dan pada prosedur bagi setiap pengunjung. Kami juga tidak membiarkan anak-anak keluar tanpa penjemput mereka. Maaf ya Pak."

Karena tidak sanggup lagi berdebat Aku hanya bisa terduduk lemas di dalam pos penjagaan sekolah. Mungkin sekitar 10 menit kemudian mobil Brio merah itu berhenti di depan gerbang dan mantan istri ku terlihat turun dari sana dengan wajah dan penampilan yang sangat cantik.

"Permisi Pak, Alena dan Salsa sudah dijemput calon suami saya belum?"
Kelihatannya istriku kenal dekat dengan satpam gerbang.

"Oh, belum, Bu, mereka masih di dalam."

"Oh, oke, makasih Pak," jawabnya sambil tersenyum dan masuk ke dalam. Aku sengaja menyembunyikan wajah dibalik topi dan masker karena ingin tahu apa yang dia lakukan dan melihatnya lebih dekat.

Mereka keluar dari sekolah 2 menit kemudian, sambil bergandengan.

"Alena, ini ayah," ujarku pada putriku ketika dia melewati pos satpam.

"Jangan dekati anakku!" teriak Ibu mereka mengalihkan yang semua orang sehingga menatap kepadaku."

"Kita hanya bercerai, kau tidak punya hak untuk menahan pertemuanku dan anak-anak, kenapa kau seolah mengharamkan itu?"

"Pikirkan sejak Kau putuskan untuk meninggalkan kami aku sudah berkesimpulan bahwa kau tidak menginginkan kami lagi, tolong jangan datang ke hadapanku, karena sikap nekatmu akan kuanggap sebagai teror," jawabnya.

"Mana mungkin seorang ayah yang hanya ingin memeluk anaknya dianggap peneror dan penjahat?"

"Bisa saja, karena hak asuh berada ditanganku lagipula beraninya kau mencoba datang menemui kami setelah mencampakkan kami! Bahkan kelahiran si bungsu saja tidak kau hadiri, aku berjuang sendiri untuk kehidupan mereka. Beraninya kau datang menunjukkan diri dan menyebut bahwa dirimu seorang ayah?!" Cecarnya.

Ah, sungguh malu diri ini dipandang semua orang, dengan beragam penilaian mereka, anak anak juga terdiam melihatku terpekur. Rasanya ... Memang tak baik seorang pria menangis tapi entah kenapa aku ingin sekali meraung sedih.

"Aku hanya ingin memeluk mereka," ujarku.

"Pergi dan cari cara untuk menebus kesalahanmu tapi niscaya kau tak akan bisa menebusnya, minimal kau tunjukkan itikad baik untuk bertanggung jawab, meski itu sudah terlambat. Ah, hatiku terlanjur sakit, selamat tinggal," ucapnya dengan ketus, dia masuk ke dalam mobilnya meninggalkanku yang bercucuran air mata.

Sebagian orang mencibir, sebagian merasa kasihan,  mereka berkomentar dengan berbagai dengungan sumbang, sementara aku hanya bisa menahan kegetiran itu, lalu melangkah pulang ke kontrakan.

Rumah yang dulu kami tempati bersama istri dan anakku hanyalah rumah kontrakan. Aku menjual rumah peninggalan orang tua untuk membeli sebuah truk lalu membangun kehidupan dari nol bersama yeni.

Setelah pernikahan keduaku,  kami hidup menjalani takdir masing-masing dan beginilah ... aku terdampar di kontrakan sumpek ini bersama dengan orang orang datangan yang mengadu nasib ke ibu kota. Ada yang menjadi pedagang, ada pemulung, ada juga yang pekerja malam.

Hingar bingar tempat tinggalku sangat ramai, bahkan cenderung mengganggu istirahat. Suara tangisan bayi, bercampur dengan suara para pemuda mabuk yang sedang bermain remi, juga suara bapak-bapak yang kerap bertengkar dengan istrinya, belum lagi aroma berbagai macam aroma, cucian kotor dan comberan, bau bensin, uap masakan dan kepulan pekat asap rokok, semuanya neraka bagi diriku yang kini sakit-sakitan.

Ah, dalam kesendirian,  aku merebahkan diri ke atas bantal usang, dan kembali meneteskan air mata karena merindukan kedua anakku.