SALAHKAH?
BASKARA

Aku memasuki rumah yang kini kembali sunyi. Tak ada Elis yang menyambut kedatangan dengan senyum ceria. Tak ada pertanyaan konyol yang mengesalkan sekaligus menggelikan.

Nurani kalah oleh ego. Hari ini aku telah membuangnya. Tak ada halangan berat menjalankan rencana. Mereka terlalu lugu untuk tahu rencana busukku.

Aku mengempaskan diri di atas ranjang. Memejamkan mata untuk menikmati suasana damai. Sejenak berkelana, membandingkan keadaan sekarang dengan keadaan saat Elis masih ada.

Yang ditemukan adalah sisi baik sekarang, tak harus mengampu beban orang lain. Lumayanlah penemuan itu dapat mengurangi rasa bersalahku padanya.

Mulai saat ini aku bisa menikmati hari tanpa beban yang berarti. Kembali fokus pada pekerjaan dan kesenangan menjalankan hobi.

Bukan salahku sepenuhnya melakukan kekejaman ini. Sejak awal aku bukan pria yang sudah siap terikat. Punya istri apalagi anak. Selain usia masih terbilang muda, juga belum cukup rasanya hidup bebas mengekspresikan karir dan kesenangan diri.

*

"Tumben gabung? Gak takut istri ngambek? Bukannya lo aliran isti?" 

Pulang kerja aku gabung dengan Rudi dan genknya. Biasalah kami nongkrong di kafe untuk sekedar melepas penat setelah seharian pekerjaan. Otak butuh refrehing agar tak meledak. 

Malamnya bisa ke diskotik atau karaoke. Dari mereka ada yang lanjut booking hotel dengan pacar atau penjaja sex komersial.

Aku sendiri bukan salah satu penyuka 'jajan'. Ancaman tak dapat warisan keluarga jadi momok tersendiri jika ketahuan sekali saja tertangkap basah main pelacuran. 

Kubiarkan celotehan Rudi dengan menyibukkan diri mengamati ruangan. Rata-rata yang datang ke sini orang sejenis kami. Manusia pendamba hidup tanpa tekanan. Apalah daya kenyataan justru tiap hari tertekan pekerjaan dan amarah atasan.

Belum lagi mereka yang sudah berumah tangga. Beban istri cerewet dan anak rewel akan menambah tekanan hidup. Itulah mengapa mereka kadang lebih memilih pulang larut malam. Lalu, esok paginya pergi sebelum kepusingan datang.

Bisa gabung kembali dengan genk ini cukup ampuh mengalihkan perhatianku dari rasa aneh beberapa hari ini. Aku tak mau menyebutnya rasa bersalah pada Elis. Toh, uang yang kuberi sudah lebih dari cukup untuk hidupnya tiga bulan. Jadi, apa yang perlu jadi beban?

"Bas, tuh!"

Rudi menggerakkan tangannya ke arah tiga wanita yang baru saja masuk kafe. Salah satunya bernama Sesil, gadis manis yang sempat digosipkan menaruh hati padaku. Dia karyawan pindahan dari cabang yang langsung mencuri perhatian staf lelaki, termasuk bos kami. 

Parasnya ayu, body goal, yang pasti cerdas dan elegan. Masuk kriteria sebenarnya, tapi belum sempat akrab, aku sudah dijebak dalam sebuah pernikahan.

Entah ini konspirasi atau apa, Rudi mengajak tiga gadis itu gabung. Karena satu pekerjaan, kami langsung akrab dan cair saja ngobrol sana-sini.

Lepas magrib, Rudi dan lainnya meninggalkanku dan Sesil berdua saja. Katanya mereka lanjut ke diskotik. Karena kami menolak, maka ditinggalkan.

Mungkin ini yang disebut rayuan setan. Diciptakan pada hatiku kenyamanan berduaan dengan Sesil. Sepertinya gadis ini pun sama menikmati.

Obrolan bisa berjalan panjang sebab kami nyambung satu sama lain. Sesil yang berpendidikan serta berpengalaman di dunia pekerjaan membuat kami ada dalam satu orbit yang sama.

Berbeda saat bersama Elis. Aku tak bisa mengajaknya bicara apapun. Entah dari awal memang sudah menutup diri atau memang otaknya yang tak satu server denganku.

"Aku kira mas Bas cuek, loh, nyatanya!"

"Nyatanya?"

"Smart banget!"

Kenyamanan yang terbangun bersama Sesil perlahan-lahan membuatku sesaat lupa pada Elis. Bahkan, rasa bersalah dan kehilangan itu mulai terurai..

Egoku bicara, kami memang tak sejalan makanya takkan berjodoh lama. Jadi, sangat wajar melepasnya demi sesuatu harapan yang mulai tumbuh di hati ini, Sesil.

*

"Elis!"

Aku tersentak sendiri kala sadar bahwa Elis tak ada di rumah. Mungkin karena terbiasa pulang kerja memanggil nama jadi tadi kelepasan.

Bukan hal yang anehlah. Nanti kalau sudah biasa juga tak mungkin disebut namanya lagi.

Mulai sekarang harus terbiasa kembali mengurus diri sendiri. Untuk urusan cucian, laundry saja. Makanan pesan lewat aplikasi online atau masak mie instan. Tak akan ribet tanpa Elis pun.

Selepas membersihkan diri, aku langsung meluncur ke atas ranjang. Kali ini bisa guling-guling sebab tak ada tambahan pengguna.

Mau main ponsel sepuasnya takkan ada yang menganggu. Benar-benar bebas, lepas.

Awalnya hal ini menyenangkan, tapi kala wajah lugu itu melintas lagi dalam ingatan terpengaruhlah perasaan.

Aku mengusap bagian ranjang yang biasa ditempati Elis. Desiran halus di hatiku muncul. Kerinduankah?

Ah, sudahlah, jangan terbawa perasaan!

Aa, akan jemput Elis 'kan

Aku terus menepis bayang wajah dan kalimat terakhirnya. Tapi, sekuat apapun mengusir, tak sanggup ternyata..

Aa

Aa

Aa

Elis, jangan ganggu, pergi, pergii!

Ini hanya ilusi, Elis tak ada di sini, tak ada

"Arggggh!"

Aku bermimpi rupanya!

Kuusap peluh yang membasahi kening. Aku terduduk dengan kondisi perasaan kacau.

Apakah yang kulakukan memang kesalahan besar? Mengapa semakin ingin mengingkarinya, semakin kuat cengkraman rasa bersalah ini? 

Elis... 


*

Bab sebelumnya sudah direvisi dengan menuliskan terjemahan bahasa Indonesianya di bawah
















Komentar

Login untuk melihat komentar!