ELEGI MALAM HARI

  

malam itu
tegak kuberdiri dekat ekaliptus di depan bilikku
mengejang kaku dan diam membisu
kuhirup harum aroma atsiri menyerbu
indra penciumanku
sambil kutatap sebutir bintang waluku
berkedip tiada henti pamerkan cahya biru
seolah takrela dengar pamitmu 

ku masih di sini
walau larut menyapa mesra diri ini
dalam dingin angin malam dan dalam gelap sepi
cuma bersahabat malu-malu dengan cahya indurasmi
dan suhu enam belas derajat memeluk raga ini
takada konser biola serangga 
ataupun senandung burung hantu yang biasa beruhu-uhu
malam mati suri
gemetar, bergeletar ....
kala kuingat kau telah tiada di sisi lagi

(ahhh... teringat kau terenggut paksa oleh petaka 
sesaat setelah kau katakan takkan lagi bersama
lalu aku pun larut dalam duka nestapa mahasempurna)

malam ini
tak kutahu kenapa 
rasa itu kembali lagi memburu dalam dada
rindu pun menggelegak membahana
sementara air membanjir di netra
maka segera, sengaja kubuka jendela 
supaya bisa kuintip kau yang di sana
lewat semilir angin malam yang setia menyapa

aku tahu...
di sana pun kau merenda kata 
yang tak kutahu maknanya!
ku taktahu pamitmu dulu ternyata
membawa serta separuh nyawa
biarlah sejuta puspa di atas pusara 
bercerita tentang kita di masa lalu
yang takpernah sempat bersatu
biarlah namamu takhanya tertulis di nisan itu
tetapi tetap menghiasi sanubariku