Ayah Kembali
60 menit sudah tubuh Ghayda melintang membelah kasur. Tidurnya tak searah bantal, selimut melumbuk tak terpakai. Rambutnya dibiarkan terurai tak beraturan. Matanya perih, tapi tak bisa terpejam. Seluruh tubuhnya tak bereaksi ketika otak memintanya tidur, bahkan hatinya menolak istirahat. Ghayda tak bisa tidur. Pikirannya kalut, persis seperti akan menghadapi ujian skripsi esok hari.

Bukan, besok Ghayda tak punya ujian apa pun di perkuliahannya. Ia juga tak punya janji dengan seseorang spesial yang bisa membuatnya tak bisa tidur. Isi otaknya dipenuhi oleh Hakim, si bocah 14 tahun itu mengusik malamnya. Kelakuan kakek dan cucunya sama saja. Insomnia seperti ini juga pernah terjadi karena permintaan yang sama oleh Pak Direktur. 

Ghayda berakhir menyanggupi hukuman itu. ‘Bagaimana kali ini? Haruskah kukabulkan juga?’ pikir Ghayda.

Ghayda tidak pernah membayangkan sama sekali ini terjadi di hidupnya. Jangankan menjadi ibu, keinginan menikah pun belum ada di benaknya. Apalagi setelah ayahnya meninggal, gadis itu benar-benar kehilangan hasrat untuk berbagi hidup dengan orang lain. 

Kini Ghayda diminta mengurus anak-anak. Ghayda tidak tahu bagaimana seorang ibu mengurus anaknya. Seumur hidup ayahnya yang menyisiri rambut, tangan sang ayah yang menyuapi makan, dada sang ayah yang menghangatkannya saat tidur, dan wangi keringat sang ayah yang berada di pakaiannya. Ibu? Allah memintanya kembali lebih dulu.

Selama ini, semua hal yang Ghayda lakukan pada anak-anak itu adalah cara ia diperlakukan oleh sang ayah. Ayahnya memberikan semua kasih sayang dengan caranya, termasuk cara mengusap rambut sejak kecil sampai dewasa, sampai sang ayah menghembuskan napas terakhirnya di rumah sakit. Ayah menghapus air mata dan mengelus kepala Ghayda setelah membaca dua kalimat syahadat. Setelah itu, sang ayah memejamkan mata untuk selamanya.

Ghayda menatap langit-langit kamar dengan pikiran melayang pada masa bahagia dan terluka di masa lalu bersama sang ayah. Kembali lagi Ghayda ingat Hakim yang tersedu di hadapannya. Ia tidak tahu sedalam apa luka yang ada di hatinya. Sepertinya cukup berat hingga mampu membuat seorang cool Hakim mengeluarkan air mata. Ia memendam begitu lama. Bisa Ghayda tebak, tiada seorang pun yang mengetahui. 

* * *

“Aku akan bayar berapa pun yang Tante mau, asal Tante mau jadi ibuku di hadapan para pembully dan wanita itu. Aku tak ingin melihatnya lagi,” ucap Hakim. 

“Kenapa terus membicarakan bayaran dan uang?” sela Ghayda dengan nada marah. Ia tidak suka nilai disebut-sebut. Seolah-olah ia adalah orang yang hidup untuk memburu uang.

“Kenapa? Bukankah Tante mengurus kami karena uang?” tanya Hakim sinis.

“Iya. Kakekmu membayar uang kuliah Tante sekaligus memberikan honor setiap bulan karena ada di sisi kalian. Itu sudah lebih dari cukup untuk membuat hidup Tante menyedihkan, jadi stop membahas soal uang.” Ghayda meletakkan es krim di atas meja sofa.

“Kamu tidak pandai mengambil hati orang saat minta tolong. Kalau mau minta tolong, jangan ngajak berantem,” ungkap Ghayda. Hatinya berubah kesal dari iba yang tadi menguasai nalurinya.

“Maaf,” ucap Hakim lirih. “Apa aku begitu?”

“Iya. Kamu terlalu dingin sehingga orang tidak bisa iba sama kamu,” terang Ghayda.

“Mulai sekarang jangan minum air dingin. Minum air hangat biar hangatnya meresap ke hatimu,” celetuk Ghayda. Ia membalikkan badan dan melangkah meninggalkan Hakim sendirian di ruang tamu.

“Tante ...” panggil Hakim pelan.

“Aku akan jadi ibumu,” ucap Ghayda sambil berlalu. “Kasih tahu Tante siapa yang merundungmu. Tante sunat mereka.”

Meski kalimat terakhir terasa janggal di telinga Hakim, tapi cukup membuat tawa kecil di bibirnya. Ia senang gadis yang tidak ingin dipanggil tante itu mau memenuhi permintaannya.

Ghayda memutar ingatan saat ia meninggalkan Hakim dengan gondok di hatinya. Tak terasa setelah itu ia terpejam dan memulai perjalanan mimpinya. Dalam hatinya ia memohon, ‘Allah, biarkan kumiliki mimpi yang manis. Mimpi buruk pun tak apa, asalkan manis dan membuatku berakhir bahagia.’ Pukul 00.00 membawa Ghayda mengawal ke mimpinya.

* * *

Seorang laki-laki berusia 34 tahun bersetelan suit hitam memasuki rumah yang sudah dimatikan lampu-lampunya. Semua penghuni rumah itu sudah terlelap, hanya Pak Musa yang berhasil mengangkat telepon untuk membuka gerbang rumah. Lelaki itu juga meminta sopir rumah mengurus mobil ke parkiran. Ia terlalu lelah untuk sekadar memarkirkan mobil.

Meski seisi rumah gelap, lelaki tinggi itu tak menyalakan lampu dan terus berjalan menuju kamar. Ingin sekali ia menemui anak-anak, tapi ia mengurungkan niatnya. Sesuai dengan protokol kesehatan, ia harus terlebih dahulu membersihkan diri sebelum bertemu mereka.

“Pak Yaz sudah pulang?” Mbok Siti mengejutkan. Rupanya ia bangun saat mendengar suara deru mobil memasuki pekarangan rumah.

“Iya, Mbok,” keterkejutannya berubah lega. “Mbok apa kabar?”

“Baik, Pak,” jawab Mbok Siti, wajah mengantuknya berubah sumringah melihat tuannya tersenyum meski terlihat lelah. “Saya buatkan teh jahe ya, Pak,” ucap Mbok Siti.

“Tidak usah, Mbok,” tolak lelaki bernama Pak Yaz itu. “Ini sudah malam, saya mau langsung istirahat. Anak-anak juga pasti sudah tidur. Mbok juga istirahat, ya.” Pak Yaz beranjak meninggalkan Mbok Siti.

“Oh ya, Mbok. Bisa tolong ambilkan segelas air minum? Letakkan saja di meja ruang TV. Nanti saya ambil setelah mandi,” ucapnya. Mbok Siti mengangguk dan menghilang ke dapur. 

“Akhirnya Pak Yaz pulang juga. Pasti anak-anak senang sekali. Penantian panjang akhirnya terbayar sudah. Alhamdulillah ya, Pak,” ucapnya pada Pak Musa sambil menutup segelas air minum untuk Pak Yaz.

“Alhamdulillah, Mbok. Semoga Pak Yaz enggak pergi-pergi lagi. Kasihan anak-anak,” sahut Pak Musa.

“Habis ini bagaimana nasib Neng Ghayda?”

* * *

“Ya Allah! Maaf, Mbok, saya bangun kesiangan,” ucap Ghayda. Ia berlari dari kamarnya ketika bunyi alarm pukul 03.40 berbunyi. Ia seharusnya bangun 45 menit sebelumnya agar bisa mendaras Al-Qur’an dan membantu Mbok Siti di dapur. Gara-gara insomnia semalam, ia masuk ke dapur dengan makanan yang sudah siap semua.

“Enggak apa-apa, Neng,” sahut Mbok Siti. Masak hari ini enggak banyak, cuma tambah cah brokoli aja. Ayahnya anak-anak tiba di rumah tadi malam.”

Ghayda panik. Bisa-bisanya dia kesiangan ketika majikan besarnya datang. Nilai minus untuknya hari ini.

“Neng Ghayda bangunin anak-anak aja. Biar Mbok beresin meja makan,” kata Mbok Siti memberi solusi. “Khawatir keburu imsak.”

Ghayda bergegas membangunkan satu per satu kerucil di kamarnya. Hari kedua puasa, kesulitan bangun Hakim dan Himma lumayan berkurang. Meski kantuk masih bertengger di mata, mereka tetap pergi ke dapur. Namun, Hisyam masih butuh usaha ekstra untuk dibangunkan.

 “Anak-anak sudah bangun, Mbok?” tanya Pak Yaz. Ia sudah tiba di dapur ketika Mbok menata makanan di atas meja.

“Lagi dibangunin sama Neng Ghayda, Pak,” jawab Mbok Siti. Lelaki yang di panggil Pak Yaz itu menarik kursi kepala untuk diduduki.

“Pengasuh anak-anak?” Kening Pak Yaz berkerut. Ia merasa tidak asing dengan nama itu, tapi ia tidak tahu siapa.

“Ayah!” teriak Himma tiba-tiba. Gadis itu langsung menyerbu ke pelukan ayahnya diikuti oleh Hakim.

“Apa kabar, Anak-anak Ayah? Sehat?” tanya Pak Yaz. Rindu di hatinya memuncak dan lepas. 

“Aku kangen Ayah. Ayah jahat sekali baru pulang hari ini,” rajuk Himma. Seperti biasa, Putri Manja.

“Maaf, Sayang,” Pak Yaz mengusap rambut Himma.

“Ayah kapan sampai?” tanya Hakim. Ekspresinya berbeda dengan Himma, cool dan datar.

“Tadi malam,” jawab Pak Yaz. “Ayo duduk dulu, kita sahur. Setelah ini Ayah mau dengar cerita kalian.”

“Di mana Hisyam?” tanya Pak Yaz bertepatan saat Ghayda muncul dengan menggendong Hisyam yang masih mengantuk.

“Hisyam,” suara berat itu mengganggu pendengaran Ghayda. Belum sempat Ghayda menurunkan Hisyam, ia tercengang melihat seseorang duduk di meja kepala. Seketika ia salah tingkah.

“Ini ayahku, Tante,” kata Himma ceria.

“Ayah,” Hisyam berlari ke pangkuan sang ayah dan memeluknya.

Ghayda tidak tahu harus berbuat apa. Mengangguk? Melambaikan tangan? Memperkenalkan diri? What a big surprise! Mimpi buruk manis kah?

* * *

“Kamu menguntit sampai ke rumahku?”

======

Ups, siapa ya ayahnya anak-anak? 

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan (END) 
9. Mencari Ayah untuk Anakku (END) 
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Suami Simpanan Bos
13. Dilamar Ustadz
14. Nikah Muda
15. Mencintai Kakak Ipar
16. Mertua Banyak Maunya

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Wanita yang Ternoda
3. Mengejar Cinta Gus
4. Menikahi Tuan Muda
5. Lelaki Masa Depan
6. Cool Bos
7. Fitnah di Pesantren
8. Pengasuh 100 Hari
9. Malam Pertama Khanza
10. Istri Pengganti

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.