Masakan Terakhir Mantan

Hadiah 2

Shaina bergegas kembali ke ruangannya yang terletak di belakang. Tak urung air mata rasanya lolos begitu saja. Suasana di ruang makan Ikbal yang meriah sangat kontras dengan suasana di kamarnya yang teramat sederhana dan sepi. Hanya ada tempat tidur usang dan onggokan perabot sederhana di ujung ruangan, juga ada Affan yang tertidur lelap.

Shaina menyeka air matanya, rasa sedih ini hadir bukan karena kamar ini tak layak huni tapi ada perasaan sakit yang rasanya kian terasa. Perasaan di buang dan dinistakan. Sakit.

Mengapa ibu tak mengizinkan dirinya menempati paviliun di depan yang diperuntukan untuk tamu, bukan Shaina gila hormat tapi bagaimanapun bersamanya ada seorang bayi kecil darah daging keluarga ini.
Suasana kamar Bi Marni yang sedikit lembab, membuat dirinya khawatir dengan kesehatan Affan.

"Jangan minta jantung, ya. Sudah untung masih kutampung di rumah ini. Kamu kan bukan siapa-siapa lagi di rumah ini. Cuma mantan menantu."

Astaghfirullah. Shaina menelan ludah, ketus sekali nada suara Ibu kala itu, saat dirinya minta izin pindah ke paviliun karena Affan.

"Saya gak masalah di belakang Bu. Tapi kamarnya lembab, saya takut Affan kenapa-kenapa.". Shaina berusaha menjelaskan.

"Halah, gak usah banyak alasan. Bilang saja kamu mau tidur di kamar enak."

"Astaghfirullah, Ibu. Affan masih bayi, Bu. Saya..."

"Cukup, Shaina. Aku pokoknya tak mengizinkan kamu pindah ke paviliun, selama iddahmu, kamu tetap di ruangan itu. Setelah selesai, bawa semua barang-barangmu."

Click. Air mata Shaina kembali lolos. Tuhan, sebegitu rendahkah arti kehadiran dirinya di mata Ibu?

Sebegitu lebarkah jurang yang menganga antara dirinya dan Ibu? apa karena keluarganya hanya orang miskin dan sederhana, sehingga tak sedikitpun Marwah di mata Ibu? Bukankah Ikbal dulu melamarnya baik-baik?

Shaina sepertinya tidak mengerti, kalau Ikbal hanya menjadikan dirinya pelarian di saat Lastri meninggalkannya.

Perkenalan singkat mereka di sebuah apotik saat dirinya kehilangan dompet dan Ikbal yang membayar sampai berujung pernikahan, tak setulus yang dia pikir. Sekarang saat Lastri kembali, hati pria itu dengan utuh dipersembahkannya kembali pada wanita cantik dan kaya itu.  Lastri Alexandra putri, nama yang cantik secantik yang memilikinya. Shaina mendesah lirih.

Shaina menghela napas. Dengan wajah sedih, kembali menghenyakkan tubuhnya di sisi Affan yang mulai gelimpang-gelimpung ingin mimik. Dengan hati-hati Shaina meraih anaknya dan memberinya ASI, mendekapnya erat dengan penuh cinta. Hanya bayi mungil ini yang menjadi pelipur segala lara dan nestapanya. Hanya Afffan yang selalu membuat hatinya merona bahagia.

Maghrib perlahan pergi, sebentar lagi adzan Isa berkumandang. Taraweh pertama ini Shaina akan melaksanakannya di rumah saja. Ramadhan tahun lalu, dia melaksanakannya di mesjid di kampung ini bersama Ikbal. Tak terasa ada air mata yang lagi-lagi lolos di matanya, mengingat momen manis itu tinggal kenangan.

Ikbal bukan hanya berubah tapi juga bukan lagi miliknya. Shaina menyadari kalau mulai hari ini dirinya harus berjuang melupakan apapun tentang Ikbal. Ikbal cuma masa lalu yang kan hilang seiring waktu.

****

"Dek..sahur."

Shaina mengerjap. Ketukan halus dipintu kamarnya membuat dia segera terbangun. Semalam dia sulit tidur, sehingga hari ini bangun kesiangan. Tapi, tunggu, jam masih pukul tiga, suara ibu memasak di dapur yang tidak jauh dengan ruangan ini pun masih terdengar.

"Mas Ikbal?" Shaina termenung, mendapati Ikbal berdiri di depan pintu kamarnya.

"Maaf aku baru bangun, Terimakasih." Shaina mengerjap-ngerjapkan mata yang terasa masih berat, tapi..untuk apa dia minta maaf? Tak ada kewajiban baginya untuk masakin sahur keluarga Ikbal seperti biasanya, Shaina mengusap rambutnya yang lepas di kening dan bersiap membalik badan.

"Eit, tunggu."

"Sebentar, jangan dulu di tutup." Ikbal menahan pintu agar tetap terbuka.

"Aku ingin melihat, Affan." Suara Ikbal pelan.

Ah, Shaina mundur. Ragu dia memberi jalan pada Ikbal.

"Kamu sahur dengan apa, Dek?" tanya Ikbal berkerut melihat penampakan kamar Shaina. Ada magic com di pojok ruangan dan beberapa peralatan masak seadanya.

Shaina menunduk. "Itu tak penting buatmu, Mas. Aku buka dan sahur dengan apa," jawab Shaina lirih.

"Tentu saja penting, kau ibu anakku. Kau masih menyusui Affan."

"Lalu kalau aku ibu anakmu dan masih menyusui Affan kenapa?"

Ikbal melengos dan mengalihkan pandangannya dengan mencium Affan yang tertidur. Bibirnya rapat,  pertanyaan Shaina rasanya sulit untuk di jawab.

"Gak usah di cium-cium, nanti dia bangun. Aku mau menyiapkan makan sahur dan solat, nanti siapa yang mau gantiin jagain dia." Suara Shania pelan tapi tajam.

Ah, Ikbal mendesah. Berat hati melepas pelukannya di tubuh Affan yang menggemaskan. Baru seminggu dia tak tidur bersamanya, rasanya rindu hati tidak terkira.

"Keluarlah, Mas. Kita bukan suami istri lagi."

Ikbal menelan ludah. Berat hati beringsut menjauhi tubuh mungil Affan yang menggeliat karena gerakan di ranjangnya saat Ikbal bangkit.

"Dek, sahur yang banyak. Biar air tetenya juga keluar banyak."

Shaina hanya tersenyum pahit.

"Gak usah terlalu manis, Mas. Kalau sikap manismu hanya bikin aku diabetes. Maaf, aku mau makan sahur dulu." Ikbal tersenyum pahit. Apa yang dikatakan Shaina benar adanya, tapi kok sakit mendengarnya.

Shaina bergegas menutup pintu saat jeritan kecil suara ibu di dapur terdengar nyaring.

"Aduh tanganku tersayat pisau, aduh..."

Wajah Shaina tampak terkejut. Otaknya dengan cepat memerintahkan untuk keluar, dan menengok Ibu mertuanya, hanya saja hatinya menolak dengan tegas. Cukup Shaina, sayatan pisau ditangan Ibu tak sebanding dengan sayatan kata-kata dan sikapnya di hatimu.

***

Ibu merintih-rintih saat memakaikan anti septik cair di tangannya. Mukanya meringis kesakitan, ternyata pisaunya cukup tajam membuat sayatan di jarinta cukup lebar dan dalam. Selama ini, Shainalah yang memasak untuk sahur dan berbuka. Jadi Ibu tidak tahu bagaimana rasanya memasak sambil mengantuk.

"Harusnya, Lastri yang masak, Ratna, bukan kamu." Bapak yang baru keluar nyeletuk dengan dengan wajah sedikit ditekuk.

"Kamu itu sudah tua, matamu juga sudah rabun. Harusnya sudah istirahat, bukan krayap-krayap di dapur kek sekarang."

Ibu mendelik.

"Aku masih kuat, Pak. Berisik."

"Kuat katamu? Itu tanganmu sampai berdarah kayak gitu gara-gara keiris pisau, kamu bilang masih kuat?"

Bapak tersenyum kecut.

"Ikbal, bangunkan istrimu. Gantikan Ibumu masak."
Bapak melirik anak semata wayangnya.

"Gak usah Ikbal, Ibu masih bisa lanjut kok." Ibu bersikeras, sungkan rasanya menyuruh mantu kayanya masak.

"Terserahlah, dari dulu ngeyel kok dipelihara." Bapak menggerutu.

"Apa aku panggil Shaina, biar gantiin Emakmu masak, Bal?"

Ufs, Ikbal menelan ludah. Matanya menyapu ke ruangan belakang di mana ada Shaina dan Affan.

"Jangan, Pak.  Gak elok kalau Shaina yang masak. "

"Terus?"

Ikbal terdiam. Dia sudah bangunin Lastri buat bantu masak Ibu tapi apa katanya? Dia masih ngantuk dan gak mau diganggu. Keren kan?

"Aku saja yang masak, Pak."

"Jangan, Bal. Istrimu masih waras, ngapain kamu laki-laki yang masakin. Aneh-aneh saja." Bapak bersungut. Ikbal garuk kepala, baru saja dua hari menjalani  romadhon tanpa Shaina, hal sepele pun tiba-tiba berubah rumait.

Ibu masih merintih, saat Bapak dan Ikbal masih bersitegang.

"Aku yang masak." Tiba-tiba sosok semampai Shaina sudah hadir di depan mereka. Ikbal melongo.

"Siang nanti aku menginap di rumah Mama untuk beberapa hari. Sekarang aku yang masak buat Bapak," ujar Shaina lirih. Dia memang sakit hati sama Ibu, tapi melihat wajah bapak yang sangat menyatanginya hati Shaina luluh.

"Bapak gak suka masakan yang dihangatkan. Sini, Bu pisaunya, biar Shaina yang menyiangi ikannya."

Ibu mengatupkan bibirnya. Dengan ekspresi senang dan kesel, dia menyerahkan pisaunya pada Shaina. Dengan cekatan Shaina menyiangi ikan kesukaan Bapak dan menyiapkan bumbu.

"Selesai, Bu. Bapak, Mas...silahkan makan. Saya permisi." Shaina tersenyum hormat, setelah selesai menata makanannya di meja. Harum masakan Shaina menguar membuat perut langsung menjadi lapar.

Bapak tersenyum ramah dan memaksa Shania ikut makan bersama, dan hanya dijawab dengan anggukan dan penolakan halus.

Sementara Bapak memuji masakan Shaina, Ibu hanya membisu seribu kata. sementara di ujung meja makan lainnya, Ikbal tepekur menatap sajian lezat di meja makan depannya, hatinya sedikit  sendu.

Apakah mungkin ini masakan terakhir Shaina di rumah ini. Batinnya dalam hati lirih. Entah mengapa,  Ada yang rasanya hilang di sudut hatinya. Bukan hanya masakan Shaina nan lezat yang akan sulit ditemui, tapi juga wajah tulus dan penuh cinta Shaina juga yang ikut hilang.

Kok sakit?

"Hoaaammmm...." Saat dirinya dan Bapak sudah bersiap duduk di meja makan, tiba-tiba tampak bayangan Lastri yang mengantuk dan menguap dengan muka ditekuk dan rambut awut-awutan mendatangi mereka. Tampa mengenakan  bulu mata palsu cetar membahananya, mata Lastri tampak kuyu dan tak seindah biasanya

"Mas, aku makan di kamar saja. Tolong bawain."

What?