Kurcaci Manis
Si bungsu tidak menjawab, ia menunduk sambil memainkan kakinya, ngambek. Ia tidak menatap Ghayda sama sekali dan menolak beranjak dari tengah gerbang, menghadang dan mencegah Ghayda pergi kecuali membawanya.

Ghayda kehabisan ide untuk memberikan alasan kepada Hisyam agar tak ikut pergi. Gadis itu tak ingin sesuatu terjadi kalau anak itu main di luar. Ia menatap lama Hisyam yang sudah mau menangis. Ia pun sadar benar, bahwa anak-anak sama sekali belum pernah main di luar rumah. Pesan Ayah dan Kakek anak-anak untuk menjaganya membuat ia berhati-hati sekali dalam merawat mereka.

"Ya sudah, kamu boleh ikut." Ghayda menyerah, Hisyam berhasil mengambil hatinya. "Ambil masker dulu di dalam, baru kita pergi," perintah Ghayda.

"Sudah ada!" Hisyam menunjukkan masker hitam dan mengenakannya di hadapan Ghayda. Setelah itu, ia melesat ke dalam mobil yang sudah terparkir di luar gerbang.

Ghayda terkejut dengan perubahan ekspresi serta mood si keriting. Wajah melas dan putus asa itu langsung berubah ceria ketika Ghayda mengizinkannya turut serta ke supermarket. Ia kemudian menyusul Hisyam masuk mobil. Namun, kerterkejutan gadis itu belum berakhir. Hisyam dan kedua kakaknya sudah duduk manis tanpa ekspresi di dalam mobil.

"Jalan, Pak. Kita ke mall, ya," perintah Hakim pada Pak Musa, sang sopir.

"Kalian ikut?" tanya Ghayda. Ia tidak menyangka anak-anak sudah berada di dalam mobil. Ghayda kalah telak. Hisyam memasang senyum pada Ghayda sambil menangkupkan kedua tangannya, tanda maaf karena mengejutkan pengasuhnya. Tidak bisa menolak, akhirnya Ghayda masuk mobil dan menuruti permintaan Hakim serta kedua adiknya ke mall, bukan ke supermarket.

"Sudahlah, Tante, tidak perlu cemberut," ucap Himma, si anak kedua. "Lagi pula Kakek sudah kasih kartu debit buat dipakai, kan? Sekali-sekali main sepuasnya di mall enggak apa-apa, dong."

"Aku telepon Kakek sekarang," ujar Hakim. Kalimatnya tegas dan singkat, persis kakeknya. 

Ghayda tidak bisa berkata apa-apa lagi, biarlah sekali-sekali keluar rumah menyenangkan mereka. Benar kata Himma, ia dititipkan kartu debit untuk mengurus rumah dan kebutuhan anak-anak. Tidak ada salahnya digunakan untuk liburan. Ghayda juga tidak mengerti mengapa Pak Direktur itu mempercayainya dengan menitipkan tiga anak yang benar-benar membuat sakit kepala itu padanya. Sampai kartu debit di dompetnya itu diamanahkan pula kepadanya. Benar-benar sebuah hukuman.

* * *

Hidup Ghayda begitu ajaib di usia 24 menjelang 25 tahun, tepatnya setelah insiden marah-marah sendirian di depan kampus. Ia dipertemukan dengan tiga kurcaci pembuat darah tinggi Mbok Siti sering naik. Kedatangan Ghayda sangat meringankan beban Mbok Siti. Kini, tugas Mbok Siti hanya memasak saja. Anak-anak, rumah, serta sekolah, semua Ghayda yang menangani. 

Tiada satu pun pengasuh yang bisa bekerja lama di rumah cucu Pak Direktur itu. Menurut cerita Mbok Siti, mereka menolak pengasuh dan pegawai lainnya. Ini bentuk kemarahan karena tidak ada orang dewasa di keluarganya yang mengurus dan menemani keseharian mereka. Ayahnya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Hakim dan kedua adiknya merasa hidup sendiri, lama-kelamaan mereka tidak membutuhkan orang lain untuk membantunya. Oleh karena itu, ketika para pengasuh berusaha melayaninya, mereka pun menolak.

Ghayda selalu mengalami penolakan dari Hakim dan Himma di rumah. Apalagi saat pertama kali datang ke rumah itu dua bulan lalu, ia hampir putus asa.

"Kami sudah menyiapkan tempat tidur buat Tante, silakan istirahat," kata Himma. Ia memasang senyum manis di hadapan Ghayda. Tentu saja ini membuat Ghayda senang dan mengira anak-anak menerimanya dengan baik.

Ghayda terkejut ketika memasuki kamar yang disediakan untuknya. Tergeletak kira-kira 20 tomat merah yang sudah sengaja dihancurkan di atas kasurnya. Wajah putih langsatnya berubah memerah, ia menjerit tanpa suara melihatnya. Malam sudah sangat larut dan hujan terus mengguyur, tapi tempat yang diharapkannya untuk tidur nyenyak bagai pizza raksasa tidak bisa menampung tubuhnya. 

"Malam pertama yang manis," ucap Ghayda pelan. Ia putus asa.

* * *

"Kalian tunggu di sini, ya," pinta Ghayda. Ia beranjak dari kursi untuk meninggalkan kafe setelah menemani anak-anak menyantap donat kesukaannya. Ia berniat belanja bahan makanan. Namun, rupanya Hakim, Himma, dan Hisyam ikut bangun dari duduknya dan bermaksud ikut bersama Ghayda.

"Ngapain ke mall kalau cuma duduk-duduk doang?" celetuk Hakim.

"Aku juga mau jajan," tambah Himma.  "Liptintku sudah habis."

"Aku mau bantu Tante belanja," ucap si bungsu Hisyam.

‘Manisnya, gumam hati Ghayda. Ia tersenyum

"Kenapa, sih, enggak mau banget kita ikut?" tanya Hakim dengan ketus. Wajahnya dingin tak ramah. "Tante mau diam-diam shopping sendiri, ya? Mau ngabisin duit Kakek?"

‘Astaghfirullah! Anak satu ini kejam sekali menuduhku begitu. Ghayda hanya bisa kesal dalam hati. Kalau bukan cucu Pak Direktur, sudah kujewer kupingnya. Pedes banget tuh mulut,  rutuk Ghayda.

Lagi-lagi Ghayda tidak bisa menolak. Ia tidak mau berdebat dan bertengkar panjang lebar. Hatinya kesal bukan main dengan ucapan Hakim. Hakim memang the best untuk urusan menghancurkan hati orang.

"Jangan pergi jauh-jauh, ya. Tante mau ke bagian sembako," ucap Ghayda pada anak-anak. Ia kemudian mengambil bahan makanan yang sudah ditulis Mbok Siti. Hisyam mengekorinya belanja dan membantu mengambil sayuran dan bahan makanan lainnya.

"Terima kasih, Sayang," ujar Ghayda saat Hisyam membantunya mengambil kentang dan brokoli. Ghayda senang ditemani Hisyam yang penuh keceriaan. Hisyam sama sekali tidak merasa lelah dan menolak bila diminta berhenti membantu Ghayda. Si bungsu itu satu-satunya yang sangat menyukai Ghayda.

Keadaan supermarket lumayan cukup ramai mengingat besok adalah puasa pertama. Para ibu rumah tangga berdatangan untuk membeli kebutuhan dapur dan kebutuhan lainnya, seperti yang dilakukan Ghayda dan anak-anak. Terlihat beberapa orang berebutan dan menyerbu sebuah barang. Ghayda belanja dengan tenang, tidak terburu-buru. Himma memburu stan kosmetik. Ia melihat-lihat, memilih, kemudian mengambil kosmetik yang dicarinya. 

"Cantik sekali." Himma terpesona ketika melihat iklan di layar iklan. Potongan video itu menampilkan cantiknya Laudya Cintya Bella dengan hijab ungu yang anggun. Himma menatap penuh kagum. Segera ia berlari mencari Ghayda di tempat arena sembako.

"Tante!" seru Himma. Napasnya terengah-engah membuat heran Ghayda dan Hisyam. "Aku mau kayak artis Bella, dia cantik banget pake kerudung." Mata Himma berbinar. Beda banget sama dulu.

Ghayda dan Hisyam saling tatap. Keheranan mereka tak habis setelah melihat Himma berlari.  Terang wajah antusias Himma tampak jelas, tapi Ghayda senang melihat wajah cerah Himma yang jarang terjadi.

"Iya. Semenjak hijrah, artis Bella mengenakan hijab dan lebih islami sekarang," ucap Ghayda. 

"Apa itu hijrah?" tanya Hisyam dengan polos.

Ghayda terdiam lama. Ia mencari jawaban sederhana agar Hisyam dan Himma paham. "Hijrah itu mengubah perilaku dan mental dengan menjadi orang  yang lebih baik  sesuai perintah Allah. Ghayda menatap mereka satu per satu, keduanya serius mendengarkan. "Contohnya menutup aurat dengan mengenakan baju tertutup dan kerudung, rajin salat, mengaji," ungkap Ghayda. Ia juga ragu apakah kalimatnya bisa dipahami atau tidak.

"Aku cuma mau pake kerudungnya aja," celetuk Himma. Ghayda  terpana menyaksikannya.

=====

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan (END) 
9. Mencari Ayah untuk Anakku (END) 
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Suami Simpanan Bos
13. Dilamar Ustadz
14. Nikah Muda
15. Mencintai Kakak Ipar
16. Mertua Banyak Maunya

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Wanita yang Ternoda
3. Mengejar Cinta Gus
4. Menikahi Tuan Muda
5. Lelaki Masa Depan
6. Cool Bos
7. Fitnah di Pesantren
8. Pengasuh 100 Hari
9. Malam Pertama Khanza
10. Dihina Jelek di Reuni Sekolah Suamiku

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.