Berita Bahagia dari Kania



Kini hari-hariku disibukkan bekerja sembari merawat bayi mungil yang kuberi nama Athalea Asyifa. Bukan perkara mudah melakukan pekerjaan keduanya secara bersamaan. Apalagi saat toko sedang ramai. Namun, sekali lagi inilah konsekuensi yang harus aku tanggung demi bisa bertahan hidup di perantauan. 

"Lea, tuh, Dek Atha nangis." Seorang karyawan menegur, karena melihatku yang tak segera menenangkan bayi mungil  yang sedang menangis tersebut. Kepalang tanggung dengan pekerjaan yang hampir menuju jam istirahat siang.

"Iya, segera aku akan gendong. Namun, bisakah aku minta tolong sebentar?" pintaku kepada gadis berwajah manis tersebut.

Dia mengangguk dan segera menggantikanku mengambil alih tugas di kasir. Kubawa Atha ke sebuah ruang tempat biasa karyawan beristirahat dan menyusuinya hingga dia tertidur lelap dalam pangkuan. Bagiku dialah tujuan hidupku sekarang.

Selama bekerja aku menempatkan Athalea dalam kereta bayi dan menaruhnya tepat di sampingku. Kadang, jika karyawan lain sedang segang akan ikut bergantian menjaga putri kecilku. 

Kereta bayi itu pun bukan aku yang beli, melainkan hasil pemberian dari majikanku. Bekas anaknya dulu yang masih dia simpan. 

Toko perlengkapan ibu hamil, bayi, dan balita ini cukup besar. Letaknya yang strategis tepat berada di jalan utama kota Surabaya. Beruntungnya lagi saat aku melahirkan dulu semua perlengkapan sudah diberikan oleh majikanku. Sebagai kado atas kelahiran putri pertamaku, begitu ucapnya. Menyusul kado-kado yang lain dari teman sesama karyawan di sini.

Kadang aku merasa malu. Allah masih bermurah hati memberiku berkah kehidupan--dikelilingi orang-orang yang begitu peduli. Padahal tidak ada hubungan darah atau ikatan kekerabatan yang menghubungkan di antara kami.

Bukankah itu sebuah nikmat yang tidak boleh aku dustakan?

***

Semburat senja telah memamerkan aura cantiknya. Aku bergegas merapikan meja kasir dan bersiap pulang. Jarak toko dengan kontrakanku tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit berjalan kaki. Berangkat pagi dan pulang sore tak harus membuatku merasakan teriknya matahari.

Menyusuri trotoar sembari mendorong kereta bayi milik Atha. Menyaksikan orang dan juga kendaraan berlalu-lalang di jalanan yang semakin padat merayap. Sesekali imajinasiku menerawang jauh, ada kerinduan yang perlahan menyusup ke dalam sana. Bagaimana kabar mereka sekarang?

Tiba-tiba ponselku berdering. Kuraih benda pipih di saku celana, hadiah ulang tahun dari majikanku.

"Mas Adnan," gumamku tak percaya. Bagaimana mungkin lelaki itu menghubungiku. Untuk apa?

[Hallo!] sapaku.

[Lagi di mana?]

[Lagi di jalan, Mas. Ini mau pulang ke kontrakan.]

[Oh, ya, udah. Hati-hati, ya. Jangan lupa makan!]

[Makasih.]

Hanya itu yang bisa aku katakan. Biar bagaimanapun untuk saat ini hatiku masih tertutup untuk yang lain. Entah karena rasa trauma yang terlanjur mengakar di atma, atau belum bisa sepenuhnya berpaling dari cinta pertama.

Jika dipikir siapa yang bisa menolak pesona Mas Adnan. Dia anak majikanku. Memiliki wajah yang rupawan dengan garis wajah keturunan Cina. Pun telah bekerja dan memiliki jabatan yang mentereng di kantornya.

Namun, sekali lagi. Aku tidak bisa menerima pernyataan cinta darinya. Lagipula aku tidak yakin keluarganya akan mampu menerima, meski ibunya peduli padaku. Terlebih aku tahu seorang gadis sepadan yang selama ini menaruh harapan padanya kerap datang mencari. Ah, diriku yang kerdil ini tidak pantas bersaing dengannya. 

Peduli dan sepenuhnya menerima bukankah dua hal yang berbeda? Akan ada nama dan kehormatan keluarga yang nantinya bakal dipertaruhkan. 

Sesampai di depan pintu aku sudah disambut sekotak kardus beraroma wangi dan menggoda. Ah, pasti ini kejutan dari dia. Siapa lagi?

***

Bada Magrib pintu kontrakan diketuk oleh seseorang. Bergegas aku mengintip dari balik tirai terlebih dahalu. Demi rasa aman, aku memang selalu menutup pintu kontrakan dan menguncinya. Kotrakanku hanya satu ruangan besar, itu pun sudah diberi sekat untuk kamar mandi serta dapur mungil. Sementara ruang tidur sekaligus difungsikan sebagai ruang tamu. 

Di luar tampak Kania berdiri dan di sebelahnya bersama seorang laki-laki yang berpenampilan rapi. Sepertinya mereka akan pergi ke suatu acara, tebakku.

Pintu aku buka dan disambut sapaan dari keduanya," Assalamualaikum, Lea."

"Waalaikumusalam. Ayuk, masuk, Kania, dan...." 

"Dia Mas Amar. Calon suamiku." Kania memperkenalkan lelaki yang baru sekali ini aku melihatnya.

"Oh, jadi kamu ke sini mau nganter undangan pernikahan," ledekku yang membuat pipi Kania bersemu merah. 

"Insha Allah. Minta doanya, ya!" sahut Kania sembari memelukku.

Lalu, aku mempersilakan keduanya masuk agar leluasa untuk berbincang. Meninggalkan mereka sejenak untuk ke belakang membuat minuman dan kembali dengan tiga gelas teh hangat juga martabak manis yang belum sempat aku buka tadi.

"Kalian dari mana atau mau ke mana?" tanyaku memulai obrolan. 

"Kami habis dari butik dan sengaja mampir ke sini. Aku udah kangen banget sama Athalea," jawab Kania yang melirik ke arah bayi mungil yang masih tertidur pulas.

"Kok, masih tidur saja sih, Dek. Bangun dong! Masa tante Iya datang dianggurin," rajuk Kania sambil menggoyang-goyangkan putriku yang kini genap berusia enam bulan.

Pantas saja Kania merindukan Athalea, terakhir bertemu sudah tiga bulan yang lalu. Ya, dulu aku dan Kania adalah teman satu tempat kerja. Namun, tiga bulan yang lalu dia memutuskan resign karena satu alasan. 

"Lea, kamu kapan akan memberikan ayah untuk Athalea," tanya Kania yang seketika membuatku dadaku serasa berhenti berdetak. 

"Ayah," sahutku kaget. 

"Iya, ayah untuk bayimu. Masa kamu tidak kasihan padanya! Biar bagaimanapun dia membutuhkan figur seorang ayah," jelas Kania seolah mengingatkanku sudah saatnya aku mulai membuka hati kembali.

"Aku belum siap, Ka." Hanya itu jawaban yang berhasil keluar dari bibirku. Lalu, kembali tertutup untuk pertanyaan yang bernada serupa. Meskipun tak memungkiri pertanyaan Kania berhasil mengusik benakku.

Benarkah aku seegois itu sebagai seorang ibu?

Tidak!

Aku hanya tidak ingin gegabah dalam membuat keputusan. Apalagi mengingat statusku sekarang. Bukan perkara yang mudah untuk memulai satu hubungan.

"Maaf, Lea kalau perkataanku membuatmu...." ucap Kania yang terpotong olehku," tidak apa-apa, kok, Ka. Aku mengerti akan maksudmu. Nanti aku akan coba untuk memikirkannya lagi."

Sekilas kulihat Mas Amar menyenggol bahu Kania. Kode bahwa dia merasa tidak enak hati. 

"Jangan merasa tidak enak hati, Mas! Beneran aku gak apa-apa, kok. Aku tahu apa yang dikatakan Kania memang sebagai bentuk rasa pedulinya padaku juga Athalea," kataku sambil tersenyum. Kontras di dalam sana meski terasa perih.

Lalu, Kania menghambur memelukku. Ya, aku dan dia sudah selayaknya saudara. Dulu dia teman sekolahku saat SMP, lalu pindah ke sini bersama orang tuanya.

Pelukan kami terlerai paksa oleh suara tangis Athalea yang terbangun. Ah, lupa. Sejak tadi aku belum sempat mengecek popoknya.



???