Tujuh
Sungguh Kayla merasa kesal banget hari ini, karena kritikian dari Abka saat dirinya mengajar. Moodnya langsung terjun bebas, padahal dia sudah mengajar sebaik mungkin. Dan menurut Ayana, waktu micro teaching, dirinya sudah cocok menjadi guru. Siapa yang salah sebenarnya disini?

"Kamu itu nggak cocok banget jadi guru, seni mengajar kamu kurang luwes. Mengajar anak-anak itu tentu berbeda dengan menghadapi klien-klienmu yang bermasalah. Mengajar itu harus punya kedekatan emosi, karena jiwa-jiwa yang kamu tangani adalah mahluk hidup. Kalau cara mengajar kamu kaku, dan berpikir yang penting ilmu nyampai di otak anak, apa bedanya kamu dengan Youtube, aplikasi belajar zen*us atau ru*ng gu*u. Hari ini semua ilmu bisa dipelajari di internet, tapi yang bikin beda guru di dunia nyata dan di dunia maya adalah kedekatan emosi. Bagaimana caranya anak itu bersemangat belajar, punya mimpi yang besar untuk jadi orang hebat, itu karena peran guru yang totalitas, bukan karena sibuk mengejar nilai. 

Nilai itu bukan sesuatu yang harus mati-matian di kejar, kalau moral anak tidak terbangun dengan baik juga percuma. Jadi PR kamu itu, bagaimana caranya anak-anak ini memiliki adab yang luhur dan mereka punya motivasi belajar yang tinggi, tanpa merasa di paksa, dia jadi asyik belajar." ujarnya panjang lebar, dengan muka datar dan tajam.

"Terus cara ngajar yang bagus itu seperti bagaimana Pak Abka, tolong kasih saya contoh yang baik."

"Harusnya kamu taulah bagaimana cara ngajar yang baik, ketika dirimu memang berniat jadi guru. Masa cara gitu aja harus saya yang ngasih tau. Meski kata Ayana kamu lolos dari micro teaching, tapi dimata saya kamu masih nol dalam mengajar." jawabnya jutek.

"Ayana..." Kayla mengkerutkan keningnya heran.

"Ehm...maksud saya Bu Ayana." ralat Abka cepat.

Tentu saja Kayla merasa heran, dengan panggilan Abka pada Ayana yang tanpa embel-embel panggilan Ibu. Apakah mereka memiliki hubungan yang begitu dekat.

"Ayana adalah saudara sepupu saya, jika kamu mau tahu." jelas Abka tanpa ditanya.

Kayla diam dan tampak berpikir, sejak kapan Ayana punya saudara sepupu semenyebalkan Abqa Adam Agler. Perasaan mereka bersahabat lama, dan nggak pernah ada manusia es balok tersebut berkeliaran di seputaran Ayana, selama dirinya bersahabat.

"Jadi saya cocoknya jadi apa, Pak Abka?" Kayla merasa tertantang dengan sikap Abka yang terkesan sangat menyepelekan.

Abka memandang Kayla sebentar, lalu dia tampak pura-pura berpikir keras.

"Kamu cocoknya jadi istriku, dan jadi ibu buat anak-anaku."

Semburat merah langsung merambat pipi Kayla, dan tiba-tiba dia merasa canggung berhadapan dengan laki-laki yang beberapa meter tidak jauh dari dirinya. Kayla langsung membuang muka untuk melepas kecanggungan yang tercipta. Sedang diam-diam Abka menikmati sikap salah tingkah Kayla. Semburat merahnya itu, bikin terlihat tambah cantik. Dan Abqa tersenyum samar. Untung saja hal itu tidak berlangsung lama, karena Ayana datang menjemputnya, mengajak untuk pulang bareng karena waktu mengajar sudah selesai.

"Bagaimana dengan pengalaman mengajar hari pertama, senangkan?" tanya Ayana ketika mereka mampir disebuah Kafe.

"Ada yang bilang aku nggak cocok jadi guru, katanya aku kurang menjiwai."

"Siapa yang bilang begitu ? Aku kan sudah micro teaching kamu, dan lulus dari tes itu."

"Yeah, siapa lagi kalau bukan Abka Adam Agler. Seharian dia mantengin aku ngajar. Dia bilang kurang inilah, kurang itulalah, sebel banget tahu nggak sih, aku sama dia."

"Bang Abqa bilang gitu, wah ada yang aneh ini. Biasanya dia nggak pernah jadi orang kurang kerjaan, nggak pernah terjun langsung ngurusin para guru. Cuma kamu special some one yang bikin dia mau repot-repot. Selama ini dia lebih mempercayakan seratus persen sekolahnya aku yang kelola."

"Jadi beneran dia saudara kamu ? Kok aku baru tahu. "

"Bisa dibilang begitu. Orang tuaku saudaraan sama ibunya Bang Abqa. Tapi Mas Abqa lama hidup diluar negri. Dia termasuk saudara favoritku, selain pinter, sholeh, dan sayang banget sama keluarga. Jadi aku nggak percaya kalau tadi dia nyinyirin kamu."

Uhuk...hampir saja Khayla terdesak ketika mendengar penjelasan Ayana tentang paket sempurna Abqa Adam Agler.

"Sholeh katamu? " Khayla sama sekali nggak percaya.

"Iyupz, nggak percaya ya? Dia lulusan Mesir, tapi lama juga tinggal di Amerika karena ayahnya Bang Abqa memaksa untuk ambil jurusan business. Dia itu tipe-tipe calon suami idaman gitu sih, Kay. Mau nggak aku comblangin?"

"Ngaak. Makasih banget." Kayla langsung menolak.

"Ih, kamumah." Ayana langsung cemberut.

"Kenapa nggak buat kamu aja."

"Aku kan masih ada ikatan saudara, Kayla."

"Jadi kalau bukan saudara mau?"

"Ih, nggak gitu juga kali, Kay."

"Lagian dalam agama tidak ada larangan kok, menikah sama saudara sepupu?" jelas Kayla.

"Tapi nggak gitu kali, Kay. Kalau masih ada yang jauh, dan tidak ada ikatan saudara, kan lebih baik, seperti kamu sama Bang Abqa gitu."

"Terserah kamu aja Ayana, aku hanya berharap jodohku nanti yang terbaik menurut Allah."

"Amiin. Dan semoga Bang Abqa yang jadi jodoh kamu."

Kayla mendelikan matanya. Cukup sekali dia berhubungan dengan manusia es balok yang nyinyirnya kebangetan, atau tepatnya dua kali. 

"Setelah ini kita mau kemana?"

"Pulanglah. Aku harus belajar di pesantren, bukan kayak kamu yang bisa kelayapan."

"Berarti kamu ketemu Bang Abqa juga dong, kalau pesantrennya yang kamu sebutkan kemarin. Aku mencium bau-bau yang aneh nih. Kenapa di saat kamu nyantri, Bang Abqa juga ikutan tinggal di rumah Uwak aku. Apakah kalian pernah kenal sebelumnya?"

Kayla menelan ludahnya dengan susah payah. Dunia ini penuh dengan kejutan. Apa yang dikatakan Ayana sulit di percaya, jika sekolah tempat dia mengajar kepemilikannya adalah Abqa Adam Agler. Dan pesantren yang dia diami saat ini, pemiliknya adalah kakak dari ibunya Abka. Besok kejutan apalagi? Kenapa hidupnya selalu berotasi dipusaran Abka terus. Dimanapun dirinya ada, akan selalu ada Abka.

"Kayla, kamu ketemu Bang Abqa terus dong?" 

Kayla lebih memilih diam, daripada menjawab rasa kepenasaran si nona kepo. Meskipun dia juga ikut bertanya dalam benaknya. Mengapa semuanya seolah seperti di rencanakan oleh Abqa? Apakah ini sangat erat hubungannya dengan ancaman dia, yang akan selalu membayangi langkahnya.

"Kay, jawab dong. Kok aku curiga gitu?"

"Aku nggak tau, Ayana. Mungkin kebetulan aja kali."

"Ya udah deh kalau nggak mau jujur, nanti akan aku paksa abangku untuk buka mulut. Nggak mungkin manusia es itu pindah, dan mau repot-repot kalau nggak ada yang di incer."

Kayla mengangkat bahu acuh, lalu melirik jam tangannya. Siang ini dirinya ada jadwal tahsin. Kaylapun bangkit berdiri, diikuti oleh Ayana. Meski dalam hati Ayana belum rela untuk meninggalkan kafe, karena belum berhasil mengorek rasa kepenasarannya. Pasti diantara mereka ada sesuatu yang disembunyikan. 

Komentar

Login untuk melihat komentar!