Zifa Meninggal!
"Tutup pintunya cepetan, Nay!"

Dengan tangan gemetar, aku menutup pintu rumah. Jantungku berdetak kencang sekali. 

"Kenapa kamu buka pintu rumah? Jangan macam-macam lagi, ah."

Aku menelan ludah, yang aku peluk tadi—

Astaga, sulit dicerna oleh nalar manusia. Aku tadi melihat anak kecil dengan darah di wajahnya yang hancur. 

"Jangan dibayangin lagi. Tidur, besok kesiangan."

Aku merasa, ada yang aneh dengan keluarga Zifa. Bukan hanya hubungan anak tiri dengan papanya yang jahat itu.

Ah, aku harus mencari tahu. Membela hak Zifa.

***

"Zifa abis dari mana?" tanyaku sambil menyapu halaman rumah. Zifa lewat depan rumahku. 

Wajahnya tampak pucat, mungkin karena Papanya tadi malam. 

Zifa berhenti sebentar. Dia menoleh ke aku. 

"Warung, Bi. Zifa boleh titip sesuatu, Bi?" tanyanya sambil mendekatiku. 

"Boleh. Mau titip apa?"

Ya ampun, anak ini benar-benar menggemaskan. Dia baru kelas tiga SMP. Sudah aku anggap anak sendiri. 

Namun entah kenapa, aku merasa ada yang aneh dengan Zifa hari ini. Dia tampak berbeda. Aku menatapnya, masih menunggu apa yang akan dititipkan Zifa. 

"Zifa titip kalung ini, Bi. Tolong kasih ke Abang Zifa."

Ragu, aku menerima uluran Zifa. Kalung berbandul mutiara yang indah. Kenapa tidak diberikannya langsung?

Ah, aku belum pernah melihat Abang Zifa. 

"Makasih, Bi. Zifa percaya sama Bibi."

Kata-kata yang ganjil. Aku langsung menyimpan kalung itu ke dalam kantong. 

"Zifa pamit, ya, Bi. Sekali lagi, makasih."

"Iya, sama-sama, kalau ada apa-apa. Bilang Bibi aja."

Kalau Zifa tidak tinggal dengan Papa tirinya, sudah pasti aku akan mengangkatnya sebagai anak. 

Saat Zifa hampir pergi, dia berhenti sejenak di depan pagar rumahku. Kemudian berbalik. 

"Zifa titip kunci kamar juga, ya, Bi. Itu cadangan. Pakai aja, kalau Bibi membutuhkannya."

Sungguh, ini ganjil sekali. Zifa tersenyum manis, memaksaku mengambil kalung yang disodorokannya. 

"Jangan kasih siapa pun, Bi. Termasuk Papa. Zifa mohon."

"Pasti, Sayang."

Setelahnya, Zifa pergi. Dia sempat melambaikan tangan padaku. 

Beberapa menit setelah kepergian Zifa, tetanggaku datang. Wajahnya tampak kebingungan. 

"Saya lagi nyiram tanaman. Lihat Bu Nay lagi ngobrol sama siapa?"

Eh? Aku ngobrol sama Zifa tadi. Masa tidak lihat. Gimana, sih? 

"Saya ngobrol Sama Zifa tadi, Bu. Gak lihat? Ah, Ibu kayaknya perlu ke dokter mata."

"Tadi gak ada siapa-siapa, Bu. Lagi pula, Zifa—"

Aduh, masakanku belum dibalik. Aku menepuk dahi, buru-buru meletakkan sapu ke pohon. 

"Saya masuk dulu, Bu. Mau lihat masakan."

"Udah dengar kabar terbaru, Nay?" 

Aku menatap Mas Fahri yang tergesa-gesa masuk ke dalam rumah. Dia  menyeka keringat.

"Kabar apa, Mas? Makan dulu, mau kerja, kan? Jangan kebanyakan ngobrol sama bapak-bapak. Gak baik."

"Nay, ini serius."

Akhirnya, aku berbalik. Menatap Mas Fahri serius. Kabar apa yang dibawanya?

"Zifa, Nay." 

Mendengar nama Zifa disebut, aku berbalik sempurna. Zifa seolah daya tarik tersendiri. 

"Zifa meninggal. Ditemuin jasadnya di jalan tadi subuh."

Mataku melebar mendengarnya, bulu kudukku juga berdiri. Zifa meninggal? Tadi subuh? Lalu siapa yang berbicara denganku tadi pagi?

***


Jangan lupe like dan komen, yaa.