Part 5
"Apa ini?"

Aku terkejut melihat Mas Fatan mengangkat satu plastik berisi kotak bubur bekas dari dalam tempat sampah. Aku lupa menyuruh Mas Indra agar membuangnya di luar. Bagaimana ini?

Aku menelan ludah susah payah melihat Mas Fatan berjalan mendekat dengan tatapan tajamnya.

"Apa ini, Sa?" tanyanya dengan raut wajah dingin.

"Itu ... itu ...." Aku bingung harus menjawab apa. Otakku buntu untuk mencari sebuah alasan.

"Apa, Sa?!" sentaknya, "jangan bilang kalau si bajingan tengik itu tadi datang kemari menemuimu!"

"Ng-enggak, kok, Mas," jawabku pelan sembari menunduk takut.

"Jangan bohong kamu! Lalu ini apa? Siapa lagi kalau bukan dia yang membawakan bubur ini untukmu, Marisa?"

"I-iy-iya ... tapi bukan aku yang minta Mas Indra datang. Aku juga sudah mengusirnya, tapi dia enggak mau pergi."

"Kenapa kamu enggak teriakan saja si Indra itu maling? Biar dihajar lagi sekalian!" geramnya emosi.

"Mas!" tegurku tak sukq, "Mas Indra memang salah, tapi enggak harus pakai kekerasan juga membalasnya. Dia sudah minta maaf. Lagipula, bukan Mas Indra juga yang menyebarkan video itu."

"Kamu itu, ya, memang susah dikasih tahu! Sudah kelihatan busuk dan bejatnya si Indra, masih saja dibela. Makan, tuh, cinta!"

"Enggak usah teriak-teriak, sih, Mas," protesku tak terima. "Sakit kupingku dengar Mas marah-marah terus."

"Aku marah-marah juga ada alasannya, Sa! Kamu lupa, apa yang sudah dilakukan pria pecundang itu pada keluarga kita, huh? Kamu belum tahu, kan? Beritanya sudah tersebar di mana-mana, Sa! Di mana-mana!"

"Tapi itu 'kan, bukan salahku, Mas. Kenapa Mas jadi marah-marahnya sama aku?" debatku dengan kening berkerut dalam.

"Ya, karena kamu itu ngeyel! Kamu keras kepala! Dari awal aku sudah bilang supaya kamu jangan mau nikah sama dia. Tapi apa hasilnya? Kamu tetap bersikeras menerima lamarannya, kan?"

"Karena cuma Mas Indra yang mau menerima wanita dengan wajah cacat sepertiku, Mas," jawabku dengan suara lirih. Air mata sudah menganak sungai dan siap tumpah.

"Halah, itu hanya alasanmu saja!" tukasnya kesal, "masih banyak, kok, stok pria di luaran sana yang mau menerima kamu apa adanya. Kamunya saja yang kurang bisa bersabar dan enggak peka!"

"Sekarang kalau sudah seperti ini, siapa yang mau tanggung jawab, Sa? Bukan hanya kamu yang menanggung malu, tapi kita semua! Restoran Ayah juga pasti terkena imbasnya! Aku juga malu sama teman-teman kerja di kantor, Sa! Kamu mikir ke situ enggak, sih?"

Aku menggigit bibir bawah yang bergetar. Air mata pun sudah luruh berderaian membasahi pipi.

"M-maaf," lirihku terisak.

Aku kembali menangis tergugu dengan wajah tertunduk dalam. Rasanya setiap kata-kata yang keluar dari mulut Mas Fatan seperti sayatan-sayatan kecil yang menambah luka ini semakin perih.

Mas Fatan menarik kursi lebih dekat, lalu duduk kembali di samping brankar.

"Sa ...." Dia hendak meraih tangan ini, tapi aku menepisnya pelan. "Maaf. Aku enggak bermaksud marah-marah seperti itu. Aku terbawa emosi."

"Enggak, Mas. Benar apa yang Mas bilang tadi. Bukan Mas Indra yang salah, tapi aku. Akulah yang salah karena sudah menerima lamarannya. Aku salah karena sudah mencintainya. Aku sudah membuat kalian semua malu. Aku memang enggak berguna, Mas. Aku enggak berguna."

Aku menangis sesenggukan sembari menutupi wajah dengan kedua tangan.

"Sudah, Sa. Berhenti menangis," pintanya dengan nada khawatir, "maaf, deh, maaf. Aku enggak bermaksud menyalahkanmu, Sa. Aku hanya ingin mata dan pikiranmu lebih terbuka. Aku mungkin enggak begitu masalah dengan ini. Bisa bersikap seolah-olah buta dan tuli saat teman-teman kerja meledek. Tapi bagaimana dengan Ayah dan Ibu, Sa? Kasihan mereka."

Aku tidak menjawab sepatah kata pun perkataan Mas Fatan. Apa yang dikatakannya benar semua. Ibu dan Ayah ikut menanggung malu, tapi ....

"Maaf, Mas," ucapku lirih. "Aku ... aku memang bodoh."

"Ssstt, udah. Jangan nangis lagi," ujar Mas Fatan sembari menyodorkan selembar tisu, "yang penting sekarang kamu sadar. Indra itu enggak pantas untuk dipertahankan, Sa. Buang saja dia jauh-jauh."

"Tapi aku mencintainya, Mas," lirihku seraya menghapus cairan dari hidung.

"Cinta perlahan akan hilang seiring berjalannya waktu, Sa. Kamu pasti lama-lama bisa, kok, melupakan pria bajingan seperti dia."

Aku ingin berhenti menangis, tapi air mata ini tak mau berhenti menetes. Rasanya sakit, sangat sakit.

"Sa ... masih banyak pria baik di luaran sana yang mau jadi bagian dari hidupmu. Pria di dunia ini bukan hanya Indra saja."

"Tapi mereka semua enggak mau menikahi wanita cacat sepertiku, Mas," lirihku dengan isakan.

"Itu semua enggak benar, Sa. Kamu cantik, hatimu baik. Kamu hanya perlu bersabar," ucapnya lembut menenangkan.

"Mas bohong. Mas bilang begitu hanya untuk membesarkan hatiku. Buktinya, semua pria yang mendekat pada akhirnya memilih pergi. Begitu pun dengan pria-pria yang Ayah jodohkan. Mereka semua terang-terangan menolakku, Mas. Mereka mengejekku."

"Sa ...."

"Hanya Mas Indra, Mas. Hanya Mas Indra yang mau menerima kekurangan fisikku."

Terdengar helaan berat dari Mas Fatan. Dia mendorong kursi ke belakang, lalu beranjak bangun. Mengacak rambut gemas sambil berjalan menjauhiku dan kembali dengan tatapan yang sendu.

"Kamu itu susah dinasehatin, Sa. Harus bagaimana lagi aku membuka hati dan pikiranmu?" tanyanya frustasi, "Indra itu bukan pria yang baik, Sa. Bukan! Sebaiknya kamu ajukan pembatalan pernikahan mumpung semuanya belum terlambat, Sa."

"Aku akan memikirkannya, Mas," jawabku pelan.

"Apalagi, sih, yang harus dipikirkan?" tanyanya dengan raut wajah kesal, "tinggal siapkan berkas-berkas, terus bawa ke pengadilan. Semua catatan pernikahan akan dihapus, Sa. Dianggap enggak pernah ada. Statusmu akan kembali single, bukan janda," jelasnya panjang lebar dan terlihat bersemangat.

"Kenapa, Mas?" Aku menyipitkan mata memandangnya. "Kenapa Mas begitu bersemangat ingin pernikahanku berakhir?"

"Yaa, karena kamu adikku, Sa. Aku ingin melindungimu. Ingin yang terbaik untukmu, begitu juga dengan Ayah dan Ibu."

"Beri aku waktu, Mas. Aku ingin memikirkan semuanya dengan kepala dingin. Aku tidak ingin salah langkah."

Mas Fatan terdiam memandangku dengan rahangnya yang mengatup keras.

"Terserahlah. Aku capek," pungkasnya sambil beranjak bangun dari kursi dan pergi.

"Mas!" seruku, tapi Mas Fatan tak peduli, "tolong jangan bilang pada Ayah soal kedatangan Mas Indra ke sini, Mas! Mas!"

Tanpa menghiraukan permintaanku, Mas Fatan keluar ruangan. Aku menghela napas panjang. Kembali berbaring dan meringkuk menghadap dinding.

Aku lelah. Rasanya sangat sulit dan serba salah. Di satu sisi, aku ingin memberikan kesempatan pada Mas Indra jika memang benar dia sudah bertobat. Namun di sisi lain, aku juga tidak ingin mengecewakan keluarga terutama Ayah.

🌺🌺🌺

Pukul lima sore, Ibu dan Ayah kembali ke rumah sakit untuk menjemputku. Ibu tersenyum ramah seperti biasanya, tapi tidak dengan Ayah. Raut wajahnya terlihat gusar seperti menyimpan beban.

Apa mungkin Ayah marah karena sudah tahu Mas Indra datang menemuiku ke sini?

"Yah," panggilku seraya menyentuh punggung tangannya. "Apa Ayah lagi ada masalah?"

Ayah menoleh, lalu tersenyum tipis seraya mengusap kepalaku. "Enggak ada."

"Benarkah? Tapi Ayah kelihatan sedih," komentarku, lalu beralih menatap pada Ibu, "Bu, apa ada masalah di restoran?" tanyaku karena teringat ucapan Mas Fatan yang berkata kalau hal memalukan ini akan berimbas pada restoran kecil kami.

"Enggak ada, Nak." Ibu tersenyum, "sudah. Kamu jangan khawatirkan hal lain. Fokus saja dengan kesehatanmu. Dokter bilang kamu enggak boleh terlalu banyak memikirkan hal-hal berat. Restoran baik-baik saja, kok. Tenang saja. Benar 'kan, Yah?"

"Iya. Ibumu benar. Fokus saja dengan kesehatanmu," timpal Ayah sembari kembali mengusap kepalaku dengan lembut. "Ayo kita pulang!" ajak Ayah sambil berdiri dari tepi brankar, "semua administrasinya sudah diurus Fatan. Dia sedang menunggu kita di parkiran."

Aku mengangguk, lalu berjalan menuju parkiran dengan digandeng Ibu . Sementara, Ayah berjalan di belakang mengekori kami. Mas Fatan sudah berada di balik kemudi dan tengah mengetik sesuatu di ponsel saat kami semua masuk.

Dia tak mengatakan sepatah kata pun kepadaku. Melirik saja tidak. Biarlah. Mungkin Mas Fatan masih marah dan kesal karena perdebatan kami tadi.

"Kalian bertengkar lagi?"

Aku seketika menoleh saat mendengar pertanyaan Ibu yang duduk bersamaku di jok tengah.

"Siapa, Bu?"

"Kamu dan Fatan."

"Enggak, Bu. Kami baik-baik saja," kelitku.

"Syukurlah. Kakak dan adik itu harus saling menyayangi dan mendukung. Jangan sedikit-sedikit berantem. Ya 'kan, Yah?"

"Hm," jawab Ayah singkat sembari terus menatap lurus ke depan.

Sepanjang perjalanan, satu pun dari kami tak ada yang membuka pembicaraan. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, kami dikejutkan ponsel Mas Fatan yang berdering berkali-kali.

"Siapa, Tan?"


β˜…β˜…β˜…