KELINCI YANG PERTAMA

Kelinci Yang Pertama


Dia datang dengan bando telinga kelinci, pipinya agak tembem, jilbab yang dipakainya sebagai bukti kalau ia bukan playgirl, senyumnya benar tanda bahagia, bukan palsu dari hasil industri ketulusan. 

“Kenapa datang kesini, aku sedang sibuk!” 

“Eksperimenmu, mesin pewujud mimpi, berhasil.” 

“Aku sudah tahu, kamu berhasil ke Jepang, kan?” 

“Bukan hanya itu, ada satu lagi. Tapi karena kamu sedang sibuk, ya, sudahlah…” 

“Aku sudah menyelesaikan kesibukanku, ayo cerita!” 

“Dasar orang gila!” 

Wafa, dia baru pulang dari Jepang dua hari yang lalu, ia menggunakan cutinya dengan bijaksana. Tidak seperi aku, aku menggunakan cuti hanya dengan tidur di rumah, bukanlah sesuatu yang membanggakan, karena cita-cita yang tercapai itu sangat keren, mimpi yang terwujud adalah pemandangan yang indah 

*

Bunyi dering WA, tanda ada pesan yang masuk tanpa permisi dan salam. Aku mengambil HP yang tergeletak di meja, cukup jauh dari tempat asalku berbaring, kata orang radiasi HP yang terlalu dekat berbahaya, bagiku berjalan dan bergerak lebih sehat. 

Ada sebuah komentar tentang status WA ku, tentang yang kutulis:

-Kalau mimpi itu adalah sebuah keinginan ataupun ketakutan yang terbawa kealam bawah sadar-.

Pesan itu dari Wafa, ia memulai sebuah pertanyaan. 

Tidak begitu juga, apa bisa dibuktikan? 

Bisa! Coba kesini, akan kubuktikan cintaku padamu 

Dasar bangkai! Maksudku bukti tentang mimpi itu 

Dasar jomblo! Aku punya mesin mewujudkan mimpi 

Sesama jomblo jangan mengumpat! Tiga puluh menit lagi aku kesana, aku harus membuat list mimpiku dulu 

Oke, kenapa kau begitu sangat percaya padaku? 

Sepuluh menit berlalu, pesan terakhirku cuma bercentang biru dua, tanda sudah dibaca tapi tidak akan pernah dibalas. Cewek memang begitu, sekarang perasaannya sedang berubah untuk tidak membalasi pesan WA, padahal dia sendiri yang memulai pesan lebih dulu. 

Mesin pewujud mimpi, ini adalah mesin yang terakhir kubuat, aku sudah putus asa, bila ini gagal, maka gagal juga impianku untuk memiliki Wafa. Maka jelas terpampang nyata kalau Wafa memang tidak ada setitik nila pun rasa suka padaku, karena itu akan bisa merusak putih hatinya.

*

Aku memang begitu dekat dengan Wafa, aku menganggapnya lebih dari sahabat, sedang dia cuma menjadikanku kurang dari teman. Iya, saat dia sedang kekurangan, dia selalu mendatangiku, bercerita semua keluh kesahnya, kadang ia menangis tapi tidak bersandar di bahuku. Aku bingung dengan status diriku didirinya, sebingung ikan yang terkurung dalam perangkap.

Rasa penasaranku inilah yang mendorongku untuk membuat banyak mesin ajaib, semua tujuannya untuk mengetahui isi hatinya, menjawab semua pertanyaan yang sulit, bukan karena tidak ada pilihan gandanya, tapi aku hanya tidak bisa mencontek dan melihat hatinya, pertanyaan tentang apakah dia mencintaiku? Itu saja.

Aku bukan pengecut atau banci, aku sudah berapa kali menembaknya, tapi pelurunya malah mengenaiku dan membuat hatiku sakit. Seperti hari itu, saat aku terang-terangan menyatakan cintaku dihadapannya, didepan semua teman sekantorku, menyodorkan bunga cinta, setelah itu yang terjadi bukan harapan.

Wafa menendang bunga itu, terlempar semua mimpiku, pecah anganku, dan dalam kamus dan bahasa manapun tidak ada pernyataan kalau menendang bunga itu tanda diterima. Wafa menolakku mentah-mentah, bahkan ia mengucapkan sesuatu yang membuatku menangis dan membuatku akan berpikir berapa kalipun untuk menyatakan cinta lagi.

Kalau kau bukan teman sekantorku, aku sudah blokir nomer HP mu sejak lama

Itulah ucapannya yang membuatku minder, aku bukan siapa-siapa, bahkan teman pun tidak, hanya orang yang sekantor. Namun, setelah kejadian itu, sifatnya berubah lagi, ia kembali akrab denganku, aku kembali baper.

Aku selalu berusaha mencari sesuatu di hatinya, tentang kesamaan perasaan, tentang cinta, agar nanti aku bisa penuh percaya diri untuk menyatakan cintaku lagi, aku perlu membuat mesin, mesin ajaib yang bisa mengetahui tentang ada atau tidaknya rasa cintanya kepadaku.

Aku tidak ingin membuat mesin yang bisa membuat dia jatuh cinta, itu namanya memaksakan cinta, untuk apa sebuah mesin untuk itu, dukun banyak yang bisa. Cinta itu harus mengalir, seperti air, kami berdua bisa meneguk dan menghilangkan dahaga cinta.

Karena ambisiku ini, Wafa sering kujadikan kelinci percobaan semua mesinku, ia tidak pernah menyadari hal itu, dan aku menyadari cintaku yang semakin dalam. Maka, karena hal ini, Wafa adalah kelinci yang pertama.

*

Bersambung,..