Suamiku Tidak Ada di Kamar

"Tuh, kan, Yu. Kamu lihat sendiri tingkahnya bagaimana? Ngapain coba cemburu sama suami orang? Dia itu rada kurang [email protected] gara-gara rumah tangganya pernah hancur. Ibu gak mau kalau kehadirannya di sini akan memantik pertengkaran demi pertengkaran di antara kalian," papar Ibu, memandang sinis punggung Mbak Putri hingga menghilang. 

"Iya, Sayang. Kita cari yang lain saja, ya. Mas yang carikan besok. Kalau mau uang pinter masak, kita bayar chef yang handal saja," bujuk Mas Haris. 

Aku menggeleng pasti. 

Semakin mereka kukuh menghalangi agar aku tidak memakai jasa Mbak Putri, semakin bertambah rasa curiga ini. 

"Aku mau dia, Mas, Bu. Aku akan coba bujuk dia, ya. Kalau memang gak mau, ya sudah. Ayu juga gak bisa maksain," balasku yang membuat Ibu dan Mas Haris terseyum simpul. 

Aku yang sudah kenyang langsung mengangkat piringku ke belakang, lalu meninggalkan mereka bertiga yang masih menikmati masakan yang katanya tak enak itu. Berjalan menuju halaman depan karena tadi Mbak Putri berjalan ke sana. 

Dengan langkah pelan, aku celingukan mencarinya. Halaman rumah kami lumayan luas dan ada ayunan besi terpasang di dekat pohon cherry. Aku melihatnya ada di sana. Berjalan mendekati dan duduk di sampingnya yang sedang menangis sesenggukan. Seketika dia menoleh setelah sadar ada orang lain, lalu mengusap matanya dengan kasar. 

"Kalau Mbak punya masa lalu yang kelam, bukan berarti Mbak Putri gak boleh punya masa depan yang cerah," ujarku, tersenyum ramah. 

"Mbak, saya juga wanita, ikut merasakan penderitaan yang dialami sesama. Ketika suami mengkhianati, saya yakin rasanya pasti sakit. Tapi itu kan masa lalu. Saya akan membantu Mbak mendapatkan lelaki yang lebih baik," lanjutku, memandang ke arah pintu rumah yang terbuka. 

Mewanti-wanti kalau seumpama ada di antara mereka yang mengintip atau menguping pembicaraan kami. 

"Mbak tidak akan pernah tahu rasanya dikhianati karena suami Mbak Ayu  orang yang baik dan setia," balasnya, tersenyum getir. Seperti tidak ikhlas. 

Aku menggenggam tangannya seraya tersenyum. 

"Alhamdulillah. Mas Haris memang orang baik selama lima tahun kami berumah tangga. Jadi saya mohon, kerja lah dengan kami, Mbak. Saya jamin, kerjaan Mbak tidak akan terlalu berat karena saya tidak segan-segan membantu Mbak Putri. Lagian saya kesepian, belum punya anak. Saya butuh teman bercerita saat pulang kerja. Suami saya selalu sibuk kerja demi masa depan kami," paparku. 

Mbak Putri bergeming. Aku melepaskan tangannya, lalu menghela napas dalam. Kalau memang dia tak mau kerja di rumahku, mungkin harus cari cara lain untuk mengorek informasi. 

"Baiklah, Mbak, saya mau," ujarnya pasti. 

"Alhamdulillah, makasih, Mbak Putri," balasku antusias, lalu mengajaknya masuk. Kuberitahukan langsung berita ini pada suami dan mertua. Meskipun senyuman mereka tidak natural, Ibu dan Mas Haris tidak lagi menolak karena keputusan kali ini ada di tanganku. 

Kami masih banyak mengobrol hingga pukul sepuluh malam. Suamiku memberikan berbagai hadiah lagi yang ia bawa dari luar kota. Hadiah-hadiah  kecil yang membuatku tersenyum lagi, melupakan sejenak semrawutnya rumah tangga. 

*

Setelah menghabiskan malam yang hangat, aku dan Mas Haris terlelap. Meskipun aku curiga, semuanya belum terbukti dan bisa saja kalau aku hanya salah paham. Karena salah satu tugas setan adalah menghasut orang pacaran agar terlena dalam maksiat dan enggan menikah. Tapi dia juga menghasut pasangan yang telah menikah agar bercerai. Aku tidak mau pernikahan kami kandas hanya karena asumsi tanpa bukti. Tapi kalau benar suamiku nikah diam-diam, aku tidak akan kasih ampunan. 

Aku masih melayani suamiku tadi malam, seperti biasa saat dia pulang dari luar kota. Meminta jatah karena beberapa hari 'berpuasa'. Sebagai seorang istri, aku tidak ingin menolak suamiku untuk menyalurkan kebutuhan biologis. 

Aku menggeliat pelan dan memeriksa jam di ponselku. Pukul 3.15 dini hari. Lumayan dingin. Panggilan alam mau buang air kecil yang menuntunku untuk bangun. Aku mengernyit karena suamiku tidak ada di sampingku. Apa mungkin di kamar mandi juga? 

Aku mengerjap beberapa kali untuk menormalkan pandangan, lalu berjalan ke kamar mandi. Ternyata Mas Haris tidak ada di sana. Gegas kuselesaikan hajat dan bejalan keluar. Mungkin saja Mas Haris mengambil minuman ke dapur. 

Ruang tamu temaram, hanya mengandalkan cahaya dari dapur. Aku melihat kamar yang ditempati Mbak Putri menyala lampunya dan terdengar seperti suara bisik-bisik, tapi aku tidak bisa mendengar dengan jelas. 

"Mbak Putri belum tidur kah?" tanyaku. 

Hening. Bisik-bisik itu tak lagi terdengar. 

"Mbak!" panggilku sekali lagi. Aku tidak mau kalau dia memasukkan lelaki ke dalam kamarnya. 

Tak berapa lama, orang kupanggil menyembulkan wajah. 

"Maaf kalau suara saya mengganggu, Bu. Saya tadi nelepon sama saudara saya di kampung. Kangen, sudah 5 tahun tidak pernah pulang kampung," ujarnya dengan tampang bersalah. 

Dia sekarang memanggilku 'bu' karena disuruh Mas Haris setelah Mbak Putri ini resmi akan bekerja di rumah kami. 

"Oh, saya kira kamu gak nyaman tidur di kamar ini, Mbak. Kamar ini jarang dipakai juga karena ART kami selalu pulang sore, gak pernah nginap kalau tidak ada acara keluarga di sini. Apa ada fasilitas yang kurang?" tanyaku, berjalan masuk dan melihat sekitar. 

Tak mungkin aku langsung menanyakan dimana Mas Haris padanya. Tapi aku sedikit curiga karena sekarang suamiku tidak ada di kamar. Gak biasanya karena priaku itu jarang terbangun kalau sudah tidur. 

Dengan pura-pura menanyakan apa saja yang kurang nyaman, aku memeriksa lemari pakaian dan juga kamar mandi. Nihil. 

Berarti aku cuma salah sangka. Suamiku sepertinya tidak mungkin menyelinap ke sini. Namun pandanganku tertuju pada tirai jendela yang bergoyang ditembus angin. 

"Kenapa jendelanya terbuka, Mbak?" selidikku. Angin malam terasa menusuk tulang dan tidak ada siapa-siapa di luar sana. 

"Ehm, anu, ehm, saya kegerahan, Bu," jelasnya yang membuat rasa curigaku kembali muncul. 

Apa mungkin seseorang baru melompat dari sini? 


Curiga oh curiga🙈