CINTA MATI

CINTA MATI

Jam 4 sore adalah jam yang paling kutunggu, detiknya seperti obat setiap lukaku, menitnya bagai madu setelah jamu, dan waktunya telah tiba sekarang, segera kutinggalkan pekerjaan bersiap untuk pulang. Sebenarnya bukan pulang yang menggembirakan, karena aku bukan anak SD, makan bakso bareng Wafa adalah hal yang paling kutunggu daripada mata pelajaran kosong.

"Wafa? Jadi?"

Aku tersenyum sendiri setelah tiba di meja kasir.


"Jadi dong."

Wafa membereskan meja kerjanya.


"Kalau jadian? Jadi?"

Aku tidak bisa membohongi hatiku.


"Jadian aja sama abang bakso."

Wafa berucap sambil menenteng tas, keluar dari ruang kasir.


"Bakso dimana?"

Aku mengekornya dari belakang. 


"Entar naik motor ikutin saja aku."

Ia menjawab tidak seperti kebanyakan cewek.

*

Aku dan Wafa sudah sampai di warung bakso, tepatnya disebuah kantin disuatu kampus, dia mencari tempat duduk yang jauh dari keramaian, aku tahu, Wafa pasti ingin curhat, ia tentu tidak ingin rahasianya didengar banyak orang, aku merasa menjadi yang paling spesial sekarang.

"Mau pesan apa, Dek?"

Seorang pelayan menghampiri Wafa yang sedang duduk lesehan bersamaku.


"Bakso mawar spesialnya satu, pak, minumnya teh es," Wafa menjawab.


"Kalau bapak ini? Pesan apa?"

Pelayan itu mengarah kearahku.


"Maaf, saya bukan bapak anda!"


"Oh, iya, maaf, anda bapaknya adek ini ya?"


"Saya pesan anda harus punya akhlak!"


"Oh, pesan apa, Dek?"


"Pesan bakso yang sama."


"Sama dengan orang berkumis yang di ujung sana kah, Dek?"


"Sama dengan orang yang disamping saya ini lah, kok jauh amat kesana!"

Aku berdiri, seolah ingin menghajar pelayan tadi, tapi Wafa tidak menahanku, ia sibuk dengan HP nya. Akhirnya aku duduk lagi, pelayan itu terlihat berotot.

"Baik, tunggu sebentar, pesanan akan segera datang."

Pelayan itu berlalu, sedikit meredakan amarahku.

Bakso akhirnya datang, aku berharap pelayan ini tidak mendatangkan kembali amarahku. Aku dan Wafa mulai menyantap bakso, ia belum berbicara sedikitpun, masih sibuk dengan HP lalu sesekali menyeruput kuah bakso. Mungkin nanti setelah bakso habis ia akan bicara, kan kalau dingin nanti tidak enak lagi, biarlah sementara ia bersikap dingin dan cuek dulu kepadaku.

"Dra, aku mau curhat?"

Benar, Wafa bicara.


"Kalau aku mau denganmu..."


Plak... 

Ia memukul kepalaku...


"Serius sedikitlah? Ini disampingku ada balok loh."


"Oke, siap..."


"Pacarku, beberapa hari ini sulit ditemui, aku jadi curiga."

Deg

Benar, Wafa memang sudah punya pacar, aku kaget bukan main, tapi ini memainkan perasaanku.

"Ya, sudah! Putuskan saja dia!"


"Eh! Kau mau nikung ya?


"Enggak! Disampingmu masih ada kayu balok?"


"Ada!"


"Begini saja, Fa, aku punya mesin kemasa depan."

Aku membuka tasku, memperlihatkan mesinnya, Wafa terlihat berbinar-binar. Aku menjelaskan cara kerjanya, aku meminta Wafa untuk mengirim pesan WA kepacarnya untuk bertemu di satu jam kedepan, lalu Wafa akan menggunakan mesin ini untuk mengetahui benar tidaknya balasan WA dengan kenyataan yang akan terjadi.

"Kau sudah mengirim pesan?"


"Sudah, dia jawab selama ini dia sibuk dengan tugas kerjaan menulisnya, jadi tidak bisa bertemu, satu jam lagi ia akan pergi ke PERPUS."


"Ayo! Pasang helm mesinnya, kita akan pergi kesatu jam akan datang."

Wafa menuruti semua perintahku, ia memejamkan mata, mesin mulai menyala. Aku menunggunya, kesempatanku memandanginya, wajahnya benar sangat manis, seandainya orang di dunia ini tidak mengenal gula, mungkin orang cuma tahu tentang Wafa.

Deg!


Ia membuka mata, aku celingukan salah tingkah.

"Dari tadi kau memandangi aku ya? Awas!"

Wafa mengepalkan tangan.

"Apa yang terjadi?"

Aku jadi tidak sabar.

Wafa menceritakan, pacarnya tidak berbohong, benar di satu jam kedepan dia ada di PERPUS. Tapi, Wafa juga bercerita kalau ada cewek  disana yang menggoda pacarnya, saling bertukar no HP, entah untuk apa.

Wafa tertelungkup diatas meja, kudengar isak tangisnya, ia seperti sangat cinta mati dengan pacarnya. Tapi pacarnya itu memang berengsek, semudah itu tergoda dengan wanita lain, Wafa memang harus meninggalkan pacarnya, aku bicara ini karena benar-benar simpati

"Tinggalkan saja dia, Fa."

Aku menawarkan sulosi.

"Aku tidak bisa, aku sudah sangat sayang dia, kami sudah janji ingin pergi ke Jepang bersama."

Wafa semakin menangis, isakannya makin berat.

"Hei! Kau yang biasa memukul kepalaku justru malah cengeng sekarang!"

"Lalu?"

"Fa, kalau kau memang sayang dengan pacarmu itu, segera tunggu dia di PERPUS sekarang, sebelum satu jam kedepan, jaga dia, cegah dia agar tidak bertemu dengan cewek penggoda itu."

"Benar juga, aku segera pergi!"

Wafa bergegas, ia berlari setelah merapikan semuanya. Aku tertinggal sendiri, melihatnya berjalan jauh hilang ditelan bulatnya bumi, hilang juga harapanku, aku telah mengkhianati janjiku untuk memperbaiki masa depan.

Aku memanggil abang pelayan, menagis di bahunya, menangis karena Wafa, juga karena aku harus membayar bakso mawar spesial dua porsi seharga seratus ribu.

*

Bersambung...