Janji, tinggal janji.
#Arina
#Ketulusan_yang_terabaikan.

(Part 4) 
🍂🍂🍂🍂🍂


Daun yang baru saja membentuk tunas, bukan ia tak pernah berjanji tak akan meninggalkan tangkai. Lalu, saat ia semakin layu, kering, dan gugur, apakah itu berarti salahnya? Semuanya adalah takdir. Takdir dari Dzat yang maha mengatur irama pernafasan. 


Janji tinggalah janji. Janji adalah hutang, entahlah. Bahkan aku tak berniat menagihnya suatu hari nanti. 


Kemarin, mas Fahri berjanji akan cepat pulang, tak akan menginap. Namun nyatanya, sampai saatnya aku harus berangkat berjualan, ia tak kunjung datang. 


Saat aku pulang berjualan di jam makan siang, ia pun belum kelihatan. Dan dari anak-anak aku tahu, bahwa mas Fahri memang tidak pulang. 


Kuambil gawai di saku tas slempang yang menyampir santai di bahu sebelah kanan. Kulihat lagi pesanku tadi pagi sebelum berangkat berjualan, tidak dibalas, walaupun sudah centang dua berwarna biru. Tanda sudah dibaca. Pesan itu berisi salam, pamit hendak berangkat berjualan. Seperti yang setiap hari aku lakukan. Walaupun perbuatannya telah menancapkan paku karatan dengan tancapan yang dalam, tapi aku masih berstatus istrinya. Haram bagiku keluar rumah tanpa izinnya. 


Aku meremas kaus sebelah kiri di bagian dada. Sakit, perih, sesak. Mengapa mengikhlaskan menjadi sesulit ini, Gusti?


Aku belum tahu apa motif yang mendasari pernikahan kedua mas Fahri. Cinta? Mungkin iya. Harta? Bisa jadi juga. Nafsu? Ahh entahlah. Namun aku tak mau berasumsi lebih jauh, su'udzon yang justru semakin menambah dalam lukaku sendiri. 


Biarlah, Allah yang akan mengungkap semuanya. Ini adalah takdirku. Arina Alhaqq, adalah perempuan tangguh. Tak akan kubiarkan takdir menginjak-injak harga diriku. Akan aku lawan, aku akan menerjang arus demi hidupku dan anak-anakku. 


Besok adalah hari Minggu. Disambung dengan libur tiga hari di sekolah Alwi dan Syifa. Aku berinisiatif mengantar mereka ke rumah mbak Sinta, kakak tertuaku. Aku tak mau, Alwi dan Syifa melihat perseteruan di antara kedua orang tuanya, itu pasti akan meracuni fikiran mereka.


Selepas berpamitan kepada ibu, dan menjawab beberapa pertanyaan dari beliau, aku meluncur menuju kediaman mbak Sinta. Tanpa mampir, aku langsung tancap gas pulang, untuk kembali berjualan. Sebelum pergi, aku memberi ultimatum agar Alwi dan Syifa tidak bercerita tentang Rania. Belum saatnya keluargaku tahu masalah ini. 


Ada gairah lebih besar, ingin segera menjual seluruh stok roti hari ini dan besok. Mendapatkan lebih banyak uang untuk membelikan makanan enak untuk anak-anakku, agar mereka tak memberi cap pelit di dahiku. 


Malam ini, aku duduk terpekur di pinggir danau X. Danau yang pernah menjadi saksi betapa aku sangat bahagia hari itu. Danau yang pernah ku kunjungi bersama mas Fahri semasa pengantin baru. 


"Kamu tahu, dek? Danau ini dalam, dan aku berjanji akan akan menggali cintaku kepadamu lebih dalam dari danau ini." Aku tersenyum, lantas memeluk tubuh tegap mas Fahri. 


"Dek, bila pun nanti ada wanita yang punya segalanya melebihi dirimu, aku rasa aku tak akan mampu berpaling dari cintamu. Ketulusan, ketlatenan, kesabaran, dan pengabdianmu untukku dan Ibu, amatlah menjadi hal yang paling patut ku syukuri atas hadirmu. Terima kasih, dek!"


Aku tersenyum miris, kala mengingat segala janji romantis yang dulu pernah ia lukis, dan kini, ia sendiri yang mengikis. 


Gusti.. bolehkah hamba menyerah? Sudah cukupkah sikap dan sifatnya selama ini, hamba jadikan sebagai alasan untuk berpisah? 


"Mbak, roti!" Lamunanku buyar kala ada sepasang muda mudi yang membeli daganganku. 


Alhamdulillah, berdiri di sini sejak habis maghrib tadi, aku sudah mengantongi tiga ratus lima puluh ribu. Jumlah yang cukup banyak untukku. Tinggal menunggu lagi, semoga masih ada orang yang mau membeli daganganku. Mengingat banyak sekali pasangan halal dan non halal yang menghabiskan malam Minggu mereka disini. 


"Totalnya 34.500 mas!" 


"Ini, mbak. Ambil aja kembaliannya!" Ia mengangsurkan uang pecahan berwarna biru.


"Jangan, mas! Nanti saya kebiasaan. Jadi berharap dapat tips dari uang kembalian. Tolong di ambil kembaliannya mas!" Kataku sambil mengangsurkan kembalian dalam jumlah pas.


Aku memang tak pernah mau menerima uang kembalian yang disedekahkan para pelanggan. Bukan apa-apa, disini juga banyak pengemis, yang mungkin lebih layak untuk mendapatkan uang kembalian dari para pelangganku tadi. Selain itu, juga karena aku tak mau menjadi pribadi yang berharap sedekahan dari pelanggan. 


Setelah pelangganku berlalu, ada sebuah mobil SuV berwarna hitam yang berhenti dan terparkir di belakang motorku. Aku tak perduli. 


Bahkan sampai pengemudinya turun pun, aku tetap tak acuh. Mengalihkan pandang pada objek lain. 


Apalagi ketika melihat seluet perempuan berjilbab pashmina berwaran biru, yang sedang duduk tenang di jok samping kemudi. Dengan lampu dalam mobil yang menyala, mempermudah mataku untuk mengetahui siapa dirinya, Rania. 


"Rin,!" Mas Fahri mendekat. Berusaha meraih jemari, namun kutepiskan perlahan. Bukan jijik, bukan. Tapi aku merasa tak pantas. Untuk apa ia mencariku setelah segala hal yang ia lakukan kepadaku? 


Mas Fahri, ia bertanya dimana keberadaanku via chat aplikasi hijau. Kenapa aku belum pulang sedang jarum jam sudah berada di angka delapan malam. Dan saat aku memberi tahu dimana aku, ia menyusulku. Harusnya aku terharu, bukan? Tapi tidak! Wanita yang sengaja ia turut sertakan, semakin meluluhlantakkan pertahananku. Semakin membuatku luka di hatiku menganga lebar dan berair. 


"Ada apa, mas? Katakanlah!" Aku menjawab dengan pandangan lurus ke depan. Ke arah danau. 


"Rin, jangan seperti ini. Ayo kita pulang!" Lagi, ia berusaha meraih jemari. Namun, aku juga menepisnya, lagi. 


"Pulanglah sendiri, mas. Kamar yang biasa kita tempati, sudah kubersihkan. Ajaklah istrimu menginap di rumah Ibu sesekali. Agar Ibumu senang." Perih. Kata yang keluar dari mulutku, benar-benar mencerminkan pedih. 


"Rin... aku akan menjelaskan semuanya, tapi ku mohon, kita pulang, ya!" Ia masih menghiba. Dari ekor mata, dapat kulihat Rania memperhatikan kami. Saat mataku kuarahkan langsung kepadanya, ia otomatis membuang pandang ke arah kiri.


"Tak ada lagi yang harus kau jelaskan mas. Semuanya sudah jelas." Kutarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Mengurai sesak yang kian menghimpit dada. Agar tak nampak lemah di mata mereka. 


"Aku mencintaimu, mas. Sangat. Dari dulu, bahkan hingga hari ini. Dan karena rasa cintaku yang begitu besar padamu, aku tak mau menyaksikan dirimu berjalan dengan pundak miring sebelah, di akhirat nanti. Karena ketidak adilanmu padaku, dan pada pernikahan ini. 


Maka, aku minta..." 


Kutarik nafas, lalu kubuang. 


"Ceraikan aku!"


... 



Komentar

Login untuk melihat komentar!