Part 7
Tengah malam aku bangun untuk melaksakan salat sunah. Meminta petunjuk pada Yang Maha Kuasa atas apa masalah yang menimpa. Meminta keyakinan hati agar tak lagi ragu mengambil keputusan.

Setelah melipat sajadah dan mukena, aku turun ke bawah untuk mengambil minum di dapur. Saat melewati kamar Mas Fatan, pintunya sedikit terbuka dengan keadaan kamar gelap.

Apa sejak tadi Mas Fatan belum pulang? Ke mana dia?

Aku menyalakan saklar lampu di kamar Mas Fatan, lalu menutup pintunya rapat sebelum kembali melangkah pergi. Di anak tangga terakhir, langkah kaki ini terhenti melihat ke arah pintu depan yang sedikit terbuka.

"Kenapa pintunya bisa terbuka begitu?" gumamku seraya berjalan perlahan dan sedikit mengendap-endap.

Kubiarkan lampu tetap dalam keadaaan mati. Hanya cahaya temaram dari lampu ruang dapur yang sedikit menerangi. Aku takut kalau ternyata ini adalah ulah pencuri. Mas Fatan tidak ada di sini, sedangkan Ayah sudah tua.

Jantungku semakin berdebar takut ketika langkah kaki semakin mendekati pintu. Dengan perlahan dan hati-hati, kepalaku melongok ke luar dari celah pintu.

Ibu? Sedang apa Ibu di luar sendirian?

"Ibu," panggilku yang langsung membuat Ibu terlonjak kaget.

"Marisa?" gumamnya masih dengan ekspresi kaget. "Kamu mengagetkan ibu saja," keluhnya seraya mematikan layar ponsel yang masih menyala.

"Ibu malam-malam begini kenapa di luar sendirian?"

"Fatan, Nak. Ibu khawatir takut terjadi apa-apa dengan dia. Sudah lewat tengah malam, tapi anak itu belum juga pulang," jelasnya dengan raut wajah penuh kekhawatiran.

"InsyaAllah Mas Fatan baik-baik saja, Bu. Mungkin sebentar lagi."

"Ibu sudah coba menghubunginya. Tapi Fatan enggak mau angkat telepon Ibu," kata Ibu gusar, "Enggak biasa-biasanya dia begini. Fatan begini itu hanya kalau ada masalah besar yang mengganggunya."

Aku terdiam. Merenung. Apa hanya karena berdebat denganku Mas Fatan jadi semarah ini? Rasanya tidak mungkin. Atau ... jangan-jangan Mas Fatan terkena masalah juga di tempat kerjanya seperti Ayah?

"Sa ...." Suara Ibu menyadarkanku yang sempat termenung sejenak, "apa kalian ada masalah? Kamu bertengkar lagi dengan Fatan?"

Aku mengeleng. "Enggak, Bu. Seperti biasa, kami hanya berdebat kecil, kok. Rasanya enggak mungkin Mas Fatan sampai semarah ini karena hal itu."

Ibu menghela napas berat seraya memandang kembali ke arah pintu gerbang.

"Bu ... sekarang lebih baik Ibu istirahat di kamar saja. Tidur. Nanti Ibu malah sakit."

"Ibu mau tunggu Fatan pulang dulu saja. Ibu khawatir," tolaknya.

"Bu ... Ibu jangan terlalu mengkhawatirkan Mas Fatan. Dia pasti baik-baik saja. Biar aku yang menunggu dia pulang."

Ibu masih terlihat ragu dan gelisah.

"Nanti aku coba telepon Mas Fatan, ya, Bu. Ibu tenang saja. Ayo!" ajakku seraya memapah Ibu kembali ke dalam rumah.

"Kamu telepon Fatan, ya. Suruh dia pulang sekarang juga," pinta Ibu ketika sudah di ambang pintu kamar.

"Iya, Bu. Ibu jangan khawatir. Ibu istirahat saja," jawabku sembari tersenyum. Berharap itu bisa sedikit menenangkannya.

Ibu mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar.

Aku kembali ke kamar untuk mengambil ponsel. Rentetan pesan masuk dan panggilan tak terjawab tak kuhiraukan. Secepatnya aku menghubungi nomor Mas Fatan dan rersambung.

Namun, benar kata Ibu. Mas Fatan tidak mau menjawab teleponnya. Meskipun, berulang kali aku sudah mencoba.

Ada apa sebenarnya? Kenapa masalah demi masalah justru semakin berdatangan menyapa keluarga kami?

Aku masih duduk gelisah di tepi ranjang. Saat hendak kembali mencoba menghubungi nomor Mas Fatan, ternyata dia sudah lebih dulu menghubungiku.

"Assalamu'alaikum, Mas."

"Wa'alaikumsalam."

"Mas Fatan ke manβ€”"

"Bukain gerbang, Sa," potongnya dengan cepat, "aku sudah di depan rumah."

"Iy-iya, Mas. Tunggu sebentar!" jawabku, lalu mematikan sambungan dan bergegas turun.

Benar saja. Mas Fatan sudah menunggu saat aku berjalan cepat mendekati gerbang. Dia masuk sembari mendorong motor dan memarkirkannya ke dalam garasi.

Setelah memastikan gerbang kembali terkunci rapi, aku mengekori Mas Fatan yang berjalan menuju dapur.

"Mas ...," panggilku, tapi dia terus berjalan tanpa menoleh, "Mas Fatan dari mana saja? Kenapa sudah lewat tengah malam begini baru pulang?"

Mas Fatan yang sedang meminum air dingin dari dalam kulkas hanya melirikku sekilas.

"Apa Mas tahu? Dari tadi Ibu terus mencemaskanmu, Mas. Ibu sampai enggak bisa tidur. Sebenarnya habis dari mana?"

"Ada urusan," jawabnya cuek. Dia melenggang pergi dari dapur menuju kamarnya di lantai atas.

"Urusan apa? Jangan berbuat yang aneh-aneh di luar sana, Mas! Kasihan Ibu dan Ayah." Perkataanku barusan berhasil membuat langkahnya terhenti di anak tangga tengah. Dia berbalik, lalu menatap dingin ke arahku.

"Apa kamu pikir aku sebejat pria idamanmu itu?" tanyanya penuh penekanan dengan mata melotot tajam.

"Maaf, Mas. Bukan begitu maksudku. Aku hanya ... aku hanya mengingatkanmu saja," jawabku pelan.

"Aku keluar bukan untuk keluyuran enggak jelas, apalagi bermain perempuan seperti si Indra itu!" tegasnya sembari merangsek maju dan turun kembali mendekatiku, "aku pergi keluar karena ada hal penting yang harus diurus!" desisnya masih dengan tatapan tajam seolah ingin menerkamku saat ini juga.

"Jangan melotot begitu, Mas," keluhku seraya mundur sedikit demi sedikit menjauhinya, "Mas Fatan menakutiku. Aku 'kan hanya mengingatkan. Enggak perlu Mas menatapku sedingin itu."

Mas Fatan berhenti melangkah. Tatapan tajam dan dinginnya berangsur menghilang dan berganti dengan tatapan sendu.

"Maaf, Sa," ucapnya, lalu berbalik dan kembali melangkah pergi. Meninggalkanku yang mematung di tempat.

"Mas!" seruku.

Mas Fatan kembali berbalik dan menatapku datar.

"Mau aku buatkan teh hangat?"

"Enggak usah. Aku mau istirahat saja. Capek," tolaknya  lalu masuk dan sosoknya hilang di balik pintu kamar yang di tutup.

Kuhela napas panjang, lalu kembali melangkah dan masuk ke dalam kamar.

🌺🌺🌺

Aku tengah membantu Ibu menata sarapan saat Mas Fatan dan Ayah muncul. Sampai saat ini, kakakku itu masih bersikap dingin. Dia sama sekali tak menatap atau pun mengajakku berbicara. Dia hanya bertegur sapa dengan Ayah dan Ibu.

"Kamu itu semalam dari mana saja, Tan? Ibu kamu sampai cemas enggak bisa tidur," tegur Ayah.

"Ada urusan yang harus diselesaikan, Yah. Maaf."

"Setidaknya, kamu itu harus kabari ibu dulu biar enggak cemas mikirin kamu. Kamu itu, ya, sukanya buat orangtua khawatir saja," oceh Ibu masih dengan nada kesal.

"Iya, Bu. Maaf. Aku janji enggak begitu lagi. Lain kali, aku akan mengabari Ibu dulu kalau pulang terlambat."

"Memangnya kamu itu ada urusan apa, toh?" tanya Ibu lagi.

"Urusan penting," jawabnya sambil sibuk mengetik sesuatu di ponsel.

"Iya, urusan penting apa?"

"Rahasia, Bu. Ini urusan pribadi," jawab Mas Fatan.

"Dengan orangtua, kok, main rahasia-rahasiaan," sahut Ibu ketus.

"Yaa kan aku juga butuh privasi, Bu. Enggak semua masalah bisa aku ceritakan pada Ibu dan Ayah."

"Sekarepmu sajalah," omel Ibu.

"Fatan ... kalau lagi bicara dengan ibumu itu, simpan dulu hapenya," tegur Ayah.

"Iya, Yah. Maaf." Mas Fatan langsung menyimpan kembali ponsel ke dalam saku celananya.

Suasana di meja makan kembali hening. Namun, tak lama kwmydian ponselku di atas meja bergetar. Ada beberapa pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Tadinya aku ingin mengabaikan, tapi rasa penasaran itu muncul ketika pesannya semakin banyak. Dengan memberanikan diri, aku bertekad membaca pesan tersebut.

Semoga saja bukan pesan ejekan dari teman-temanku. Bismillah.

Namun, napasku seketika tercekat. Tangan yang memegang hape jadi sedikit gemetar melihat isi pesan-pesan tersebut.

Banyak foto-foto Mas Indra yang tengah berpose mesra dengan beberapa wanita berbeda. Satu di antaranya bahkan tengah berpose dan tersenyum ke kamera dalam satu selimut.

Astaghfirullah ... Astaghfirullah ....

Rasanya dada dan kepalaku sama-sama panas karena gejolak amarah. Aku mengambil napas panjang dan mengembuskannya perlahan, kemudian menghapus dengan cepat semua foto-foto tersebut.

"Kenapa, Sa?"

Aku mendongak. Berusaha memasang senyum pada Ayah yang menatapku curiga. Mereka akan semakin membenci Mas Indra jika mengetahui tentang foto-foto ini.

"Enggak, Yah. Enggak apa-apa."

Setelah memikirkannya matang-matang, kuputuskan untuk mengirimkan balasan.

[Kamu ingin semakin menghancurkan nama Mas Indra dengan mengirimkan foto-foto ini kepadaku, huh? Sayangnya, itu enggak mempan!]

[Dasar pengecut! Beraninya hanya meneror melalui pesan. Temui aku kalau kamu punya nyali!]

Sent. Pesan itu tak lama langsung centang biru, tapi tak kunjung memberikan balasan.

[Kenapa enggak balas? Nyalimu ciut?]

Sent. Namun, kali ini pesan dariku hanya ceklis hitam satu.

Aku menggeram dalam hati. Siapa sebenarnya orang ini? Kenapa dia begitu ingin menghancurkan hubungan kami? Apa benar dia salah satu mantan dari Mas Indra yang tidak bisa move on?

"Mau ke mana, Sa?" tanya Ibu saat melihatku beranjak dari kursi.

"Mau ke kamar mandi sebentar, Bu," jawabku, lalu segera melangkah cepat dengan ponsel di tangan.

Setelah memastikan pintu kamar mandi terkunci, segera kuhubungi nomor misterius tadi.

Aku ingin memastikan, apakah benar dia seorang wanita? Kalau iya, berarti dugaanku bahwa yang meneror ini adalah mantan Mas Indra semakin menguat.

Namun, sayang sekali ... nomor itu sudah tidak aktif lagi saat kuhubungi.

Masih dengan rasa penasaran sekaligus kesal, aku kembali ke meja makan. Ibu dan Ayah sudah tidak ada di sana. Tinggal Mas Fatan yang terlihat masih sibuk dengan ponselnya. Aku tak lagi menegur atau menanyakan dia ada masalah apa.

Untuk apa? Toh ... nanti dia juga mengabaikanku. Biarkan saja seperti ini. Nanti juga akan baik sendiri kalau Mas Fatan sudah bosan membisu.

Aku merapikan meja, lalu membawa piring-piring kotor ke wastafel. Ketika tengah mencucinya, Mas Fatan mendekat, tapi aku pura-pura tak acuh.

"Sa," panggilnya.

Aku diam.

"Sa ... kamu dengar aku enggak, sih?"

Aku menoleh sekilas, lalu kembali membuang muka.

"Apa?" tanyaku datar.

"Aku minta maaf."

"Untuk?"

"Untuk semalam dan untuk sikapku akhir-akhir ini."

"Hm," jawabku singkat.

"Hm apa? Maafin atau enggak?" desaknya.

"Maafin," jawabku masih cuek.

"Maafin, kok, jawabnya masih cuek begitu," cicitnya.

"Terus, maunya gimana?" Aku mendelik kesal.

"Senyum, kek. Biasanya juga enggak pernah ketus begitu," sungutnya dengan wajah cemberut.

"Kan, Mas Fatan sendiri yang duluan diamin aku, marah-marah enggak jelas. Padahal, aku nanya sama Mas itu baik-baik."

"Iya, maaf. Aku janji enggak begitu lagi. Kita damai, ya?" pintanya dengan senyum berseri-seri.

"Iya. Tapi jangan marah-marah terus apalagi sampai teriak-teriak. Kupingku sakit."

"Iya, enggak akan begitu lagi, kecuali ...."

"Kecuali apa?" tanyaku dengan menyipitkan mata. Menatap penuh selidik kepadanya.

"Kecuali kalau itu ada kaitannya dengan si Begundal Indra," jawabnya sambil berlalu pergi.

"Mas!" seruku, tapi dia tak acuh. Malah menyempatkan diri berbalik dan mengejekku dengan menjulurkan lidahnya.


🍁🍁🍁