Misi Ramadhan Pertama
"Tante mencurigakan," ucap Hakim ketus. Remaja lelaki itu menoleh secepat kilat ke belakang tempat Ghayda berdiri, kemudian ia fokus kembali pada layar televisi di hadapannya. Ghayda tidak menjawab. Ia hanya diam berdiri di belakang sofa tempat Hakim dan kedua adiknya yang asyik menonton sambil sesekali cekikikan menertawakan karakter Pororo yang lucu. Ia memandang kepala ketiganya dengan tersenyum. Gadis itu tengah menyiapkan diri untuk membicarakan sesuatu dengan anak-anak.

"Duduklah!" kata Himma tanpa menoleh. "Aku tahu Tante mau katakan sesuatu," lanjutnya. Ia hafal sekali, tidak mungkin Ghayda berada di dekat mereka, mengendap-endap seperti kucing jika bukan karena sesuatu. "Hisyam, geser!" perintah Himma. Adik kecil itu menurut.

Ghayda menghampiri anak-anak sambil membawa sesuatu di tangan dan menunjukkannya pada mereka. Dua pasang baju koko, sarung, serta mukena merah muda. Semuanya rapi dan masih tergantung di gantungan baju. Hakim dan adik-adiknya menatap heran, mereka tidak mengerti untuk apa pakaian salat itu. Mereka baru saja selesai salat magrib.

"Malam ini tarawih pertama," ungkap Ghayda. Ia menanti ekspresi tiga kerucil yang masih menatapnya.

"Males, ah!" sahut Himma. "Cuma salat sunah, kan? Boleh enggak salat juga," tambah Himma. Hakim bergeming. Sepertinya isi hatinya sudah terwakilkan oleh adik perempuannya. Tak ada suara, hanya Pororo.

"Tante, aku masih kecil. Boleh tak ikut tarawih?" Hisyam menatap manja Ghayda dengan dua mata bulatnya yang cerah. Persis seperti yang dilakukan tadi siang.

Ghayda meletakkan busana salat itu di meja, ia duduk di samping mereka. Setiap kali ia mengajak anak-anak melakukan sesuatu yang tak biasa menurut mereka, ia harus berpikir agar bisa tembus ke hati tiga kerucil itu.

"Tarawih memang sunah. Boleh ditunaikan, boleh tidak," terang Ghayda penuh kehati-hatian. "Ditunaikan mendapat pahala, ditinggalkan tidak berdosa. Namun, salat tarawih sangat dianjurkan, bisa menambah amal baik kita di bulan Ramadan." Ia menatap anak-anak satu per satu. Ia menoleh pada Hisyam yang tengah mengunyah keripik.

"Hisyam, Sayang," ucap Ghayda. Ia mengelus rambut si bungsu itu. "Justru karena masih kecil, Hisyam bisa belajar bagaimana salat tarawih, biar nanti kalau sudah besar sudah paham," ucap Ghayda. Si keriting Hisyam terdiam.

"Tante," panggil Hisyam pelan. "Kalau aku enggak tarawih, puasa aku enggak batal, kan?" tanya Hisyam.

"Enggaklah!" cetus Hakim. "Di mana ada tarawih bisa batalin puasa. Ngarang kamu, Dek," lanjutnya. Hisyam memasang bibir cemberut dan merajuk pada Ghayda. Ia ngambek pada kakaknya.

"Tarawih itu seperti tambahan uang saku Hisyam. Biasanya Hisyam dapat jatah uang saku per hari Rp20.000, terus ditambahin sama Ayah Rp10.000. Pasti seneng banget, dong." Ghayda mencoba menyederhanakan kalimat agar Hisyam paham.

"Benarkah?" tanya Hisyam. Ekspresinya berubah semangat. "Pahalanya ditambah, ya?" tanya Hisyam lagi. 

Ghayda mengangguk. "Tambah disayang Allah pula."

"Aku mau salat tarawih di masjid." Hisyam bangun dari duduknya dan berdiri dengan ceria. Ghayda tersenyum melihatnya bersemangat.

Hakim dan Himma sudah menduga, Hisyam pasti mudah terbujuk. Namun, mereka tak menyangka dia akan terbujuk semudah itu. Hanya karena analogi uang saku.

"Azan sebentar lagi berkumandang. Yuk, ke masjid," ajak Ghayda lagi. Hakim dan Himma bergeming. Ghayda terus memikirkan bagaimana cara memberi mereka pengertian. 

"Rakaat tarawih banyak," ucap Himma masih beralasan. Ia tidak mau pergi dan berharap Ghayda berhenti membujuknya. 

Ghayda bisa memahami mengapa sulit sekali mengajak anak-anak untuk menunaikan kewajiban sebagai seorang muslim. Gadis berhati lembut itu sedih sekali melihat mereka yang kadang luput pada salat, mengaji, ataupun puasa. Mereka tumbuh tanpa orang dewasa di sisi mereka dalam kesehariannya, terutama orang tua. Ghayda merasa harus membuat mereka mau melaksanakan kewajibannya pada Tuhan secara perlahan. Mulai dari hal paling dasar, salat lima waktu.

"Perlahan-lahan, Sayang," sahut Ghayda pada Himma. "Himma boleh enggak tunaikan semua rakaatnya. Enggak masalah salat tarawihnya bolong-bolong kalau merasa berat, kan namanya belajar salat tarawih."

"Salat tarawih itu berat, bikin ngantuk, buat laper." Hakim ikut beralasan menguatkan Himma.

"Berat memang mengawali sesuatu itu, apalagi salat tarawih," sahut Ghayda. "Namun, kalau sudah terbiasa akan terasa ringan. Salat tarawih itu hanya ada di bulan Ramadan. Ramadan pun hanya 30 hari dalam setahun," tambah Ghayda. "Mau, ya? Malam ini aja. Tante janji, malam besok kalian boleh pergi atau tidak," bujuknya yang terakhir. Ghayda bisa merasakan beratnya perjuangan ini. Lebih berat daripada presentasi makalah di kelas.

Azan berkumandang seiring dengan suara riang Hisyam yang sudah rapi dengan baju koko, sarung, dan peci hitam di kepala. Hisyam tampak bercahaya, sampai Ghayda terpana melihatnya. Si keriting itu berlari menghampiri kedua kakaknya, ia menarik tangan mereka berbarengan agar bangun dari duduknya.

"Ayo, Kak, ke masjid," ajak Hisyam. "Kita bisa main di sana. Ketemu banyak orang sama temen-temen. Seru, lho!"

"Aku ngantuk, mau tidur," Himma beranjak dari sofa dan pergi ke kamar.

"Laudya Cintya Bella tidak hanya cantik wajahnya, ia juga cantik hatinya," kata Ghayda, kalimatnya menghentikan langkah Himma. "Tante yakin dia juga salat tarawih," lanjutnya. Himma terdiam sebentar, kemudian ia menyambar mukena merah jambu di meja.

"Aku mau ambil air wudu dulu," tunggu. Himma pergi ke kamarnya.

Sebelah keping hati Ghayda sudah bisa bernafas lega. Mata gadis itu kemudian mengalihkan pandangan perlahan ke arah Hakim yang masih bersandar di sofa. Merasa dirinya ditatap, Hakim menjadi salah tingkah. Selama ini tidak ada yang membujuknya sekeras Ghayda. Pak Musa dan Mbok Siti terkadang mengingatkannya salat dan ke masjid, tapi mereka tidak bisa memaksa. Sekarang di hadapannya semua orang rumah telah siap untuk ke masjid. Jika tidak ikut, ia akan sendirian di rumah. Semua mata memandangnya, seolah tanpa kata membujuk untuk ikut pergi salat tarawih bersama.

"Aku mau lihat bedug di masjid," ucap Hakim. Ia mengambil sarung dan baju koko yang telah disiapkan Ghayda.

=====

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan (END) 
9. Mencari Ayah untuk Anakku (END) 
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Suami Simpanan Bos
13. Dilamar Ustadz
14. Nikah Muda
15. Mencintai Kakak Ipar
16. Mertua Banyak Maunya

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Wanita yang Ternoda
3. Mengejar Cinta Gus
4. Menikahi Tuan Muda
5. Lelaki Masa Depan
6. Cool Bos
7. Fitnah di Pesantren
8. Pengasuh 100 Hari
9. Malam Pertama Khanza
10. Dihina Jelek di Reuni Sekolah Suamiku

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.