Biarkan Aku Kuat Tanpamu
"Oh ya, Mas. Sekalian dibawain teh anget manis." Lastri melirik Ikbal yang tiba-tiba membeku.

"Lastri." Suara Bapak berat dan menyimpan amarah.

"Kau bisa makan bersama kami di sini." 

"Rumah ini sudah menjadi rumahmu lagi pula tidak pantas kamu meminta suamimu untuk melayani,"lanjut Bapak terlihat kesal.

" Iya,Sayang. Yuk makan bersama, sini Ibu ambilkan nasi." Melihat gelagat tak enak gegas Ibu bangkit dan menuntun menantu kesayangannya untuk Duduk di sebelah Ikbal.

Lastri terlihat memasang wajah tak ramah kepada Bapak.

"Duduklah, lain kali jangan diulangi sikap tak baikmu, bagaimanapun Ikbal suamimu, hormati dia."

"Sudahlah, Pak. Lastri ini anak orang kaya, mungkin di rumahnya dia biasa dilayani." Ibu dengan cepat menyela. Rasanya tak enak hati dengan ucapan suaminya yang terkesan menyudutkan Lastri.

"Anak orang kaya atau orang miskin, kedudukan suami baginya sama. Imam keluarga bukan pelayan."

"Sudahlah, Pa. Maafkan Lastri istriku." Ikbal menengahi. Suasana sahur jadi berubah tegang.

"Lain kali ajarkan istrimu sopan santun dan adab, Bal."

" Iya, Pak." Ikbal cepat menjawab perintah Bapak. Sementara Lastri urung duduk bersama keluarga suaminya, dengan kesal dia meletakkan piring dan sendok ya.

"Nak Lastri?" Ibu kaget dengan sikap Lastri yang tampak marah.

" Maaf, Bu. Saya tidak jadi makan."

"Nak, jangan begitu. Ayo kita makan bersama. Jangan dengarkan perkataan Bapak, dia memang sudah agak pikun orangnya."Ibu mengejar Lastri yang ngambek.

"Ratna, duduk." Bapak membentak Ibu. 

"Kamu sih, jadi ngambek kan mantu kita?" Ibu mendelik wajahnya kesal sekali.

"Biarkan dia ngambek. Ayo kita makan."

"Ogah."

Ibu memasang mimik gusar. Dengan wajah yang tak sedap, dia meninggalkan meja makan.

Ikbal tepekur di meja makan. Baru sehari tanpa Shaina, hal -hal sepele dan biasanya menyenangkan jadi ribet dan panas.


***


Wajah Shaina tampak memerah tertimpa sinar senja. Dia urung pulang pagi karena harus merapikan kamar. Ibu rewel terus dengan ruangan kosong depan kamarnya, katanya berantakan dan lembab. Masyaa Allah. Membuat pagi tadi Shaina sibuk berbenah.

 Tak apalah, jarak ke rumah Mama tak begitu jauh. Hitung-hitung ngabuburit, pikirnya berjalan menuju teras. Ikhlas rasanya lebih baik saat ini. Membuat hati juga lebih ringan.

Shaina mengerti takdir hidupnya terasa begitu pahit saat ini, tapi dia yakin dalam nestapa Allah tidak pernah meninggalkan hambaNya seorang diri.

"Shaina, pamit ya Pak. Beberapa hari ini akan menginap di rumah Mama." Shaina berpamitan kepada Bapak dengan takjim. Bapak mengangguk berat. Wajah tuanya tampak sedih membelai Affan.

"Apa tidak terlalu sore, Nak?" tanyanya khawatir. 

"Insyaa Allah tidak, Pak."

"Nak, jangan lama-lama, ya. Bapak nanti kangen sama jagoan lucu ini...eh, senyum sama  kakek ya? Gantengnya cucu kakek." Bapak menepuk lembut pipi gembil Affan sambil bergurau.  Ekspresinya terlihat sedih.

"Mas, aku pulang dulu." Pamit Shaina, melirik Ikbal yang berdiri tak jauh dari Bapak. 

"Dek, berapa hari di sana?"

Shaina tertegun. Pertanyaan Ikbal tidak biasa.

"Apakah perlu aku menjawabnya, Mas? Talakmu sudah jatuh, aku kira berapa hari pun aku di rumah orang tuaku itu tidak penting bagimu," jawab Shaina lirih.

" Tapi bersamamu ada Affan anakku." Ikbal menatap tajam ke arah mantan istrinya.

" Anakmu memang bersama ku, tapi suatu saat  seperti juga diriku, dia akan pergi dari hidupmu."

" Shaina?"

Shaina tertawa pahit.

" Kamu pikir setelah masa Iddahku habis, aku akan terus tinggal di sini?"tanya Shaina sinis.

"Bahkan jika engkau mengizinkan, aku akan menghabiskan masa Iddahku di rumah orang tuaku."

Ikbal menelan ludah. Tidak menyangka kalau kepergian Shaina dalam hidupnya akan terasa pahit.

" Selamat tinggal, Mas. "

"Shaina, tunggu..."

Ikbal berusaha menjejeri langkah Shaina.

" Sayang, baik-baik sama Mama. Muach.." Ikbal menatap Affan yang bergerak lucu dengan ekspresi gemas.

" Sini cium lagi." Ikbal kembali menempelkan wajah tampannya di wajah Affan. Menciumnya berkali-kali.

Shaina melengos. Ada nyeri melihat pemandangan manis  Affan bersama Papanya.

Mas, kalau memang Affan berharga untukmu, mengapa kau hadirkan perempuan angkuh itu dalam hidupmu?hati Shaina merintih.

Shaina mendongak, berusaha agar air matanya tidak lolos.

" Affan senyum Nak, ish...ish...gantengnya anak Papa." Ikbal masih terus menatap dan membelai kepala Affan dengan lembut. Senyumnya merekah lebih lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. 

Deg. Shaina lagi-lagi hanya melengos. Tak ingin luluh.

"Maaf Mas, saya pergi dulu. Hari sudah agak sore."


"Dek, diantar ya?" Suara Ikbal parau.

"Tidak usah, Mas. Biarkan aku kuat berjalan tanpamu."

Tapi...

"Terimakasih. Sampaikan salam ku pada Ibu dan Mbak Lastri."

Shania mundur. Membuat Affan yang bergerak-gerak lucu terlepas dari jangkauan Ikbal.

"Dek, hati-hati..." Ikbal terlihat berat, matanya terus melekat pada Affan dalam dekapan Shaina.

Shaina hanya mengangguk kecil. Selintas diliriknya Bapak yang menatapnya dengan sedih.

"Bal, antar istrimu."

Shaina menggeleng. Saat melihat Ikbal bergegas membuka pintu mobil yang kebetulan sudah terparkir di halaman.

"Dek, masuk. Mas antar."

Lagi-lagi Shaina menggeleng.

" Tidak Mas, terimakasih. Izinkan aku terbiasa menjalani hidupku tanpamu."

Duh.

Ikbal terpaku, sia-sia dia meminta. Hatinya terasa berubah Beku, saat perlahan tubuh Shaina berlalu di hadapannya. Jiwanya mendadak hampa menatap mobil pesanan Shania yang perlahan pergi menjauh dan hilang dari pandangannya.