Pelajaran Pertama Untuk Pelakor
HUM

Shaina merebahkan tubuhnya di sisi Affan. Hari sudah agak larut, diluar paviliun tempat dia berbaring tak terdengar suara apapun selain detak suara jam.

Shaina melirik buah hatinya yang terlelap dengan tenang. Sepertinya Affan tidak mengerti apa yang dirasakan ibunya. Betapa Shaina merasa begitu tidak nyaman  tidur di atas kasur empuk di ruangan ini.

"Dek, tidur ya. Mas, sudah beresin semua perabotan kamu dibelakang. Besok habis sahur semuanya Mas angkut." Ikbal mberitahu dirinya tadi sebelum dirinya mengunci paviliun saat Ikbal baru pulang membelikan nasi goreng untuk Bapak.  Rupanyaa Ikbal juga membawakan nasi goreng dan jus jeruk panas kesukaannya.

"Makasih,Mas," 

"Mas, juga belikan ini." Ikbal menyodorkan krim anti nyamuk untuk bayi. Dia masih sangat hafal kalau Affan digigit nyamuk akan rewel dan susah kembali tidur. Biasanya Ikbal dengan telaten yang menidurkan kembali sambil di ayun sampai Affan terlelap kembali.

Ikbal memang sempurna. Tampan, lembut dan penyayang. Satu yang dia tidak miliki adalah kesetiaan dan cinta. 

Shaina menerima bawaan Ikbal tanpa suara. 

"Dek, kalau ada apa-apa panggil Mas."

Kali ini Shaina melengos.

"Ada yang marah kalau aku sering manggilin kamu, Mas." Suara Shaina pelan.

Ikbal hanya tersenyum tipis, matanya sedikit melongok ke dalam ruangan sepertinya mencari sosok Affan di atas kasur.

"Boleh Mas masuk sebentar, Dek. Belum memeluk Affan," pintanya membuat Shaina sedikit kaget.

"Tidak usah, Mas. Hari sudah malam. 

"Sebentar saja, Dek."

Shaina berusaha mendorong pintu agar Ikbal pergi.

"Pergilah. Talakmu sudah terucap, sekali lagi aku minta jangan terlalu manis padaku. Karena sikap manismu bukan hanya membuatku lemah tapi juga sakit." Shaina mendorong pintu lebih keras, membuat perlahan wajah tampan Ikbal mundur dan hilang dari pandangan, saat pintu tertutup rapat.

Shaina terisak, mengingat kejadian demi kejadian bersama Ikbal.


***

Tak terasa sinar pagi menerobos lembut ke tirai jendela kamar Shaina. Mata Shaina menatap jam dinding di depannya, sudah pukul tujuh kurang lima menit. Sepertinya malam dia tidur cukup pulas. Sehabis sahur dan solat subuh, seperti biasa Shaina membaca Al Qur'an sehingga tak menyadari hari sudah beranjak pagi. Shaina perlahan bangkit dan melipat mukena  sajadahnya, menyimpannya di tempat biasa.

Kemarin-kemarin, sebelum perpisahan itu terjadi, biasanya jam seperti sekarang, dirinya sudah mengantar Ikbal di depan teras untuk berangkat kerja. Tak lupa cium dan doa mengantarnya sampai mobil yang membawa suaminya hilang dari pandangan.

Ini hari pertama sejak dia kembali dari rumah Mama. Terdengar aktifitas di ruang utama sedikit riuh.

" Bu, lihat tas nya keren kan?" Suara Lastri terdengar nyaring seperti disengaja agar Shaina bisa mendengarnya. Suaranya Terdengar sangat ceria dan berisik. Sepertinya dia ingin memamerkan belanjaan yang dibelinya semalam bersama ibu. 

"Tentu saja itu kan tas mahal, Sayang. Berapa harganya?" Suara Mama terdengar tak kalah nyaring.

"Dua juta saja, Bu." Terdengar jawaban Lastri diselingi tawa jumawa yang ditujukan pada dirinya.

"Belum gamis dan sepatu serta kerudungnya ya, Bu. Pokoknya lebaran pertama di rumah suami, aku ingin tampil istimewa."

Shaina hanya mendengarkan dari dalam kamar. Membayangkan total belanja Ibu dan Lastri untuk hari raya. Mahal sekali. Shaina menelan ludah.

"Bu, kerudungnya merk De geboys saja. Sutra Turki asli, paling cuma lima ratus ribu."

"Tentu saja, Sayang. Kamu cocok dengan baju mahal seperti itu." Ibu menimpali dengan entengnya membuat dada Shaina terasa sesak. Betapa royalnya Ibu pada Lastri. Berbanding jauh jika yang meminta itu adalah dirinya. Ibu sangat pelit dan perhitungan. 

Jujur, hati Shaina sakit. Ibu bukan hanya pelit terhadap dirinya bahkan untuk Affan pun Ibu sangat pelit. Pernah Affan sakit keras, Ibu malah melarang Affan berobat ke dokter spesialis Anak dengan alasan biaya berobat ke sana cukup mahal dan malah menyarankan untuk di obati di Puskesmas terdekat saja.

"Mas Ikbal, lihat aku cantik kan?" seru Lastri sepertinya dia memanggil  Ikbal untuk memamerkan baju barunya.

Dasar bini sontoloyo, bukannya bergegas mengurus suami yang akan berangkat kerja malah asyik membongkar belanjaan di waktu yang tepat. Batin Shaina keki.

"Mas, lihat penampilanku dong. Kenapa sih?" seru Lastri manja.

"Aku kesiangan, Lastri. Aku juga belum menyiapkan berkas." Terdengar jawaban Ikbal seperti orang tergesa.

" Lastri, kamu siapkan kaos kaki sama sepatuku. Hari ini ada meeting penting dengan atasan baru." Bukannya menanggapi Ikbal malah meminta Lastri menyiapkan sepatu dan kaos kakinya.

"Apa Mas? mana aku tahu kamu menyimpan kaos kaki dan sepatumu, suruh Shaina mencarinya."

Apa? Shaina terlonjak di ruangannya. Lastri menjawab begitu enteng.

"Kok Shaina? Bukankah kamu yang jadi istriku sekarang?"jawab Ikbal terdengar jengkel.

"Tapi kan dia yang lebih tahu," potong Lastri tidak tahu malu.

"Suruh dia yang nyari, Mas. Jangan seenaknya dia cuma  tidur dan makan di rumah ini dengan gratis." Suara Lastri ketus bukan main.

"Astaghfirullah, Mbak." Hilang sudah kesabaran Shaina, perkataan Lastri sangat menjengkelkan. Dengan cepat dia keluar dari kamarnya sambil menggendong Affan yang sudah terbangun.

"Hampir sebulan kau jadi istri Mas Ikbal, masak kamu belum tahu menyiapkan kebutuhan suamimu?" seru Shaina kesal. Tak sedikitpun sikap gentar di wajahnya.

"Kamu seharusnya sudah banyak belajar melayani dan menyiapkan kebutuhan suamimu,"lanjut Shaina kesal.

"Hey, Shaina...kenapa harus aku? bukan kamu saja, hitung-hitung balas Budi karena kamu sudah tinggal di rumah ini dengan gratis." Bukannya gegas mencari keperluan Ikbal Lastri malah mengajak bertengkar.

"Lagian, tidak tahu malu sekali sudah ditalak pun kau masih tinggal di sini." Lastri mencebik. Shaina tertawa, menanggapi kebodohan istri baru suaminya. Dengan langkah tenang dia mendekati Lastri yang masih memegang belanjaannya.

"Lastri sebagai perempuan terpelajar seharusnya kau mengerti hal dasar seperti ini."

"Maksudnya?"


"Kau seharusnya mengerti kedudukanku di rumah ini, Lastri. Dengar, saat Mas Ikbal mentalaku dengan talak satu kemarin maka selama masa Iddah baginya masih memiliki kewajiban memberiku tempat tinggal dan juga nafkah. Jadi kalau kau berpikir aku tidak tahu malu masih tinggal di rumah ini, kaulah yang tidak tahu malu. Berpendidikan tapi tidak mengerti apa-apa." Suara Shaina terdengar jelas dan terkontrol. Seulas senyum manis terlihat merekah dari bibir tipisnya. Sontak membuat wajah Lastri memerah. Sukar baginya membantah apa yang dikatakan Shaina. Tak menyangka perempuan yang dikiranya lemah dan bodoh bisa mempermalukannya sedemikian rupa.

Ibu pun yang bersiap menyudutkan Shaina tidak mampu bersuara. Tak menyangka Shaina bisa setangguh itu.

"Mas, mau kucari kan kaos kaki dan sepatunya?" Shaina melirik Ikbal.

"Bo-boleh, Shaina. Aku takut terlambat, hari ini ada meeting penting di kantor."

"Baik, Mas. Aku minta izin masuk kamarmu. Terakhir aku menyusunnya di lemarimu." 

"Tunggu, Shaina. Lancang sekali kau mau masuk kamarku. Tak tahu malu." Lastri maju ke depan. Wajahnya sinis menatap Shaina.

"Begitu?" Shaina menatap Lastri dengan tatapan dingin.

"Kalau begitu, kamu yang mencari kaos kaki Mas Ikbal." Shaina gegas berbalik arah.

"Shaina tapi di mana kamu menyimpannya, hah?"tanya Lastri terdengar panik.

Shaina tidak menjawab. Lenggang kangkung, dia masuk kamarnya tanpa sedikitpun menoleh apalagi menjawab tanya Lastri.

"Kamu cari sendirilah, Ganjen." bisik hati Shaina, tak Sudi diperalat dan direndahkan seorang pelakor seperti Lastri. Lastri terlihat celingukan dan gagap mencari dan menyiapkan apa yang diminta Ikbal.

Matahari makin meninggi, suasana di ruang utama terdengar kacau. Ikbal sepertinya kesal bukan main karena Lastri tidak berhasil menemukan kaos kaki yang disimpan Shaina dengan rapi. Tak henti dia mengomel karena hari ini dia akan datang terlambat dalam agenda penting di kantornya.

Di dalam kamar Shaina, di ruang Paviliun rumah Ikbal, terdengar nyanyian lembut dan ceria Shaina yang tengah memandikan jagoan kecilnya.