Acara di rumah mantan
Hari Minggu aku putuskan untuk mampir ke rumah orang tua dari mantan suamiku. Sekaligus aku ingin mengunjungi salah satu kerabat dari mamaku yang juga tinggal di daerah tersebut. 

Perjalanan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Kali ini Widia tidak ikut, dia sedang ada acara bersama temannya. Jadilah aku pergi sendiri. Tak apa, sahabatku itu juga butuh waktu khusus dengan teman-temannya. 

Di jalan tak lupa mampir untuk membeli buah tangan. Meskipun hubunganku dengan Mas Erlang tidak baik pasca kami bercerai, tetapi orang tuanya pernah bilang akan tetap menganggapku anak dan boleh berkunjung kapan saja. Kebetulan rumah mantan dan kerabatku jaraknya tidak jauh. 

Dulunya, rumah orang tua Mas Erlang hanya sederhana. Masih terbuat dari papan. Namun, kini sudah jauh lebih baik dengan dinding bata dan juga berlantai keramik. Mantan suamiku yang merenovasi rumah itu. Aku sama sekali tidak keberatan saat dia bilang bahwa gajinya akan digunakan untuk membantu orang tuanya. Apalagi selama ini hidupku tidak kekurangan. Uang bulanan yang diberikan lebih dari cukup. Kadang masih menerima bagian yang dikasih oleh kakakku. Katanya meskipun aku punya suami, dia tetap memiliki tanggung jawab terhadapku. 

Kucurigaanku tidak meleset rupanya. Di rumah mantan suamiku, di halaman rumah sudah ada tenda juga dipasang. Kursi dan meja ditata sedemikian rapi. Juga ada beberapa bunga sebagai hiasan. Hanya saja di sini tidak ada pelaminan layaknya akan digelar pesta pernikahan. 

"Pesta buat apa itu?" gumamku yang masih belum turun dari mobil. Anehnya, di luar tidak terlihat ada orang. Mungkin saja mereka sedang ada di dalam dan halaman belakang. 

Segera aku menepikan mobil di pinggir jalan agar tidak mengganggu pengendara lain. 

Turun dari mobil aku langsung melenggang menuju rumah yang beberapa kali aku kunjungi kala masih berstatus sebagai menantu. 


"Assalamualaikum." Aku berdiri tepat di ambang pintu. Tak mengetuk, sebab daun pintu berwarna coklat tua itu memang dibiarkan terbuka. 

"Waalaikumusalam." Suara seorang wanita paruh baya menjawab salamku. Sangat aku kenal. Tiba-tiba saja dia muncul dari balik belakang sofa. Dia menunjukkan wajah kaget saat tahu bahwa tamu yang datang tak lain mantan menantunya. 

"Nesha."

"Iya, Buk. Ini Nesha. Tadi habis dari rumah tante trus sekalian lewat jadi mampir sini."

"Oh, dari rumah Bu Rima, ya?"

"Aku mengangguk."

"Ayo masuk dulu!" Wanita yang sebagian rambutnya telah memutih itu mengajak masuk dan mempersilakan aku duduk di sofa. 

"Ini Nesha bawain sedikit oleh-oleh, Bu. Mohon diterima, ya." Aku mengangsurkan paper bag berisi makanan kesukaan ibunya Mas Erlang. 

"Repot-repot segala kamu, Nesh. Mau mampir saja sudah membuat ibu senang."

Aku hanya tersenyum kecil menanggapi ucapan dia. Mantan mertuaku ini memang orangnya ramah pada siapapun. Aku beruntung memiliki mertua baik, tidak seperti kebanyakan dalam cerita sinetron. Sayang, rumah tanggaku tak berlangsung lama. Kandas diterjang badai orang ketiga. 

Sejenak aku melihat sekeliling ruangan ini. Semua masih tampak sama seperti dulu, saat aku terakhir datang ke sini. 

"Ibu ngapain tadi kok bisa muncul dari balik sofa?"

"Oh, ibu lagi ambil barang tadi. Udah ketemu, kok."

"Oh."

"Sebentar, ya ibu buatin minuman," ujar ibunya Mas Erlang yang hendak bangkit dari duduknya. Baru naik setengah badan. 

"Gak usah repot-repot, Buk. Nesha cuma sebentar kok ke sini. Mampir doang. Tadi di rumah tante juga sudah minum."

"Ke sana mau nengokin Om kamu, ya? Denger kabar habis jatuh di kamar mandi. Ibu juga belum sempat ke sana. Masih sibuk mempersiapkan pernikahan...." Ibu Asri--mantan mertuaku--mendadak memotong ucapannya. 

"Siapa yang mau nikah, Buk? Adelia?"

"Maafkan ibu ya, Nesh. Bukan gak mau memberi tahu, cuma Erlang yang melarang ibu kasih tahu."

"Jadi, Mas Erlang mau nikah, Buk?"

Wanita yang selalu bersikap baik padaku itu mengangguk. 

"Sekali lagi maafin ibu ya, Nesh."

"Gak papa kok, Bu. Gak perlu minta maaf. Mas Erlang mungkin sudah bisa move on makanya sekarang mau nikah lagi. Ngomong-ngomong calonnya orang mana, Bu?" Sengaja aku memancing agar dia cerita tentang calon menantu barunya. 

"Orang Jakarta katanya."

"Bu, ada telpon dari Mbak Dinda katanya mau ngomong sama ibu." Suara Adelia yang berteriak dari arah kamarnya. Posisi dudukku yang membelakangi kamar mantan adik iparku itu mungkin menghalanginya tahu bahwa aku ada di rumahnya. 

"Bu."

Gadis bergingsul itu akhirnya hampir sampai di ruang, di mana aku dan ibu Asri sedang berbincanh. Aku mengkerutkan kening saat menyadari dia baru saja bangun tidur. 

Pantas dia gak tahu aku datang. 

"Malu, Del teriak-teriak. Ini ada Mbak Nesha di sini," ujarnya menegur si putri bungsu. Mas Erlang hanya dua bersaudara. 

"Eh, maaf, ya, Mbak Nesha. Gak tahu kalau lagi ada di sini." Gadis itu langsung duduk di sofa. Sementara si ibu langsung pamit pergi untuk menerima telepon. 

"Gak papa, Del. Kamu apa kabar? Lama ya kita gak ketemu," sapaku basa-basi pada gadis yang cuma memakai kaos dan celana pendek selutut. Dia kalau di rumah memang model pakaiannya seperti itu. Katanya gak tahan gerah, pakai kipas suka masuk angin. Sementara di rumah ini memang belum dipasang AC. 

"Baik. Mbak Nesha sendiri apa kabar?"

"Seperti yang kamu lihat sekarang. Aku baik-baik saja."

Gadis itu tersenyum. Menit berikutnya dia kembali mengulum senyum. 

"Oh, ya, Del tadi yang telpon siapa, seingatku Mas Erlang gak pernah cerita ada saudaranya yang bernama Dinda?"

Raut wajah gadis yang kini berusia 22 tahun ini seketika berubah pias. 

"Hm... itu calon...."

"Ini Del, ibu sudah selesai teleponnya." Tiba-tiba ibunya muncul dan langsung menyerahkan ponsel kembali ke Adelia. 

Aneh, seperti kode bahwa memang ada rahasia yang mereka sembunyikan dariku. 

"Itu tadi nanyain besok yang ke Jakarta berapa orang gitu?" Ibunya Mas Erlang menjelaskan tanpa si Adelia bertanya. 

Oh, jadi benar si Dinda itu calon menantunya. Aneh, ya. Kok bisa kebetulan gini. 

"Del, tadi belum jawab pertanyaanku."

"Oh, aku lupa, Mbak sekarang waktunya ambil pesanan barang. Maaf, ya, Mbak aku tinggal dulu." Gadis itu langsung ngacir ke kamar, tak sampai 10 menit keluar lagi dengan pakaian yang sudah rapi. 

Aku hanya tertegun melihat kelakuan konyol mantan adik iparku itu. Kalau tidak ada yang dia tutupi, harusnya tidak perlu bersikap aneh di depanku. Mencurigakan. 

Komentar

Login untuk melihat komentar!