PART 9

Aku berjalan menuju masjid. Kulangkahkan kaki ragu-ragu menuju tangga. Entah mengapa hatiku menjadi sangat cemas. Karena tidak biasanya sayyid Bahar menelponku mendadak seperti ini. Apa mungkin aku akan diberhentikan menjadi tenaga pendidik disini, atau?

"Yasmin, sini!" Syarifah Jannah memanggilku dari belakang. Dia menarikku masuk ke kediamannya yang jaraknya tidak jauh dari masjid. Disana terlihat sayyid Bahar sedang duduk menungguku.

"Yasmin, duduklah nak! Sebenarnya ada satu hal yang ingin kami bicarakan dengan enti."

"Nggeh baik. Jika boleh tau, perihal apa, bib?"

"Begini, apa enti kenal Ustadz Yusuf?"

"Benar, beliau dosen saya, bib," aku meihat sayyid Bahar dan syarifah Jannah saling bertatapan dan tersenyum kepadaku.

"Beliau bercerita banyak tentang enti dikampus, lalu..." habib Bahar menghentikan kalimatnya. Aku mengangkat wajahku, ada yang aneh.

"lalu?"

"Ustadz Yusuf ingin melamar enti, Yasmin. Apa kiranya enti menerima?" aku terhenyak mendengar perkataan sayyid Bahar. Antara senang dan terkejut. Bagaimana mungkin Ustadz Yusuf melamarku, apa alasannya? Apa ini ada hubungannya dengan doa dia tadi siang untuk ku?

Lidahku kelu. Satu sisi aku senang, ternyata orang yang seringkali membantuku itu memiliki i'tikad baik untuk menikahiku. Tapi disisi lain, aku ragu. Aku ragu pada hatiku sendiri. Rasanya aku hanya simpati pada pria itu karena dia sering membantuku, tapi rasanya biasa saja. Aku hanya menganggap dia sebagai dosen, tidak lebih.

"Ustadz Yusuf adalah lelaki yang baik, dia cocok untuk enti, Yasmin," syarifah Jannah meyakinkanku untuk menerima lamaran ustadz Yusuf.

"Bagaimana, Yasmin?" sayyid Bahar kembali menanyaiku.

Aku terdiam sejenak, "Afwan bib, fah. Sebenarnya dalam keluarga kami sebuah pernikahan akan terjadi lewat perjodohan. Jadi, jika memang ustadz Yusuf ingin melamar saya, beliau seharusnya datang ke keluarga saya bukan pada saya. Karena selain ada ditangan Allah, jodoh saya juga seolah-olah ada pada tangan orang tua," aku menjelaskan tanpa sedikitpun melihat kearah sayyid Bahar dan syarifah Jannah.

"Ekhem, kami sangat paham. Tapi begini Yasmin, Ustadz Yusuf khawatir jika lewat perjodohan enti hanya akan menikah karena terpaksa nanti. Jadi, hal itu yang menjadi alasan kami langsung membicarakannya dengan enti supaya enti juga bisa menimbang-nimbang sendiri tentang lamaran ini, bukan karena paksaan orang tua enti."

Subhanallah, rupanya ustadz Yusuf masih memikirkan perasaanku, dia tidak langsung kerumah karena dia tau aku tidak akan menolak lamarannya. Jika pada akhirnya umi menyetujuinya. Karena dia tau, aku akan menuruti semua perintah umi.

"Mohon beri saya waktu, bib!"

"Sampai kapan?"

"Hingga semester pendek selesai, insyaAllah dalam masa dua hingga tiga bulan ke depan."

"Silahkan enti istikharahkan dahulu. Jika memang enti positive kami langsung kerumahmu, untuk melangsungkan akad."

Akad? Jadi ustadz Yusuf benar-benar akan segera menikahiku jika aku menyetujui lamaran ini? Apa dia benar-benar ingin melindungiku dengan cara menikahiku? Tapi, aku belum siap menikah. Aku masih memiliki banyak cita-cita yang belum ku gapai. Aku belum membahagiakan umi. Jika sudah menikah nanti, fokus pikiranku pasti akan terpecah, aku tidak mau itu terjadi. Tapi dilain sisi, aku memang akan lebih aman jika berstatus sebagai istri orang.

Setelah perbincangan selesai, aku berpamitan untuk pulang. Tubuhku terkulai lemas. Aku memutuskan untuk tidak mengatakan hal ini pada umi. Aku takut umi akan langsung menerima lamaran ustadz Yusuf, karena melihat dia yang pastinya akan sangat sesuai dengan kriteria umi.

Mungkin ada baiknya jika aku istikharahkan dahulu semua ini. Jika memang baik, akan aku beritahukan pada umi. Lagi pula, waktunya masih cukup lama sampai program semester pendek selesai. Itu artinya masih sekitar dua hingga tiga bulan lagi. Biarkan saja dulu semuaya tersimpan rapi hingga dua bulan kedepan.