Pembantu atau ....?

Wanita itu semakin mendekat, menelisik wajahku yang ditutupi masker dan kacamata hitam. Sengaja berpenampilan begini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Jika seumpama ada keributan, warga 62 suka kesempatan bikin konten tanpa persetujuan orangnya. Aku tidak mau kalau itu terjadi.


Aku juga melakukan hal yang sama, memandangi wanita paruh baya itu dari atas sampai bawah. Aku mengernyitkan kening, mencoba mengingat dimana kami pernah bertemu. Wajahnya seperti tidak asing. Tapi siapa? 


"Kamu siapa sebenarnya?" Wanita itu bersuara lagi. 


"Aku Ayu Sabila, istri sah Mas Haris," tantangku, membuka masker dan kacamata sekilas, lalu memasangnya kembali. 


Prang.


Aku menoleh cepat. Ternyata wanita muda dengan penampilan sederhana itu menjatuhkan gelas berisi air. Wajahnya pucat dan tangan bergetar. Kenapa malah dia yang terkejut mendengar pengakuanku? Aneh. 


Wanita di hadapanku langsung tersenyum hambar, lalu berlari menghampiri wanita itu. Menyeretnya ke belakang. 


Tak berapa lama, dia kembali dengan long dress warna kuning dan juga jilbab hitam. Sangat kontras dengan penampilannya saat pertama kulihat. 


"Ini Ibu mertua kamu loh, Ayu. Saking lamanya kita tak jumpa, kita jadi saling tak kenal," ujarnya ramah, memelukku dengan erat, lalu mengajak duduk di kursi jati. 


Aku menutup mulut dengan kedua tangan karena tidak mengenali mertuaku sendiri. Lima tahun tak berjumpa, beliau berubah banyak. Wajahnya yang sekarang terlihat kinclong dan dandanan ala gadis muda. Hanya kerutan tipis saja yang tidak bisa disembunyikan hingga aku langsung tahu kalau beliau tak muda lagi.


Setelah kuperhatikan dengan seksama, aku baru bisa memiripkan beliau dengan foto keluarga. Ini memang mertuaku dengan versi yang lebih wow. 


Ini benar-benar kejutan lagi. Setahuku, ibunya Mas Haris tinggal di pelosok desa dan tidak mau tinggal di kota saat kuajak setelah resepsi di rumahku. Aku juga tak pernah ke kampung suamiku karena katanya sulit akses ke sana. Sekarang kenapa bisa ada di sini? Jaraknya sangat dekat dengan rumahku. 


Wajar kalau Mas Haris tak pernah mau diajak pulang kampung karena ia bisa bertemu ibunya kapan saja di sini. Kenapa suamiku tak jujur dengan semua ini? Mertuaku juga tak pernah cerita kalau tinggal di sini sekarang saat kami bicara melalui sambungan telepon. 


"Nak Ayu, kok bengong sih, Nak?" 


"Eh, Ibu? Ma-af, aku masih terkejut," balasku. 


"Tuh, kan, Ibu juga yakin kalau kamu akan terkejut. Berarti kejutannya berhasil," kekehnya. 


Ya, kejutannya berhasil. Dan semuanya masih menyimpan banyak tanya di benakmu. Apakah ini memang kejutan atau kebohongan yang terbongkar dengan tidak sengaja. 


"Kenapa Ibu bisa di sini? Bukannya Ibu  ….?"


"Iya, Yu. Ibu dan Risti tinggal di kampung. Tapi tahun ini adik iparmu mau kuliah katanya di sini. Terpaksa Ibu ikutan tinggal di sini. Ibu takut melepas adik iparmu itu sendirian di kota tanpa siapa pun. Takut pergaulan bebas," jelasnya. 


Aku celingukan, mencari Risti, adik satu-satunya Mas Haris. Tidak ada, wanita tadi juga hilang entah kemana. 


"Lalu Risti kemana, Bu? Dan … bukannya Risti sudah tiga tahun tamat SMA? Apa masih masuk di pikirannya kuliah lagi, Bu?" tanyaku, masih tak habis pikir dengan semua ini. 


"Dia lagi keluar, nyari kampus yang bagus sama temen-temennya. Mau gimana lagi, Yu, Risti baru kepengin kuliah tahun ini. Dia terinspirasi dari kamu katanya, sudah cantik, baik, berpendidikan dan cekatan pula."


Aku tersenyum mendengar pujian Ibu. Benarkah begitu? Entahlah, yang jelas aku masih harus tetap menyelidiki ini. Meskipun katanya kejutan, ini tetap cacat logika. 


"Baguslah kalau begitu, Bu. Aku mendukung asalkan Risti belajar dengan baik. Oh iya, berati liontin ini untuk Ibu?" tanyaku, mengeluarkan kotak perhiasan yang menuntunku hingga sampai di sini. 


Wanita yang melahirkan suamiku itu membeliakkan mata. 


"Ya ampun, jadi kalungnya tertukar? Ini memang dibelikan Haris untuk Ibu, karena Ibu berulang tahun," ujar Ibu, lalu menukar kalung kami. 


Suamiku itu memang sangat perhatian pada Ibu dan adiknya. Aku tidak keberatan dan tak pernah cemburu asalkan tidak sampai menzalimiku sebagai istri. Aku tersenyum tipis saat mengingat sesuatu. Mertuaku memang bernama Paridah sehingga huruf 'P' tentu cocok dengannya. Tapi 'P' juga cocok dengan Putri, wanita yang pertama kulihat tadi.


"Jadi Ibu gak tahu kalau kalungnya tertukar? Berarti ini kejutan juga buat Ibu, ya," kekehku. 


Ibu nyengir, mengusap-usap dagunya. Sepertinya salah tingkah. 


"Ya tahu lah, Yu. Tadi Ibu cuma pura-pura. Ini memang disengaja agar kamu akhirnya sampai ke sini. Dan … berhasil."


Aku menganggukan kepala, tersenyum ramah pada mertuaku. Wanita tadi datang membawa  sebuah nampan berisi dua gelas teh manis dan piring kecil berisi kue kering. Dia menatanya di meja tanpa menoleh pada kami. Dia terus menundukkan kepala. 


Aku mengerutkan kening. Masib bisa kulihat jelas kalau mata wanita itu terlihat sembab, seperti baru menangis. 


"Siapa dia, Bu?"


"Oh, dia ini pembantu di rumah ini, Yu," jelas Ibu dengan enteng. 


Aku manggut-manggut, tapi wanita itu mendongak, menatap tajam mertuaku. Saling beradu pandang, lalu dia pergi ke dapur dan membanting sesuatu. 


Kenapa dia seolah tak rela disebut sebagai pembantu? Apa ART sekarang sensitif?