Pembicaraan Pembantu Zifa di Telepon
SEBELUM MEMBACA, JANGAN LUPA KLIK TOMBOL SUBSCRIBE ATAU BERLANGGANAN, YAA.

***

"Heh! Kamu ngapain Ibu?"

Aku mundur selangkah, ketika pembantu Zifa tiba-tiba muncul dari belakangku. 

"Ibu kenapa? Diapain sama orang jahat itu?"

Astaga. Belum apa-apa, dia sudah menuduhku. Aku menggelengkan kepala. Sedikit tidak percaya dengan kalimatnha barusan. 

"Ta—tadi ada Zifa, Bi." Aku kembali menoleh ke belakang. Tidak ada siapa-siapa. Atau mungkin aku yang dikira sebagai Zifa tadi?

"Non Zifa udah meninggal, Bu."

"Lalu tadi?"

Aku malengkah maju, menyalami Mama Zifa. 

"Saya Nay, Bu. Tetangga yang paling dekat dengan Zifa."

Dia diam sejenak. Beberapa detik, akhirnya mengangguk. Wajahnya tampak cerah kembali.

"Ah, iya. Tadi saya nyuruh Angga manggil kamu." Pandangannya teralih ke pembantu Zifa. "Bi, tolong keluar, ya. Saya mau bicara penting sama Bibi Nay."

"Tapi, Bu—"

"Bi, tolong, ya."

Dengan berat hati, pembantu Zifa keluar kamar, sambil melirikku tajam. Dia sepertinya tidak menyukaiku sejak awal kami bertemu.

Aku mendekat, Mama Zifa menatapku sejak tadi. 

"Terakhir saya bertemu dengan Zifa dua bulan yang lalu." Dia diam sejenak, mendongak. "Zifa kelihatan bahagia sekali. Jujur, saya pikir tidak ada apa-apa dengan anak saya."

Tanganku terangkat, mengusap bahu Mama Zifa. Mama dan Abangnya pasti punya penyesalan yang sama. 

"Dia anak yang ceria. Gak pernah nangis. Selalu tertawa pas saya telepon dia."

"Kenapa Zifa ditinggal dengan papa tirinya, Bu? Kenapa tidak dengan Ibu?"

"Sekolah Zifa ada di sini. Lagi pula, katanya ada Bibi Nay, dia udah anggap sebagai ibunya sendiri. Saya juga di sana ada kerjaan dan lagi sakit, kontrol ke rumah sakit terus, Bi. Gak bisa ikut sama Zifa."

Aku menganggukkan kepala. Kemudian berdeham. "Apa saya boleh ke kamar Zifa, Bu?"

"Ah, iya. Boleh. Zifa percaya sama Bi Nay. Saya juga harus percaya."

Kami melangkah ke kamar Zifa. Tadinya, aku menyuruh Mama Zifa untuk tiduran saja di kamar, tapi tidak mungkin aku sendirian ke kamar Zifa. 

"Bi Nay, kata Angga, Zifa sering teriak kalau malam, ya?"

"Iya, Bu. Saya juga gak tau apa-apa. Suara Zifa terdengar sampai rumah kami. Saya sering rekam suaranya, Bu. Terus buat laporan ke pihak berwajib."

Langkah kami terhenti. Mama Zifa tampak terkejut. "Lalu apa tanggapan pihak berwajib, Bi?"

"Gak ada sama sekali."

Wajah Mama Zifa kembali berubah. Tadi, ada harapan terselip di sana. Kami kembali melanjutkan langkah. 

"Boleh saya dengar rekamannya, Bi?"

"Boleh, tapi ponsel saya di rumah, Bu. Nanti saja, ya."

"Bi Nay baik sekali mau membuat laporan untuk Zifa."

Aku tersenyum, kemudian mengangguk. Padahal, tidak ada hasil sama sekali. 

Kami sampai di kamar Zifa. Mama Zifa mengeluarkan kunci, tapi mengernyit, dia sepertinya tidak bisa membuka pintu kamar Zifa. 

Pandanganku teralih ke saku celana. Apakah aku bisa membuka pintu kamar ini dengan kunci yang diberikan Zifa?

"Ibu mau ngapain?"

Kami menoleh, mendapati pembantu Zifa yang tampak panik melihat Mama Zifa berusaha membuka pintu kamar. 

"Kunci kamar Zifa masih yang lama, kan, Bi? Kok saya gak bisa buka?"

"Masa sih, Bu?" tanyanya sambil mengambil kunci kamar di kantong plastik yang dibawanya di saku celana.

Jadi, pembantu Zifa juga menyimpan kunci?

Aku hanya menatap dari jauh. Memperhatikan gerakan pembantu Zifa yang mencurigakan. 

"Gak bisa, Bu."

Bersamaan dengan itu, ada bayangan hitam lewat. Aku mundur selangkah, menelan ludah. Bayangan apa barusan?

"Aduh, gimana, ya? Apa kita jebol aja?"

"Sebaiknya jangan, Bu. Mungkin Zifa gak mau kamarnya dibuka siapa pun." 

Entah kenapa, seperti ada yang mendorongku berbicara itu. Aku mengusap wajah, padahal itu bukan kemauanku. 

"Betul juga. Yaudah, Bi. Kapan-kapan aja. Saya mau ke ruang tamu dulu. Makasih udah baik sama Zifa selama ini." 

Aku tersenyum, kemudian mengangguk. Menatap Mama Zifa yang melangkah menuruni anak tangga. 

Sebelum pergi, aku melirik pembantu Zifa yang masih menatap pintu. Sepertinya, dia penasaran sekali dengan pintu itu. 

"Saya duluan, Bi."

***

"Bi Nay, bisa minta tolong bawain ini ke dapur?" tanya Angga sambil membawa piring. Dia menatapku. 

"Bisa. Kamu duduk aja."

Angga mengangguk, sambil berterima kasih. Dia kembali ke tempatjya semula. 

Aku membawa piring berisi kue ke dapur. Rumah Zifa sudah tidak terlalu ramai. 

Namun, sampai sekarang Papa Zifa belum sampai. Padahal, aku berharap dia datang hari ini. Ingin tahu apa yang akan dilakukannya. 

Langkahku terhenti mendengar seseorang sedang mengobrol. 

"Iya. Dia juga penghalang. Gak nyangka, padahal aku udah singkirin Zifa."

Jantungku berdetak cepat. Itu suara pembantu Zifa. 

Apakah ini ada hubungannya dengan kematian Zifa? Apa yang sebenarnya terjadi? 

Aku menatap pintu yang terbuka sedikit. Berusaha mendengarkan pembantu Zifa yang sedang teleponan. 

"Singkirkan dia juga? Oke. Aku gak mau ada penghalang."

***


Maaf kemarin gak update, ada kesibukan. Hari ini Insya Allah update lebih dari satu bab.
Jangan lupa like dan komen, yaa.