Bertemu Mama
"Tante!” teriak Hisyam. Ia berlari ke arah Ghayda sambil menangis dan menghamburkan diri ke pelukannya. Ia menangis tersedu-sedu sampai terdengar oleh orang-orang di sekitar mereka. Beberapa orang menoleh padanya. Ghayda terkejut melihat tiga kerucil itu berdiri di depan gedung kampusnya. Keterkejutan bertambah dengan histerisnya Hisyam dalam pelukannya.

“Kenapa, Sayang?” tanya Ghayda. Hisyam tak menjawab, ia terus menangis. Ghayda menoleh pada Hakim dan Himma. Mereka menggeleng seolah tahu bahwa Ghayda menanyakan alasan si bungsu menangis.

“Hisyam, jangan nangis, Nak,” ucap Ghayda. Ia melepas pelukannya untuk tahu keadaan Hisyam. “Bilang sama Tante, kamu kenapa nangis? Nanti batal, lho, puasanya.”

Hakim mendengus. “Mana ada nangis batalin puasa,” gumamnya lirih.

“Tante, aku mau makan. Laper,” jawab Hisyam, ia kembali menangis. Kepanikan Ghayda kini berubah senyum. Ia khawatir telah terjadi sesuatu, tapi ternyata Hisyam cuma mau makan.
“Hisyam, ini baru jam 10 pagi!” kata Himma. “Tanggung dua jam lagi.” Ghayda menurunkan posisi berdirinya, ia jongkok agar bisa melihat wajah Hisyam.

“Kamu lapar?” Ghayda mengusap air mata Hisyam yang tadi membanjiri pipi dan meninggalkan bekas di pakaiannya. “Udah enggak kuat? Enggak bisa bertahan sampai zuhur?” tanya Ghayda, Hisyam mengangguk lemas.

“Ya sudah, kita makan,” ujar Ghayda. Kalimat ini membuat Himma cemberut. Gadis berusia 12 tahun itu tidak menyangka Ghayda akan membolehkan adiknya makan.

“Di sini tidak ada warung yang buka. Kita makan di rumah, ya. Bisa?” tanya Ghayda. Hisyam tidak menjawab dengan sebuah kalimat. Ia hanya mengangguk sambil mengusap air mata yang sudah mulai mengering.

“Kalian ada apa ramai-ramai datang ke kampus Tante? Sama siapa ke sini?” tanya Ghayda. Pertanyaan ini sejak tadi ingin ia ungkapkan, tapi Hisyam terlebih dahulu menangis. 

“Kita cuma mau main,” jawab Hakim singkat. Ia berjalan menghampiri bangku panjang di samping lapangan.

“Tante bisa keluar meski lagi puasa, masa kita cuma duduk-duduk di rumah. Enggak makan, enggak sekolah. Bete!” keluh Himma, ia mengikuti Hakim.

Ghayda dan Hisyam pun akhirnya mengekori Himma. Mereka duduk di bangku panjang seraya memperhatikan para mahasiswa dengan seragam hitam kebesaran, pencak silat. Hakim mengedarkan pandangan ke seluruh sudut yang terjangkau oleh matanya. Kampus ini dipenuhi kendaraan bermotor roda empat berjejer rapi yang terparkir di samping lapangan tanpa pemilik. Hanya sedikit orang atau mahasiswa yang berlalu lalang. Hakim sempat bertanya ke mana pemilik kendaraan itu, Ghayda hanya menjawab bahwa para mahasiswa itu sedang mengikuti perkuliahan di kelas.

“Tante kan keluar rumah bukan untuk main.” Ghayda menjawab keluhan Himma. “Hari ini ada kuliah pagi sampai siang, makanya sekarang Tante di sini,” terangnya. Entah Himma mendengarkan atau tidak. Ia tidak menatap Ghayda dan malah menunduk sambil memainkan kakinya.

“Wah! Rupanya sekarang kalian enggak mau jauh dari Tante, ya,” celetuk Ghayda. Ia ingin sekali mencairkan suasana dingin di bawah matahari pukul 10.00. Hakim sibuk menonton latihan silat. Himma tak memasang senyum manisnya sejak tadi. Si ceria Hisyam pun belum membuka mulut. “Senang sekali dibucinin tiga anak.” Ghayda tertawa senang.

“Bucin? Ogah!” sahut Hakim.

“Maunya. Jangan mimpi, ya, Tante.” Gadis yang kini sengaja menguraikan rambut panjangnya itu hanya memberi sedikit lirikan sinis.

“Ah! Cepat sekali kalian patahin hati Tante,” ucap Ghayda. Ia sudah menyangka akan seperti itu tanggapan mereka.

“Tante, kita ke time zone, yuk!” ajak Himma. Ia sudah berdiri dan menatap Ghayda. “Kampus ini kan dekat dengan mall.”

“Lagi puasa, Sayang. Nanti capek,” tolak Ghayda. “Boleh ke mall, tapi jangan main, ya?” Ghayda menggeleng. Begini memang kalau sudah berada di luar rumah, mall yang dituju. 

“Berangkat!” Hakim bangkit.

‘Anak ini! Sampai kapan mau membantahku terus?’ gumam hati Ghayda. Ia masih harus kalah dengan satu kata oleh Hakim.

“Di mall ada tempat buat minum, kan?” tanya Hisyam tiba-tiba.

“Iya, Nak,” jawab Ghayda tersenyum. Ia mengusap-usap rambut Hisyam. Ghayda merasa kasihan pada si bungsu itu, semangat dan cerianya hilang karena lapar.

Mereka berempat berjalan beriringan menghampiri mobil yang terparkir agak jauh. Pergi ke mall sudah diputuskan oleh Hakim. Padahal Ghayda masih ada satu mata kuliah hari ini. Melihat anak-anak datang untuknya, ia ragu untuk lanjut belajar.

“Ghayda, kamu tidak kelas? Dosen Hukum Konstitusi baru saja masuk.” Raden, teman sekelas Ghayda tiba-tiba mengejutkan. Ia hendak masuk kelas.

“Oh, Raden. Sepertinya aku harus tidak masuk dulu. Tolong sampaikan izinku, ya,” pinta Ghayda. Ia menunjuk ke arah anak-anak dengan matanya.

“Baiklah,” sahut Raden. Ia tersenyum dengan isyarat mata Ghayda. Ia paham, anak-anak membutuhkannya. “Besok-besok jangan bawa anak-anakmu ke kampus. Kasian mereka bisa mati berdiri menunggumu kuliah,” ucap Raden. Himma menyipitkan matanya tanda tak suka dengan ucapan Raden. Begitu juga Hakim yang mendelik tajam.

“Anak-anak,” panggil Raden pada Hakim dan kedua adiknya. “Ibumu ini cerdas banget, enggak pernah salah kalau jawab pertanyaan dan ujian. Dia juga baik, suka bantuin bikin tugas. Jaga baik-baik, ya.” Raden kemudian berlalu setelah mengucapkan selamat tinggal. 

“Siapa yang dia sebut ibu?” Himma berdecih dan bergumam. Lama sekali ia tidak mendengar kata ibu.

“Raden!” Ghayda menghentikan langkah Raden dan menanyakan apakah dia boleh meminta air yang belum diminumnya. Raden memberikan karena Ghayda meminta untuk Hisyam. 

Hisyam sudah terlalu haus dan lelah untuk berjalan. Ghayda memberikan minum itu pada Hisyam dengan penuh kasih sayang. Hati Ghayda teriris bahkan hanya melihat keringat yang turun dari pelipis Hisyam. 

‘Hisyam sudah cukup belajar hari ini,’ gumam Ghayda.

Himma memperhatikan leher Hisyam yang mengalirkan air segar ke perutnya. Rasa ingin minum menular ke lidah dan pikirannya. Kalau Ghayda membolehkan, ia akan sangat berterima kasih. Namun, ia sadar itu tidak mungkin terjadi. Baru saja selesai Hisyam dengan air minumnya, mereka dikejutkan oleh seseorang.

“Hakim, Himma, Hisyam,” seorang wanita dewasa menatap ketiga anak itu penuh haru. Air mata menggenang tak terbendung akhirnya mengalir dari pipinya. Ghayda tidak tahu siapa dia. Wanita berambut pendek sebahu, setelan blazer, dan celana panjang bermotif garis biru-putih, penampilan yang cantik meski klasik. Ia menoleh ke ketiga anak itu yang juga menatapnya. Ekspresi tak mengerti tergambar di wajah Himma dan Hisyam. Namun, ada yang aneh dari raut wajah Hakim.

“Akhirnya, Mama bertemu kalian juga. Ini Mama, Sayang,” ucap wanita itu.

Mendengar kalimat itu, wajah Hakim berubah merah. Ada kemarahan yang timbul dari hatinya. Kedua pasang mata menatap kakaknya karena wanita itu menatapnya penuh rindu.

“Kak, katanya dia mama kita. Benarkah?” tanya Himma. Ia tidak tahu sama sekali.

“Dia mamaku?” tanya Hisyam. 

“Bukan! Mama ada di samping kita,” jawab Hakim dengan tegas. “Kita tidak punya mama seperti dia. Hanya Ibu Ghayda.”

Tangis wanita itu mengalir deras. Ghayda terkejut dengan ucapan Hakim. Begitu juga dengan adik-adiknya. Mereka tak mengerti dengan apa yang terjadi.

“Hakim,” kata wanita itu.

“Aku tidak tahu siapa kamu. Namun, kami cuma punya satu ibu,” tegas Hakim dengan sorot mata tajam. Merah di bola matanya tidak bisa disembunyikan. Sesuatu menggenang di dalamnya.

“Ayo, Bu. Kita pulang!” Hakim menarik tangan Himma. Himma mengambil tangan Hisyam dan Hisyam meraih tangan Ghayda yang masih bingung tak mengerti. Mereka berlalu tanpa menghiraukan wanita yang menangis sendiri.

“Tante, jadilah ibuku,” pinta Hakim. Ia membuat Himma dan Hisyam menunggu di luar mobil bersama Pak Musa untuk mengucapkan itu. Ghayda ingat kalimat ini, Pak Tua. Ia menanyakan apa yang terjadi, tapi Hakim bergeming. Ia malah mengatakan hal aneh.

“Aku bayar berapa pun asal Tante mau jadi ibuku.” Sikap Hakim saat mengucapkan kalimat itu begitu tegas, layaknya laki-laki dewasa.

Kepala Ghayda tiba-tiba berputar. Kenapa kakek dan cucunya selalu mengatakan hal aneh kepadanya? Anak itu berubah tidak sopan ketika marah, pikirnya. Ghayda memegangi kepalanya.

‘Aku benar-benar mengalami mimpi buruk di siang bolong.’ Serangan denyut menyerbu kepala Ghayda. ‘Pahitkah mimpi ini? Atau malah mimpi manis?’

====

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan (END) 
9. Mencari Ayah untuk Anakku (END) 
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Suami Simpanan Bos
13. Dilamar Ustadz
14. Nikah Muda
15. Mencintai Kakak Ipar
16. Mertua Banyak Maunya

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Wanita yang Ternoda
3. Mengejar Cinta Gus
4. Menikahi Tuan Muda
5. Lelaki Masa Depan
6. Cool Bos
7. Fitnah di Pesantren
8. Pengasuh 100 Hari
9. Malam Pertama Khanza
10. Dihina Jelek di Reuni Sekolah Suamiku

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.