Romadhon Yang Sepi

Hadiah Terakhir Untuk Mertua

"Shaina kita berpisah." Suara berat yang begitu dihafalnya terdengar dalam dan menghujam kalbu. Shaina tergagap, wajahnya memucat. Tak menduga, kalau kumpulan keluarga ini tak hanya membahas perempuan lain di hati Ikbal suaminya, tapi lebih perih dari segalanya, Ikbal memutuskan mentalaknya secepat itu.

"Mas, apa yang kau ucapkan?" Suara Shaina terdengar getir.

"Kau...kau mentalakku?" lanjutnya hampir punah di kerongkongan. Ikbal hanya mengangguk. Tak sepatah katapun keluar dari bibirnya. Dan itu sangat menyakitkan. Shaina tersedu, wajahnya memerah seketika.

"Mas, tak adakah waktu untukku?"lirih tanya perempuan yang tengah mendekap bayi mungil di pelukannya. Nyaris tak terdengar.

"Kenapa perceraian ini, kau hadirkan di saat sebentar lagi bulan Ramadhan kan tiba?" Kembali suaranya terdengar kali ini lebih sendu dan bergetar.

"Mengapa di saat orang lain menatap indahnya bulan maghfirah dalam kebahagian dan senyuman, justru aku harus mengisinya dengan tangisan. Jawab, Mas? Sehina ini aku dihadapanmu, sehingga aku tak memiliki masa walau hanya sesaat agar aku menjalani bulan indah ini dengan senyuman?"

Sepi.

"Mas, jawablah. Tidak adakah sedikit waktu untuk bayi kita menjalani indahnya Ramadhan pertama dengan orang tua yang utuh?"  Suara Shaina tersendat. perempuan yang dengan wajah berurai air mata dan bibir bergetar itu, terus meminta.

"Aku tahu cintamu bukan untukku, tapi setidaknya kau berjuang untuk bersamaku sampai Ramadhan ini berakhir."

"Maafkan, aku Shaina...aku tidak bisa bersamamu lagi."  Laki-laki berwajah teduh itu mengucap, suaranya datar dan minim ekspresi.

"Lastri tak memberiku pilihan. Menikahinya dan menceraikanmu, atau tidak sama sekali."

Shaina menggeleng.

"Mas Ikbal, aku tahu kau mencintainya. Aku juga mengerti Lastri berharga untukmu. Tapi aku tidak mau, Affan menjalani lebaran pertamanya tanpa orang tua yang lengkap..."

"Cukup, Shaina. Jangan merajuk, putusan suamimu sudah bulat. Terima saja, jika jodohmu dengan Ikbal sampai di sini."

"Betul, kan Ikbal?"

Tak ada jawaban, tapi pria yang sudah menjadi imamnya dan memberinya seorang putra itu samar mengangguk.

Serrr. Shaina tersedu. Hatinya porak poranda.

Shaina mengerjap. Suara perempuan paruh baya di sebrang meja yang selama ini begitu dihormatinya yang terdengar dingin dan tegas serta bahasa tubuh Ikbal suaminya, cukup sudah memupuskan harapannya, untuk tetap menggapai secuil keajaiban tentang mahligai rumah tangganya yang kandas dengan cara yang menyakitkan.

Suasana berubah senyap, tak ada lagi permohonan dari bibir pucat Shaina yang mendadak terdiam. Bapak yang duduk disamping Ibu juga hanya terdiam, wajahnya menyimpan sedih tapi tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Semenjak pensiun, Bapak seolah selalu kalah di rumah ini, suaranya tidak pernah di dengar Ibu.

Langit rasanya berubah kelabu. Hancur sudah seluruh rasa di hati Shaina. Dengan wajah yang masih berbalut luka dan tanya dia bangkit.

"Mas, jika itu sudah menjadi pilihanmu, aku terima talakmu. Terimakasih, sudah pernah menjadi Imamku. Maafkan segala ketidak sempurnaanku selama menjadi istrimu."

Ikbal hanya mengangguk. Dan itu cukup bagi Shaina untuk memutuskan  menutup semua kenangan dan episode hidupnya bersama pria itu.

***

Hati-hati Shaina meletakkan Affan yang terlelap di atas kasur. Bayi delapan bulan yang sudah pandai mengeluarkan suara ini terdengar sangat merdu di telinganya, sekaligus menjadi pelipur lara di saat hatinya sedang terluka.

Seharian ini Shaina banyak menghabiskan waktu di kamar. Jika Affan anteng dia melanjutkan tilawah Al-qurannya, sesekali Shaina menulis pesan WA dengan Mama dan Kakaknya di rumah.Tak banyak yang bisa dilakukannya selama masa Iddah ini, selain bersabar dan berserah diri.

Seminggu sudah talak Ikbal untuk dirinya, dan ini hari pertama Shaina menjalani Ramadhannya di ruangan belakang di rumah besar ini. Sepi dan hampa.

Ruangan ini adalah bekas kamar Bi Marni pembantu Ibu yang memilih berhenti karena ingin mengurus orang tuanya di kampung yang sudah udzur. Kamar ini sudah lama kosong, dan kini ini menjadi kamarnya. Beruntung kamar ini juga cukup luas, sehingga Shaina bisa menaruh perlengkapan masak sederhana yang dibawanya di rumah Mama di sudut ruangan.

Shaina tersenyum getir. Seandainya dia tak ingat syariat yang mengharuskan dia tetap tinggal di rumah suami sampai masa Iddah, enggan rasanya dia tetap bertahan bersama orang -orang yang telah membuangnya dengan cara yang menyakitkan.

Shaina jarang ke luar kamar kecuali hal yang sangat penting. Bukan karena rasa sakit yang selalu mendera jika matanya menatap ruangan di rumah utama, dimana ada pria yang dicintainya tengah bersenda gurau dengan orang tua dan...istri mudanya yang dibawa pindah tiga hari yang lalu. Tapi luka itu rasanya...terlalu dalam.

****

Hari pertama puasa dengan status sebagai janda, sakit sekali.

Tapi sesakit apapun hidup, Shaina sadar harus tetap disyukuri. Hari ini dia terpaksa memasak buat berbuka puasa di kamarnya. Menu sederhana karena hanya untuk dirinya dan Affan yang sudah belajar makan makanan  lembek dan sayur. Hanya sayur bening bayam dan goreng tempe. Cukup sudah. Tapi meski masakannya sederhana, Shaina menyempatkan diri membuat kolak.

Shaina sangat hafal,Bapak mertua sangat gemar kolak buatannya. Beruntung Affan anteng sehingga dia bisa punya waktu membuat menu takjil beraroma manis dan lezat itu. Sesakit apapun luka di hatinya, tapi Shaina belum lupa kesukaan Bapak mertua dan  suaminya yang kini jadi calon mantan suami.

Hari menjelang Maghrib, suasana di ruang keluarga Bu Ratna dan Pak Fajar mantan mertua Shaina, tampak semarak dengan hadirnya warga baru. Lastri, mantu baru di rumah itu.  Sebetulnya IBu sudah masak banyak tapi masih ada yang kurang. Bapak hanya suka kolak buatan Shaina.

Adzan Maghrib berkumandang dengan merdu. Buka bersama di ruang keluarga Ikbal tampak meriah, apalagi memang Ibu sengaja masak banyak menyambut mantu barunya. Meski jujur, perempuan paruh baya itu tampak sedikit kelelahan karena Lastri tak sedikitpun membantu dan hanya sibuk di depan TV dengan gawai di tangan. Tampak Ikbal yang dengan lembut mengingatkan dicuekannya dan hanya bilang, gak biasa masak. Anak orang kaya memang seperti itu, gak pernah menyentuh dapur.

Ibu tampak sangat ramah menyuruh Lastri makan yang banyak yang dijawab mantu idaman dengan anggukan dan senyum kecil.

"Semua masakan hari ini istimewa,sayangnya, Ibu gak jago bikin kolak, kayak Shaina." Bapak sepertinya tidak sengaja mengucap itu, saat menyeruput sirup kemasan dingin sebagai penutup makannya

"Jangan bicara Shaina, Pak. Mantu kita sudah berganti." Ibu memotong ketus.

"Lagipula, untuk apa mantu miskin itu disebut-sebut, besok ibu beli kolak yang sudah jadi."

"Sudah, Bu." Ikbal tampak risi. Meski jujur dia tidak mencintai Shaina, tapi hatinya tidak enak Shaina di rendahkan begitu rupa.

"Assalamualaikum..." Tiba-tiba, dari arah ruangan belakang Shaina berdiri membawa wadah berisi kolak kesukaan Bapak.

"Ini kolak untuk Bapa. Shaina yang bikin."

Wajah lembut Shaina tampak tersenyum. Membuat Bapak tampak kegirangan.

"Sini, Shaina. Bapak lagi rindu kolak buatanmu." Bapak melambai pada Shaina, dengan cekatan Shaina menyalin kolaknya.

"Dimakan ya, Pak. Shaina permisi dulu."

"Besok, Shaina bikin lagi kolak, ya. Bapak kalau gak nemu kolak bikinan mu, nduk, kayaknya bukanya ada yang kurang." Pria paruh baya yang selalu baik itu mengusulkan.

"Maaf, Pak. Besok Shaina, minta izin buka di rumah Mama. Mungkin Mbak Lastri, bisa bikinin." Shaina tersenyum lembut, dengan sopan meminta izin undur diri.

"Lastri mana bisa, dari tadi juga Ibumu masak dia malah asik main hape,"celetuk Bapak polos, membuat wajah menor menantu barunya sedikit memerah. 

"Mulai besok, Mbak Lastri belajar masak kesukaan Bapak. Kasihan Ibu sudah tua. Saya bukan lagi bagian dari rumah ini, sepertinya tidak elok kalau saya yang buatin kolak untuk Bapak."

"Halah, cuma kolak saja. Sudah besok ibu beli seabreg jika Bapak mau."

"Beli kagak enak." Bapak yang sudah tua ngeyel. Sifat tuanya kembali ke anak-anak. Selama ini Shaina Dengan sabar menghadapi Bapak, meski tua tapi bapak bijaksana dan menyayanginya, sangat bertolak belakang dengan ibu.

Ibu dan Lastri tampak kecut dengan sikap Bapak yang manis pada Shaina. Lirikan matanya tampak judes dan tidak bersahabat.

Shaina hanya tersenyum, meski jujur hatinya serasa tersayat sembilu, menyadari kalau dirinya bukan lagi anggota di rumah ini, hatinya luka.  Tapi sedalam apapun lautan nestapa di hatinya, wajah Shaina terlihat sabar dan tenang,  membuat Ikbal yang tengah menyuapkan nasi tampak sedikit kikuk. Matanya sekilas menatap perempuan yang kini menjadi mantan, hatinya sedikit berdesir saat tubuh Shaina yang semampai, perlahan pergi ke ruangannya belakang, hilang di balik pintu.