Kepergian Ayah
Ramadan bulan penuh berkah dan ampunan. Bulan yang kedatangannya selalu dinantikan seluruh umat muslim di dunia, begitu pun diriku. Tanpa sadar, aku menghitung dengan kedua jari tangan, berapa lama lagi hari pertama Ramadan akan tiba, tak terasa hanya tersisa tiga hari lagi.

Perlahan aku beranjak menuju ambang pintu ruang tamu, duduk dengan menekuk kedua lutut sambil memperhatikan kedua adikku yang bermain di halaman. 

Semenjak ayah masuk rumah sakit seminggu yang lalu, rumah ini menjadi sunyi. Saat siang hari, hanya ada aku, Rini, dan Riki, sedangkan ibu akan tiba di rumah ketika hari sudah menjadi gelap.

“Mbak Rika!” panggil adik lelakiku. “Mbak Rini pukul Dede,” adunya sambil menangis sambil mengusap pipinya yang penuh dengan lelehan air mata.

Aku menoleh kesal pada Rini yang tak bisa mengalah pada adiknya sendiri.

“Dek Rini! Jangan main pukul-pukul, dede jadi nangis tuh!"  tegurku kesal.

Sudah sering aku meminta Rini untuk mengalah pada Riki, tetapi tidak pernah didengarkan olehnya. Pertengkaran mereka justru lebih sering terjadi, karena merasa tidak ada ayah dan ibu yang mengawasi.

“Dede yang pukul Rini duluan," rajuk Rini, dengan mata yang menahan tangis.

Anak itu memang mudah menangis, sedikit teguran keras sudah bisa membuat air matanya berlinang. Dia anak yang sangat perasa, mudah marah, tetapi mudah pula menangis dan iba pada orang lain.

“Kalau Dede pukul jangan Rini balas,” bujukku. “Dede masih kecil, kasihan kalau dipukul." 

Aku mendekati Rini, memeluknya agar tidak menangis. Sedikit menyesal telah memarahinya.

“Rini juga masih kecil, sakit kalau dipukul Dede,” ucapnya membela diri.

“Makanya, kalau main jangan berantem. Sama-sama merasa sakit kenapa saling pukul.” 

Akhirnya aku terpaksa mengomeli mereka berdua. Memarahi salah satunya, hanya akan menciptakan pertengkaran baru.

Riki dan Rini menunduk, saling menendang pelan, menyalahkan satu sama lain. 

Aku cuma bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua. Kuraih tangan Riki dan Rini.

“Mandi aja, yuk! Lihat badan kalian, jorok, bau, dan dekil,” ajakku sambil menyuruh mereka melihat pantulan di kaca jendela.

Seketika Riki tertawa, membuatku dan Rini menatapnya bingung. 

“Mbak Rini mirip anak gila, mukanya cemong,” ledek Riki pada Rini.

Aku tertawa mendengar Riki bicara yang sering kekurangan kosakata. 

Rini mendekat ke kaca jendela, memperhatikan bayangan wajahnya kemudian ikut tertawa dengan keras.

“Dede, juga mirip anak orang gila, ha ha ha … ” balasnya meledek Riki.

Aku menghela napas lega, meliha mereka sudah akur kembali, melupakan rasa sakit akibat pukulan pertengkaran mereka tadi.

“Yuk, buruan mandi udah sore!" ajakku kembali, pada mereka berdua

“Sambil main air ya, Mbak,” pinta Riki.

“Buat balon sabun juga ya, Mbak,” izin Rini.

Aku tersenyum dan mengangguk, Riki dan Rini segera berlarian menuju kamar mandi. Terdengar suara teriakan mereka yang berebutan membuat gelembung sabun sambil sesekali mencipratkan air. Aku segera menyusul, bergabung dengan meraka dan mulai ikut bermain gelembung sabun.


***

Namaku Rika Karlina, usia baru enam tahun, anak pertama dari tiga bersaudara. Adik yang no dua bernama Rini Andini, usianya baru lima tahun, dan adikku yang nomor tiga, bernama Riki Saputra, berusia tiga tahun.

Jarak usia kami memang tidak terpaut jauh, itu sebabnya kami terbiasa bermain bersama, apalagi rumah tempat kami tinggal, adalah komplek perbengkelan Dinas Pekerjaan Umum milik negara.

Jarak rumah menuju gerbang keluar komplek cukup jauh, dan di komplek tempat kami tinggal tidak anak kecil yang seumuran, Jadilah hanya bertiga yang bermain bersama setiap harinya.

Sudah seminggu ini hanya kami bertiga yang tinggal di rumah. Ibu harus merawat dan menunggui ayah di rumah sakit. Aku tidak tahu ayah sakit apa, ibu hanya meminta kami bertiga jangan putus berdoa untuk kesembuhan ayah.

Sebelum ayah dibawa ke rumah sakit, beliau sempat menasehatiku, katanya aku harus menjaga Ibu, rini, dan juga Riki. Mengajari kedua adikku salat, mengaji, serta mengajarkan mereka berpuasa. Aku bingung, kenapa ayah berpesan begitu banyak hal, apa ayah tidak tahu bahwa setiap hari kami selalu menunggu kepulangannya.

Tinggal tiga hari lagi puasa, berharap ayah hari ini pulang. Aku, Rini, dan Riki, sudah menyiapkan celengan manggis dari tanah liat. 

Setiap hari selama puasa, ayah akan memberikan kami uang untuk dimasukkan ke dalam celengan manggis, jika puasa kami penuh selama satu bulan, ayah akan memberikan tambahan uang di malam takbiran. Uangnya bebas kami gunakan untuk jajan. Namun, kalau puasa kami ada yang bolong, uang jatah harian puasa kami akan dikurangi ayah.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 21.10 WIB, tapi ibu belum juga pulang. Entah kenapa, ibu hari ini sangat terlambat, biasanya selepas maghrib ibu sudah tiba di rumah. 

Mungkin menginap di rumah sakit, pikirku. 

Riki terlihat sudah mulai mengantuk, tapi sepertinya dia masih enggan untuk tidur. Kasihan Riki, menunggu kepulangan Ibu sedari tadi.

“Tidur yuk, Mbak udah ngantuk,” ajakku pada Rini dan Riki.

“Ibu, belum pulang Mbak?” tanya Rini.

“Dede mau bobo, sama ibu,” rajuk Riki.

“Ibu belum pulang, kita bobo aja dulu,” ajakku lagi pada mereka berdua.

“Kalau ibu udah pulang, Mbak bangunkan Dede ya,” pinta Riki.

Aku mengangguk, ku ajak kedua adikku masuk kamar dan memasang kelambu, agar kami tidak dicium nyamuk saat tidur. Selagi aku menggantung kelambu, kusuruh kedua adikku merapikannya, memasukkan pinggiran kain kelambu ke bagian bawah Kasur.

“Rini kangen, ayah,” ucap Rini sebelum tidur pada photo ayah yang tergantung di dinding kamar.

Aku memperhatikan Rini, dia anak yang paling tidak banyak bicara. Apa yang ada di hatinya, suka atau tidak suka, sedih, marah, dan bahagia dia simpan sendiri dalam diam, sangat jauh berbeda dengan diriku dan Riki. Aku yang harus menjadi dewasa sebagai anak tertua lebih suka mengomel, dan Riki yang selalu manja karena menjadi anak bungsu.

“Rini kangen, ayah,” ucapnya lagi, sambil memejamkan mata dan menghisap jari jempol kanan. Kebiasaan yang dilakukkannya sedari kecil setiap akan tidur.

Baru saja kami tertidur, tiba-tiba aku mendengar ada banyak suara orang berbicara di depan rumah. Samar-samar aku mendengar suara ibu menangis dan suara tetangga yang bercakap-cakap serta suara mesin mobil yang menyala.

Penasaran dengan keributan yang terjadi, perlahan aku beranjak dari Kasur dan mengintip dari balik tirai kamar. Di ruang tengah, tampak tubuh seseorang yang ditutupi kain batik terbujur kaku, tak jauh dari situ aku melihat ibu menangis dan para tetangga yang saling bersahutan membaca surah yasin.

Tanpa sadar air mataku jatuh. Kini aku mengerti, kenapa hari ini ibu pulang sangat terlambat. aku mengerti ungkapan Rini kangen ayah yang diucapkannya ketika akan tidur, mengerti kenapa beberapa hari ini Riki sangat rewel, dan mengerti, bahwa kini aku sudah bergelar anak yatim.

Akhirnya aku benar-benar mengerti arti nasehat yang ayah berikan padaku tempo hari. Nasehat itu ternyata sebuah pesan terakhir ayah. Pesan yang memintaku menggantikan peran beliau untuk bertanggung jawab pada kedua adik dan ibuku. Mengerti dan harus mengerti, di balik pesan itu aku bukan lagi Rika seorang anak kecil yang berusia enam tahun, tapi seorang anak tertua yang harus menjadi lebih dewasa.

Menahan isakan tangis yang tak mau berhenti, aku melangkah perlahan mendekati tubuh ayah yang telah terbujur kaku. Kubuka kain yang menutupi wajah tirusnya, wajah yang berseri seolah sedang tertidur dengan pulas. Tak tampak gurat kesakitan di wajah itu, hanya ada sebuah senyum, penanda bahwa beliau kini telah tenang di alam yang berbeda.

“Ayah … tidurlah dengan nyenyak. Jangan khawatir, Rika akan jaga ibu dan adik-adik” bisikku terisak sambil memeluk tubuh kaku ayah.

“Puasa besok, Rika tidak akan membawa celengan manggis lagi, tidak akan meminta baju baru untuk lebaran, tidak akan banyak jajan, tidak akan minta jalan-jalan. Rika akan jadi anak tertua, menggantikan tanggung jawab ayah di rumah ini,” lanjutku dengan tangisan yang sudah tidak mampu dibendung.

Dari arah belakang, ibu memelukku dengan erat. Kami menangis bersama dalam kesedihan, berusaha mengikhlaskan kepergian ayah. Kepergian laki-laki gagah yang selama ini selalu berusaha membuat kami bahagia. Jauh di dalam hatiku, ada perih dan rindu yang tak bisa aku ungkapkan. Aku merindukanmu ayah.