Rindu Ibu
"Yeeeaaay! Sebentar lagi magrib!” seru Himma girang. Ia berlari mengelilingi meja makan yang sedang diisi Ghayda. Hisyam mengikuti dari belakang dan mengejarnya.

Ghayda melihat dengan penuh syukur, Himma berhasil sampai penghujung puasa di hari pertamanya. Si cubby itu juga berhasil menahan lapar dan dahaganya meski 4 jam hanya bisa berbaring di sofa, tubuhnya lemas. Awalnya Ghayda khawatir terjadi sesuatu pada si lesung pipi itu, tapi Himma menolak membatalkan puasa. Ia mengatakan masih kuat.

“Sayang, Tante, 2 jam lagi magrib,” ucapnya ketika Ghayda memintanya minum.

Ghayda menata semua makanan di atas meja makan panjang yang cukup untuk 6 orang. Berhubung tidak ada sang ayah, serta Mbok Siti dan Pak Musa tidak mau diajak makan bersama, akhirnya hanya Ghayda dan anak-anak yang mengisi meja itu.

“Hisyam, hati-hati. Awas jatuh!” Ghayda memperingatkan Hisyam yang berlari sambil tertawa kencang mengitarinya. “Udahan, ya. Duduk, 10 menit lagi azan magrib,” perintah Ghayda. Himma dan Hisyam menurut. Wajah Himma bersinar bahagia melihat makanan kesukaannya sudah tersaji rapi di hadapannya. Ayam goreng saus jagung.

“Tante kenapa sih bolehin Hisyam minum pas di kampus Tante?” tanya Himma. Rasa penasarannya belum hilang sejak tadi siang.

“Hisyam masih kecil, baru 5 tahun,” jawab Ghayda. Ia menoleh ke arah Hisyam yang tersenyum genit kepadanya. “Memperhatikan usia dan keadaan tubuhnya, Hisyam boleh puasa setengah hari. Adikmu masih belajar pelan-pelan sampai ia cukup puasa seharian. Hisyam sudah hebat sekali berpuasa 5 jam.” Ghayda mengacak-acak rambut Hisyam, gemas. “Tante bangga sama kamu. Terima kasih sudah mau belajar,” ucapnya dengan senyum haru. 

Himma terenyuh melihat keharuan di mata tantenya. Tangan lembut itu mengacak rambut adiknya, membuat ia ingin juga merasakan itu. Namun, ia terlalu gengsi untuk meminta.

“Apa ibu Tante juga begitu waktu Tante belajar puasa?” tanya Himma.

Ghayda spontan menghentikan aksinya, ia terkesiap dengan pertanyaan Himma. Ghayda terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Gadis itu tidak mau suasana haru menjadi kesedihan. Ghayda hanya bisa tersenyum canggung pada Himma.

“Oh, ya. Mana Hakim?” tanya Ghayda. Ia berusaha menghindar dari pertanyaan Himma. “Dari tadi Tante belum lihat kakak kalian,” sambungnya.

“Kakak menyendiri dari tadi siang,” jawab Hisyam yang mulutnya penuh ayam goreng. “Aku lihat Kakak di taman belakang.”

Ghayda segera bangun dari duduknya. Ia khawatir pada Hakim yang sama sekali tidak berbicara sepulang dari kampus. Hisyam benar, Hakim sedang duduk sendiri di bangku kayu panjang di taman kecil belakang rumah. Ia menghampiri remaja itu pelan-pelan.

“Hakim kenapa? Apa yang buat kamu murung begini?” tanya Ghayda. Ia melihat ekspresi marah dan sedih menjadi satu di wajahnya. “Ungkapkan, nangislah kalau ingin menangis. Marah-marah juga boleh. Jangan dipendam, kamu bisa sakit.” Hakim menggeser duduknya, menjauh dari Ghayda.

“Apakah karena wanita yang tadi siang?” tebak Ghayda. Wanita yang menyebutnya dirinya ibu tadi siang itu juga mengusiknya.

“Jangan ungkit itu! Aku enggak suka!” kata Hakim tegas dengan nada tinggi.

“Baiklah. Tante minta maaf,” ucap Ghayda. Nada tinggi anak itu membuat Ghayda ciut. “Ya sudah. Tante enggak akan bahas ini, tapi kita ke dapur, ya. Sebentar lagi magrib, kamu harus buka puasa. Yuk!” ajak Ghayda. Ia berdiri di hadapan Hakim, Hakim masih terdiam. 

“Kalian buka puasa duluan saja, aku enggak lapar. Aku makan habis magrib,” tolak Hakim.

“Menyegerakan berbuka itu sunah,” sahut Ghayda tersenyum dengan tingkah ngambek Hakim.
Kuliah tujuh menit di masjid sudah mengalir terdengar. Selawatan di masjid lain juga meramaikan langit menyambut suka cita berbuka puasa. Gelapnya sore sudah merayap menutupi cahaya siang. Siluet pun ikut redup perlahan, gelap akan menggantikannya. Angin sejuk dan dingin mulai datang. Azan magrib akan tiba, kebahagiaan orang berbuka puasa akan memuncak. "Kebahagiaan orang berpuasa itu ada 2. Pertama, kebahagiaan ketika datangnya waktu berbuka. Kedua, jika menghadap Tuhannya.”

“Hakim, dengerin Tante. Kita boleh terluka, karena Allah yang berikan. Terkadang kita harus terluka untuk lebih bahagia dan menyadari kasih sayang Allah,” ucap Ghayda. Terlihat Hakim mengusap pipinya. Air mata Hakim rupanya turun tanpa Ghayda sadari karena ia memilih menundukkan kepala ketika didekati Ghayda.

“Jadilah ibuku, Tante,” isak Hakim. 

“Kita bicarakan ini nanti, ya,” sahut Ghayda. Antara kepepet magrib dan kikuk dengan kalimat itu, Ghayda ingin segera membawa Hakim ke dalam rumah. 

“Ayo!” Ghayda mengambil lengan Hakim, memaksa bangun. Untungnya anak itu menurut dan bangun dari duduknya. Jadi, Ghayda tidak perlu menarik tangan itu.

***

“Hisyam! Makannya bareng, dong,” ucap Himma. Ia kesal melihat si bungsu tak berhenti makan sejak tadi. “Hargain Kakak, dong. Kakak puasa ini.”

“Berapa? 2.000 rupiah?” ucap Hakim tiba-tiba muncul dari balik pintu. Raut wajahnya sedikit cerah. Ia mencoba menyembunyikan sendu di balik hati dan tak ingin menampakkan di wajahnya. Ia tak boleh membuat adik-adiknya khawatir.

“Kakak! Jangan mancing-mancing kemarahan aku, deh. Udah magrib, nih.” Himma mengerucutkan bibirnya.

“Kalau mau marah, ya marah aja,” kata Hisyam. “Si tukang marah-marah kan selama ini Kak Himma.” Hisyam tertawa senang dan menularkan tawanya pada Hakim. Gadis yang diledek adiknya itu menyilangkan kedua lengan di dada. Cemberut.

Ghayda ikut tertawa senang dengan suasana ini. Ia bersyukur sekali melihat pemandangan di sekitarnya. Keceriaan ini bagai potret yang baru dilihat seumur hidup. Hatinya mengembang bagai terisi angin dan terbawa meniup kelenjar air mata, kemudian menggenang di netra Ghayda. Haru. ‘Apakah ibuku pernah menatap haru seperti ini? Atau ini hanya rasaku saja karena pengaruh permintaan Hakim?’ gumam hati Ghayda. ‘Ah, Ibu.’ Tak ingin terus larut dalam tangis, Ghayda menyudahi keceriaan itu dengan meminta mereka duduk. Azan magrib sedang berkumandang.

“Bismillahirrahmaanirrahiim. Allahumma laka shumtu wabika aamantu, wa’alaa rizkika afthartu birahmatika Ya Arhammaraahimiin.”

“Aku lupa es krim,” ucap Himma mengejutkan tante, adik, dan kakaknya yang tengah berbuka puasa.

“Makan es krim setelah tarawih aja,” tukas Hakim. “Makan nasimu dulu, sakit perut nanti!” Himma batal berdiri dan kembali duduk. Jiwa seorang kakaknya keluar.

Ghayda tertegun. ‘Tarawih? Apa itu berarti mereka akan ikut ke masjid lagi?’ ia bertanya dalam hati.

* * *

“Gimana puasa pertama hari ini?” tanya Ghayda sambil memberikan es krim yang mereka pilih saat ngabuburit ke Alfamart tadi sore.

“Seru!” seru Himma dan Hisyam. 

“Ganti dulu bajunya, nanti kotor,” pinta Ghayda. Ia membatalkan memberikan es krim itu karena ketiganya belum ganti pakaian sejak pulang dari masjid. Namun, Hakim tak beranjak dari sofa. 

“Usiaku baru 9 tahun ketika Mama pergi. Kata Ayah, Mama tengah berjuang meraih mimpinya. Kutunggu pulang, tapi Mama tak muncul juga. Ayah bilang Mama belum selesai. Aku terus bersabar dengan merindukannya, tapi Mama bahkan tak menelepon kami. Aku membencinya.” Hakim menangis, sementara Ghayda tertegun. Es krim mulai meleleh, sedangkan ia membeku. Hatinya hancur melihat Hakim.

“Tiba-tiba aku melihatnya hari ini. Bagaimana mungkin aku tidak membencinya,” lanjut Hakim. “Aku marah padanya. Ingin sekali kukatakan aku tidak membutuhkannya lagi.”

“Tante tahu apa yang kamu rasakan. Itu bukan kebencian, itu rindu. Kamu merindukan dengan dalam sampai tak kuasa membendungnya. Akhirnya, kamu salah mengartikan itu sebagai kebencian,” sahut Ghayda. Ia duduk menghadap Hakim. “Aku tidak tahu bagaimana menjadi ibu, karena belum pernah sekali pun bertemu dengannya.”

Hakim menatap Ghayda. Ia terkejut dengan penuturannya. “Kalau Tante tahu rasanya, kenapa sulit sekali mengabulkan permintaanku? Tolong, jadilah ibuku di depan wanita itu dan teman-temanku. Aku tidak mau lagi mendengar mereka merundungku karena tak punya ibu.”

“Kamu dirundung? Kenapa tak bilang Tante?” Ghayda terkejut dengan pengakuan Hakim. Ia tidak tahu tentang itu sama sekali. “Aku akan jadi ibumu,” ucapnya.

=====

Jangan lupa like dan komennya ya. Mau dapat penghasilan dari baca cerita saya? Caranya gampang banget lho. Kamu cukup share link cerita dan mempromosikan ke teman-teman kamu. Jika ada yang beli koin di novel ini, kamu juga bakal dapat penghasilan.

Ceritanya :
1. Suami Rahasia
2. Demi 500 Juta (END) 
3. Dinikahi Bos Jutek (END) 
4. Pura-pura Mlarat (END) 
5. Lipstik di Leher Suamiku (END) 
6. Pasca Bercerai (END) 
7. Dipoligami Karena Mandul (END) 
8. Pangeran Arogan (END) 
9. Mencari Ayah untuk Anakku (END) 
10. Ditinggal Pada Malam Pertama (END) 
11. Suamiku Mata-Mata
12. Suami Simpanan Bos
13. Dilamar Ustadz
14. Nikah Muda
15. Mencintai Kakak Ipar
16. Mertua Banyak Maunya

Ada juga cerita yang belum dikunci lho. 
1. Dua Hari Bersama Mas Duda
2. Wanita yang Ternoda
3. Mengejar Cinta Gus
4. Menikahi Tuan Muda
5. Lelaki Masa Depan
6. Cool Bos
7. Fitnah di Pesantren
8. Pengasuh 100 Hari
9. Malam Pertama Khanza
10. Istri Pengganti

Kapan lagi baca novel sekaligus dapat cuan? Yuk dishare.