Bab 3. MASA BERKELUARGA

Setelah usai masa berduka karena si janin tak berdosa kembali ke pangkuan Ilahi, Angga dan Anggia semakin giat melakukan ibadah keluarga. Mereka ingin agar Tuhan menggantikan yang hilang dengan menganugerahi buah hati kembali. Kali ini berharap seluruh racun yang pernah masuk ke dalam tubuhnya, sudah terserap oleh jani pertama dan untuk selanjutnya akan dikaruniai buah hati yang akan dilahirkannya secara sempurna.
Mengonsumsi vitamin, suplemen, dan menerapkan pola hidup sehat dilakukan Anggia yang berharap bisa memiliki anak yang sehat dan sempurna. Olahraga, ibadah, dan refreshing serta rekreasi pun dilaksanakannya dengan sukacita. Taklupa mengunjungi panti asuhan dan panti jompo agar seimbang kasih yang dilakukannya kepada sesama.
Akhirnya. Dikabarkan bahwa Anggia berbadan dua kembali. Semua anggota keluarga bersuka cita. Semua mendukung di dalam doa agar putra yang dikandungnya sehat sempurna.
Kakak sepupuku memiliki tiga putra-putri. Angga si sulung, sementara kedua adiknya Ananta, dan Ayumi. Pada saat usia kehamilan Anggia memasuki minggu ke 32, Ayumi, adik perempuan Angga, menikah dengan Roberto. Saat pemberkatan nikah Ayumi tersebut, tiba-tiba perut Anggia mengalami kontraksi sehingga harus  bersegera dilarikan ke rumah sakit Ibu dan Anak. Beruntung rumah sakit tersebut berada hanya berseberangan dengan gereja tempat Ayumi melakukan pemberkatan. Anggia harus rawat inap dan bedrest untuk memastikan janinnya tidak mengalami permasalahan.
Keesokan harinya Anggia melakukan tes USG. Bersyukur karena janin yang di dalam kandungan bertumbuh kembang secara sempurna. Hanya, Anggia tidak diizinkan beraktivitas melampaui kapasitasnya. Anggia harus banyak bedrest karena janinnya agak rewel akhir-akhir ini.
Dengan pertolongan dokter ahli, akhirnya Anggia melahirkan seorang anak laki-laki yang diberinya nama Happy Kurniawan. Mereka berharap Happy membawa kebahagiaan dan semuanya menjadi baik-baik saja. Kebahagiaan yang sempurna dialami oleh keluarga muda ini. Kakak sepupuku pun sungguh sangat senang, akhirnya cucunya lahir sempurna, seorang bayi lelaki yang tampan.
Happy bertumbuh kembang dengan sempurna sebagai seorang anak yang sangat pintar dan berbakat. Sejak kecil sudah kelihatan jiwa kepemimpinan dan kewibawaannya. Sepupuku sangat membanggakan kepintaran cucunya ini karena memang Happy memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Tuhan benar-benar mengganti dengan hadiah istimewa. Jika putra pertamanya lahir dalam kondisi sudah wafat dan dalam keadaan fisik cacat, Happy merupakan ciptaan-Nya yang sangat sempurna. Ganteng, cerdas, dan sangat kreatif di usianya.
Tiga tahun kemudian, Anggia pun memperoleh kesempatan untuk hamil kembali. Kali ini Anggia masih memperoleh bayi lelaki yang diberinya nama Bagus Cahyanto. Tidak berbeda dengan Happy, Bagus pun lahir dengan sempurna. Sangat tampan, dengan muka yang berseri-seri. Ternyata, sejak balita Bagus pun menunjukkan kepintaran yang diacungi jempol. Happy dan Bagus, dua cucu lelaki yang sangat pintar dan menggemaskan. Sungguh mereka merasakan nikmat yang Tuhan anugerahkan. Dunia kanak-kanak keduanya sangat didukung oleh kakek neneknya yang berkecukupan. Kedua balita itu lebih banyak tinggal di rumah eyangnya daripada di rumah mereka sendiri. Ya, mereka telah dibelikan sebuah rumah mungil oleh kakak sepupuku. Demikian juga disediakan mobil sederhana sehingga mereka boleh menikmati hidup sesuai standar.
Dan tiga tahun berikutnya diberikan kesempatan untuk sekali lagi memiliki seorang anak. Kali ini putri jelita yang diterimanya sehingga diberinya nama Melati Putri. Semakin lengkaplah kebahagiaan keluarga Angga dan Anggia di mata keluarganya.
Pada saat Putri masih balita, Angga harus pindah ke kota lain karena tugas dari kantornya. Saat itu kakak sepupuku masih bisa membelikan mereka sebuah rumah mungil di kota tempat Angga ditempatkan. Maka, kakaklah yang membelikan rumah yang dibutuhkan oleh keluarga Angga dan Anggia.
Mereka pun masih melakukan aktivitas seperti biasanya. Anggia masih menerima les privat di rumahnya, sementara Angga dipromosikan menjadi kepala divisi tertentu di kantornya. Kedua anak lelaki mereka tetap tinggal bersama kakek neneknya. Hanya Putri yang ikut bersama mereka di kota lain. Sesekali kakak sepupuku membawa kedua cucunya mengunjungi Angga dan keluarganya.
Tiba-tiba suami kakak sepupuku meninggal secara mendadak. Beliau terkena serangan jantung. Setelah mengemudikan mobil Malang Mojokerto kembali ke Malang pergi pulang, tiba-tiba beliau ambruk dan langsung tewas di dekat mobilnya. Kejadian mendadak ini tentu saja membuat seluruh anggota keluarga syok luar biasa. Dengan demikian, sumber perekonomian pun hilang karena suami kakakkulah tulang punggung keluarganya.
Setahun, dua tahun kehidupan mereka nyaman-nyaman saja sampai pada suatu ketika. Entah bagaimana tiba-tiba Anggia merasakan ketidaknyamanan karena ekonominya kian menyurut. Karena kakak sepupu iparku sudah memasuki masa purnatugas mereka tidak lagi bisa menyuport perekonomian Angga. Mulai muncullah riak-riak kehidupan yang membuat rumah tangga mereka oleng.
Tiba-tiba Anggia selalu protes karena merasa bahwa kehidupan mereka mulai tidak nyaman. Anggia merasakan kekurangan di sana-sini. Anggia juga meminta mobil pribadi untuk aktivitasnya mengantar jemput anak-anaknya bersekolah. Dalam hal ini Angga angkat tangan. Mereka berdua mulai cek-cok. Anggia sudah tidak dapat dikendalikan lagi oleh Angga, bahkan seolah Anggia meledek karena Angga tidak mampu mencukupi kebutuhannya.
Ketika ketiga anak mereka masih perlu teladan keharmonisan orang tuanya, semuanya telah berubah menjadi bencana. Anggia dengan terang-terangan meminta pisah bahkan dengan membawa lelaki lain ke rumah mereka. Pertengkaran demi pertengkaran tak terelakkan.
Suatu saat, aku berkesempatan mengunjungi mereka bersama kakak sepupuku. Seharian kami berada di rumah mereka, kami tidak berjumpa dengan Anggia.
“Ya, begitu itu, Te! Dia sudah tidak bisa lagi kukendalikan!” kata Angga sambil menggeleng-geleng.
“Trus, maunya bagaimana?” tanyaku lemah.
“Anggi minta aku menceraikannya. Tetapi kan Tante tahu, kita tidak diizinkan Tuhan untuk bercerai atau menggugat cerai! Ya, biar saja. Jika dia yang mengurus perceraian kami, ya itu urusan dia. Aku akan tetap diam saja!” kata Angga dengan wajah takdapat kumaknai lagi.
“Trus anak-anak gimana?” lanjutku.
“Mereka sudah bosan mendengar perdebatan kami. Mereka juga tahu bahwa ibunya tidak bisa dibawa miskin. Ya sudah, apa maunya saja. Kita hidup sendiri-sendiri seperti ini, Te!” jawabnya sambil menunduk.
“Ya, sudah. Biarkan saja. Jangan membebani pikiranmu. Jika maunya dia cerai, ya sudah biarkan saja. Kamu kan bisa pulang ke rumah Mama!” kata kakak sepupuku memberikan solusinya.
“Rumah ini terpaksa akan kujual, Ma! Nanti aku cari rumah lagi di Malang!” kata Angga.
“Ya sudah, terserah saja. Yang penting rumah dijual kalau bisa tetap jadikan rumah!” nasihat kakakku.
Genap lima belas tahun menikah, ternyata Angga resmi memperoleh surat cerai dari Anggia istri yang dicintainya. Anak-anak mereka ikut kakek neneknya, alias kakak sepupuku. Sekolah Happy dan Bagus langsung dipindahkan ke kota kami. Tinggal di rumah eyangnya. Sementara, si kecil Putri ingin ikut Anggia, ibunya.
Kini Happy telah menyelesaikan kuliahnya dan bekerja di salah satu instansi pemerintahan. Bagus masih kuliah, sementara Putri hampir memasuki SMA-nya. Angga tetap menduda sebab dia berjanji tidak akan pernah mengkhianati janji nikahnya. Sementara Anggia telah menikah dengan orang lain.

Komentar

Login untuk melihat komentar!