Jangan Hiraukan Aku
HUM 5


Shaina tak segera menjawab, permintaan pulang dari Ikbal. Rasanya tak mudah bagi Shaina menuruti permintaan mantan suaminya itu begitu saja. Apalagi balasan pesan WA Ikbal  waktu itu, yang terkesan ragu dan lemah. Apa bisa pria lemah seperti dia memperjuangkan  nasib dirinya dan Affan di rumah ibunya yang diktator?

"Apa mungkin aku pulang ke rumah orang yang dengan mudah mencampakkan aku begitu saja, Mas?"

"Pulanglah, Dek. Massa iddahmu masih lama, kau masih harus tinggal di rumahku." Suara Ikbal terdengar berat.

"Di kamar pengap dan lembab di belakang rumahmu, Mas? Sementara bersamaku ada seorang bayi yang masih rentan? Maaf aku bukannya tak mau, tapi Affan tidak bisa kembali ke rumah itu lagi."
Shaina berusaha menolak demi kebaikannya dan juga Affan.

"Kau akan tinggal di paviliun depan, Dek. Dekat dengan kamarku."

Deg.

Dekat dengan kamar Ikbal, mesti beda ruangan, tapi tetap saja rasanya agak berat bagi Shaina.  Sanggupkah aku setiap saat melihat pria yang dicintai dalam pelukan wanita lain? Desis hati Shaina  merasa Serba salah.

Paviliun itu terletak di bagian depan rumah Ibu. Selama ini ruangan itu diperuntukkan   jika ada tamu yang menginap. Ruangannya cukup luas dan nyaman, dengan kasur dan furniture kelas satu. Selera Ibu memang sangat bagus. Lahir dari keluarga kaya dan terpandang, membuat Ibu memiliki selera yang cukup tinggi dalam banyak hal. 

Berbanding terbalik dengan Bapak. Lahir dari keluarga petani nan sederhana membuat jiwa bapak lebih sederhana dan rendah Hati. Ibu adalah anak atasan Bapak di perusahaan tempatnya bekerja. Ayah Ibu yang jatuh hati pada kejujuran dan sikap Bapak yang baik dan rajin di perusahaan membuatnya menjodohkan Bapak dengan Ibu. 

Tak ada yang janggal dalam rumah tangga mereka. Bertahun menjalani mahligai rumah tangga dengan harmonis meski hanya dikaruniai seorang anak. Ikbal. Anak yang bukan hanya berpendidikan tinggi, tampan tapi juga penurut. Bahkan saking penuturnya, saat Ibu tak mengizinkan pergi dari rumahnya saat berumah tangga, pria itu hanya menerima begitu saja. Padahal sebagai pria yang sudah bekerja dengan posisi yang sudah lumayan, gaji Ikbal sangat cukup untuk membina keluarga kecilnya. 

Sampai pertemuannya dengan Ibunya Lastri, di reuni teman SMA membuat segalanya mulai berubah. Lastri yang ternyata anak sahabat lamanya, membuat Ibu yang dari awal tak menyukai kehadiran Shaina memiliki tekad untuk menyatukan kembali cinta Ikbal dan Lastri yang pernah kandas.

"Dek, bagaimana?" Pertanyaan Ikbal membuat Shaina yang sedikit melamun jadi gelagapan.

"Pulanglah, Nak." Kali ini suara Mama yang menimpali.

" Talakmu adalah talak Raj'i. Artinya talak satu atau dua di mana suamimu masih punya kesempatan untuk merujukmu. Dimana masa iddahmu adalah tiga kali suci. Salah satu kewajiban selama Iddah adalah tidak meninggalkan rumahnya kecuali atas izin suami atau ada satu hal Yang mengharuskan dirimu pergi dari rumah itu." Mama menjelaskan panjang lebar, seolah mengerti kebimbangan Shaina.

Shaina hanya terdiam. Sepertinya dia sedang berpikir keras.

"Ba-baiklah, Ma. Aku ingin membuktikan sejauh mana ayah dari anakku bisa berjuang." Shaina menyindir pelan,  membuat wajah Ikbal sedikit memerah.

Karena hari sudah beranjak senja, Shaina gegas berkemas untuk ikut kembali pulang bersama Ikbal, meski dengan hati Yang sangat berat.

Pelukan dan air mata Mama juga tatapan sedih Hasna saat melepas kepergiannya tak urung membuat air mata Shaina ikut meleleh. Kepulangan dirinya ke rumah Ikbal kali ini tidak biasa. 

"Pergilah,Nak. Tunaikan syariat Allah dengan ikhlas. Berdoalah padaNya, mintalah yang terbaik untuk hidupmu dan Affan.  Sekali lagi ingat pesan Mama, di sepertiga malam, dalam sholat dan setiap dzikir yang kau ucapkan, Allah hadir untuk mendengarkan segala kesedihan  dan doamu, Nak." Shaina mengangguk, menyeka air mata yang lolos begitu saja.

"Baiklah Ma." Shaina  memaksakan tersenyum dia tidak ingin lemah, pun di hadapan Ikbal pria yang bukan hanya telah memberikan kenangan indah tapi juga kenangan pahit dalam hidupnya.

***

Langit sudah jingga dengan sempurna saat Shaina dan Ikbal sampai di rumah. Samar di beberapa masjid sudah terdengar lantunan adzan Maghrib. Ikbal bergegas membawakan tas Shaina dan membawanya ke paviliun. 


Shaina tergopoh-gopoh di belakang Ikbal dengan memeluk Affan lebih erat. Konon, senja seperti sekarang tak baik untuk bayi berkeliaran di luar rumah.

Ikbal menaruh tas milik Shaina di atas kasur, berbalik menatap mantan istrinya menyuruhnya segera masuk. Rumah terasa sepi, kata Ikbal Ibu dan Lastri tengah shoping dari siang tadi. Kebiasaan baru yang ditularkan Lastri pada ibu, belanja dan menghabiskan uang. Keren.

"Dek, istirahatlah. Nanti barang mu yang tersisa di belakang, Mas ambilkan semuanya setelah selesai sholat." Ikbal bergegas keluar kamar.

"Mas, apa Ibu setuju aku pindah ke mari?" Shaina terlihat tak nyaman dengan tempat barunya.

"Aku masih berkewajiban memberimu tempat tinggal yang layak dan nafkah, Shaina. Urusan Ibu biar aku yang menghadapi," kata Ikbal meyakinkan.

"Tapi...aku merasa tak enak. Ini bukan rumahmu, ini rumah Ibu. Kamu juga mengerti betapa aku tidak berharga di matanya."

"Sudahlah, Dek. Beristirahatlah, nanti kita pikirkan yang terbaik."

Shaina hanya mengangguk. Hati-hati meletakkan Affan di atas kasur dan bersiap untuk berwudhu dan menunaikan solat magrib.

Shaina melipat mukenanya, saat terdengar ketukan Ikbal di luar kamar.

"Dek, Mas mau keluar. Mau dibelikan apa?"

Ah, Mas Ikbal engkau masih tetap tak berubah. Manis, lembut dan perhatian. Sayang,semua itu kini hanya membuat hati Shaina makin tersayat. Shaina merasa segala kebaikan Ikbal lebih menyakitkan dari pengkhianatannya. 

"Dek..." Ikbal kembali mengetuk kamar Shaina.

"Mas, tidak usah." Perlahan Shaina membuka pintu kamarnya. Tak sengaja tengadah menatap wajah mantan suami nya. Masih wajah yang sama, tampan lembut, hanya saja kini semua itu bukan miliknya.

"Tak usah merepotkan, Mas. Aku bisa nyari makan sendiri."

" Tapi, aku mau keluar Dek. Papa minta dibelikan sate dan nasi goreng. Kamu aku beliin nasi goreng saja ya. Aku hafal nasi goreng  kesukaanmu. Banyakin sayurnya dan sedikit minyak. Ok."

"Cukup, Mas."

Shaina melengos.

"Sudah kukatakan, berhentilah bersikap terlalu manis padaku, kalau semua itu hanya akan membuatku makin terluka dengan talakmu. Pergilah, jangan hiraukan aku."

"Shaina, kamu..."

"Sekali lagi Cukup, aku bisa melayani diriku sendiri." Shaina tersenyum pahit. Secepat kilat matanya berpaling ke arah lain agar air mata yang selalu saja lolos tiba-tiba tidak terlihat.

Mata Ikbal menyapu wajah Shaina yang terlihat lebih tirus. Hatinya mendesah, apa  betul dia benar-benar menginginkan perceraiannya dengan Shaina?

Apakah hatinya mampu menatap wajah lembut itu sepi dan terluka? Apa betul jika dia tidak benar-benar mencintai ibu dari anaknya sehingga tega memberinya kata talak bahkan di waktu yang tidak tepat?

Perlahan Ikbal mengangguk, membiarkan Shaina menutup pintu kamarnya dengan rapat.  
Langkahnya gontai menjauhi kamar di mana ada Affan buah hatinya dan ada perempuan yang teramat mencintainya yang kini statusnya hanya mantan.

Ikbal menghela napas sendu, menyadari kalau antara dirinya dan Shaina, kini terhalang tembok yang tinggi.