Pulanglah, Shaina
"Sabar, Nak. Terkadang takdir terasa pahit. Tapi percayalah dalam setiap air mata yang berguguran, ada ampunan Allah untukmu."

Suara Mama terdengar lembut. Meski samar Shaina melihat air mata di sudut kelopak matanya yang sayu. Sepertinya Mama tengah menyembunyikan luka dan sakit hati saat mendengar kisah rumah tangganya.

Shaina hanya diam, berusaha mencerna apa yang dikatakan wanita yang telah melahirkan dirinya dan merawat serta mendidik dirinya menjadi wanita yang tangguh dan sabar.

Sejenak Shaina hanya membisu ketika Mama menyodorkan  gelas berisi air teh hangat ke hadapannya, juga sepiring bolu cake buatannya yang sudah di iris. Mama memang jago masak dan bikin kue. Dengan keahliannya dia bertahan  dan membiayai hidup serta sekolah dua putrinya. Hasna dan dirinya setelah kepergian ayah mereka  yang dipanggil ke haribaan Ilahi, tepatnya sejak Hasna berusia lima tahun.

"Minumlah, Sha. Kamu kelihatan kurus dan pucat."

Shaina menghela nafas berat. Bagaimana tidak kurus, hati dan jiwanya sangat sakit. Diceraikan tanpa alasan yang jelas, kemudian dipaksa tinggal di rumah belakang yang kurang layak huni. Sementara di rumah utama, mantan suami dan istri barunya tengah merenda manisnya malam pertama dan indahnya madu perkawinan layaknya pengantin baru.

"Sabarlah, Nak. Mama tahu bagaimana keadaanmu di sana, nanti kalau kamu kembali ke rumah itu, Mama akan minta Ikbal memindahkanmu ke paviliun depan. Seperti juga kamu yang masih berkewajiban untuk tinggal di rumah itu, dia juga berkewajiban memberimu tempat tinggi layak dan memberimu nafkah."

"Iya, Ma."

Shaina perlahan menghirup teh nya.

"Aku juga kalau Ikbal tidak bisa meminta Ibunya memindahkan aku,  juga tidak akan mau kembali. Kasihan Affan, di kamar belakang udaranya sangat lembab."

"Baiklah, Nak. Sekarang istirahatlah. Pergunakan tiga hari bersama Mama untuk memulihkan kondisimu." Karena hari sudah agak malam,. Mama meminta Shaina segera tidur. 

Shaina beranjak ke kamar Hasna adik perempuan satu-satunya, yang sedang tidak ada di rumah karena sedang menginap di rumah temannya terkait beberapa tugas kuliah yang harus dikerjakan bersama. 

Perlahan Shaina menutup pintu dan merebahkan tubuhnya di sisi Affan yang sudah terlelap sejam lalu. Mata Shaina terlihat sendu saat menatap bayi mungilnya yang tampak lelap dan tenang, tak menyangka di usianya yang masih sangat kecil Affan harus mendapati kedua orang tuanya berpisah. 

Shaina memeluk tubuh Affan dengan dada yang berdenyut. Menciuminya dengan air mata yang merembes begitu saja, menyadari di usianya yang masih sangat dini, Affan harus tumbuh hanya dengan seorang Ibu tanpa hadirnya seorang ayah dalam hidupnya.

"Mas Ikbal, harusnya Affan ada dalam dekapanmu malam ini. Bayi sekecil ini, rasanya belum pantas menjalani hidup yang sepi tanpa kehadiran seorang ayah. Maafkan Mama, Nak...Maafkan, ibumu yang tidak sanggup menjadi perempuan terindah buat papa mu." Hati Shaina menjerit.

Click, lagi-lagi air mata Shaina lolos begitu saja.


***

Saina tercenung menatap layar ponsel ditangannya. Tiga hari genap sudah dia menginap di rumah Mama. Pesan Ikbal terpampang jelas, menyuruhnya kembali.

[ Shaina, pulanglah. Aku rindu Affan.]

[ Rindu Affan? ]

[ Tentu saja. Dia anakku.]

Shaina tersenyum pahit. Egois nya seorang laki-laki. Satu kalimat mengatakan rindu pada anaknya, tapi satu kalimat lagi mungkin tengah merayu seorang Lastri istri barunya.

[ Aku tidak mau pulang, jika aku masih harus menempati kamar belakang yang lembab. Lebih baik aku di sini dari pada Affan sakit.]

Send.

Shaina menunggu balasan Ikbal. Ingin tahu seberapa besar nyalinya dalam memperjuangkan kebahagian seorang Affan  anaknya. Sanggupkah dia menentang Ibu?

Rumah besar itu milik Ibu. Pantas segalanya seolah dibawah kendalinya. Ibu, perempuan paruh baya yang sejatinya teramat dihormatinya
Itu  tidak pernah benar-benar menerima kehadiran dirinya sebagai bagian dari rumah itu. Ibu adalah penguasa mutlak di rumah itu. Jangan kan Ikbal, Bapak pun harus tunduk pada keinginannya.

[Shaina, aku...aku tidak bisa.]

Pesan balasan  Ikbal datang setelah agak lama. Sepertinya pria itu harus berkonsultasi dulu pada Ibu tentang keinginan dirinya.

[Kenapa tidak, bisa? Affan anakmu, dia berhak mendapat tempat yang layak di rumahmu.]

[Aku tidak bisa menentang keputusan Ibu.]

Shaina tertawa getir membaca pesan Ikbal. Laki-laki tidak punya nyali, bahkan untuk kebaikan dan  kebahagiaan anaknya sendiri.

[Baiklah, jangan pernah bermimpi aku kembali ke rumah itu. Mas, masa iddahku masih lama, jadi aku mohon izin mu untuk tinggal di rumah Mamaku.]

[Shaina, aku mohon. Biarkan aku  tetap bisa melihat Affan.]

[Cukup.]

Shaina mengetik pesannya dengan dada yang terasa panas 

[Kamu ayah dari Affan. Bahkan untuk berjuang hal sepele pun tak mampu. Kamu memang tak layak dipanggil ayah. Kamu lebih rela melihat anakmu menderita asma karena tinggal di ruang lembab belakang rumahmu, dari pada berjuang memohon kelembutan hati Ibumu.]

Send.

Sepi. 

Shaina meletakkan gawainya di samping tempat tidur. Dengan wajah menahan marah dan sedih, dia menatap wajah bayi mungilnya. Perlahan dia merunduk, mengambil Affan ke dalam dekapannya.

"Maafkan, Mama. Bukan Mama ingin menjauhkan dirimu dari ayahmu, tapi jika bersama pun, hanya akan membuatmu terluka, seperti ini lebih baik, Nak."

Air mata Shaina, lagi-lagi lolos di kedua bola matanya.

***

Seminggu sudah Shaina menghabiskan hari di rumah Mama. Melewati harinya yang sederhana dengan mencoba melupakan sakit hatinya atas takdir perceraiannya yang terasa pahit. Jika ada waktu  senggang,  Shaina membantu Mama membuat kue pesanan pelanggan Mama yang kini lumayan banyak. Affan pun, tak takut terlantar. Bayi lucu itu dilimpahi kasih sayang yang tulus dari Nenek dan Tantenya. Jika Shaina ada keperluan, dengan suka cita Mama  menjaga Affan  bergantian dengan Hasna.

Senja baru saja masuk. Affan sudah dimandikan sore dan telah berganti dengan pakaian hangat.  Wangi kayu putih, sabun dan shampoo bayi menguar lembut di tubuhnya yang gemuk dengan wajah lucu yang menggemaskan. Membuat siapapun yang memandang nya akan merasa jatuh cinta dan gemes.

Shaina dan Mama tengah bersantai di teras, sesekali menimpali celoteh lucu Affan yang terlihat senang melihat pemandangan di halaman rumah Neneknya yang asri. Matanya seketika berbinar saat sepasang kupu-kupu cantik terbang tak jauh di depannya, kaki dan tangannya bergerak-gerak lincah ingin menangkap. Tak hentinya Shaina memandangi Affan dengan hati yang penuh.

Jagoan kecilnya bukan hanya menjadikan hari-harinya sibuk tapi juga menjadi indah dan penuh warna.

Mama sejenak termenung.  saat matanya  seketika menangkap seseorang turun dari mobilnya yang di parkir di di sisi jalan, memasuki halaman rumahnya. Tubuhnya yang tinggi terlihat kukuh di bawah guyuran sinar mentari senja.

"Mas Ikbal?" Suara Shaina tercekat, saat menatap wajah di depannya yang tampak menebar senyuman rindu ke arah Affan.

Ikbal perlahan mendekat ke arah Shaina dan Mamanya. Setelah dengan takjim mengucap salam, sedikit terbata dia menatap ke arah ibu dari anaknya.

"Shaina, pulanglah."

"Apa?"