Jawaban Wanita Itu Mengagetkanku

"Tutup jendelanya, Mbak! Bahaya kalau ada orang masuk," titahku, lalu keluar dari kamar Mbak Putri. Berjalan menuju dapur dan minum air hangat. Tidak ada orang lain di sini. Lalu kemana perginya Mas Haris? 

Aku kembali ke kamar, tapi orang kucari telah berada di bawah selimut. 

"Mas, kamu dari mana? Aku cariin tadi gak kelihatan," ujarku, mengguncang bahu Mas Haris. Priaku tak merespon. Apakah dia mang sudah nyenyak sekali hingga tak merasakan tanganku. 

Aku menghela napas, ikut merebahkan tubuh di samping suamiku. Mencoba memejamkan mata meskipun teramat sulit karena pikiran berkelana kemana-mana. 

Keesokan harinya, aku bangun lebih awal karena harus mandi junub, lalu membangunkan Mas Haris. Kalau sudah pagi, suamiku termasuk mudah untuk bangun, sangat berbeda jika tengah malam. 

Tidur yang cukup akan membuatnya bangun dengan sendirinya. Tak jarang dia lah yang membangunkanku di pagi hari. Hal remeh yang menurutku romantis. 

Tapi itu dulu. Sekarang curiga membuat debaran jantung ini tak seindah dulu. 

"Kamu kok udah mandi? Kenapa gak bangunin Mas? Biar mandi bareng," bisik suamiku dengan nada genit dan senyuman yang nakal. 

Aku hanya menanggapi dengan tersenyum, lalu pergi ke ruang tamu. 

Aku melihat Mbak Putri sudah mengepel ruang tamu. Sepagi ini? 

"Mbak Putri sudah mulai kerja?" tanyaku, memperhatikannya dari ujung kaki sampai rambutnya yang belum kering dan tergerai. Biasanya dia memakai jilbab sorong meskipun di rumah. 

"Eh, Bu Ayu. Sudah, Bu," balasnya kikuk. 

"Kamu keramas?"

"Ehm, anu, saya basah rambut karena semalam sangat gerah," jelasnya. 

"Iya, gak ada larangan seorang janda keramas pagi-pagi kok. Tapi di rumah ini ada suami saya. Sebentar lagi dia keluar, Mbak. Saya gak mau kalau suami saya melihat aurat wanita lain yang bukan mahram," paparku.

Ia meminta maaf, lalu ke kamar dan keluar lagi sudah mengenakan jilbab. 

Hatiku mencelos, merasa semakin curiga kalau .... 

Ah, hatiku tak mampu untuk meneruskannya. Terlalu sakit karena aku teramat mencintai suamiku selama ini. Sikapnya yang selalu manis, nyaris tanpa cela. 

*

Pukul delapan pagi, aku baru melihat batang hidung mertua yang sangat kuhormati. Ia keluar kamar mengenakan daster sebetis dengan lengan pendek. 

Dimana mertuaku yang katanya sangat rajin? Beliau bangun saja setelah putranya berangkat ke kantor. 

"Semangat pagi, Bu!" sapaku. 

"Pagi menantuku. Maaf, ya, Ibu baru bangun. Karena gak biasa tidur di sini, Ibu jadi susah boboknya."

Mertuaku bersuara dengan nada serak manja. Risti pun keluar dari kamar, masih menguap dan langsung ke meja makan. 

Astaga. Ada apa ini? Inikah wajah sebenarnya d nmari keluarga suamiku? Jorok banget. 

"Cuci muka sama gosok gigi dulu, Risti. Kalau enggak, mandi dulu sekalian. Mbak mau ngajak kamu dan Ibu ke mall," ujarku. 

"Apa, Mbak? Ke mall? Shoping dong. Yes!" seru Risti, langsung bersemangat ke kamar mandi, begitu pun dengan mertuaku. 

"Mbak mau ikut, gak?" tanyaku pada Mbak Putri yang sejak tadi mematung di dekat meja makan. 

"Gak usah, Bu. Saya di rumah saja. Gak terbiasa ke mall."

"Oh, ya sudah kalau begitu," tandasku. 

Ini memang yang kuinginkan. Dia tak usah ikut dan aku harus mengungsikan ipar dan mertua sementara agar bisa mencari informasi dari Mbak Putri. 

Kurang lebih sejam, bersiap-siap dan sarapan, aku mengantar Ibu dan Risti ke sebuah mall. Mereka tidak takut atau takjub, seperti sudah terbiasa ke tempat seperti ini. Padahal mereka mengaku kalau selama ini menetap di kampung dan baru sebulan ini ditinggal di kelurahan Martoli, yang tidak jauh dari sini. Kenapa gelagat mereka mencurigakan? 

"Ibu sama Risti boleh belanja apa saja, nanti aku yang bayar. Tas Ibu sama Risti ditinggal sini saja, biar bisa bebas milih-milih. Kebetulan aku ada janji juga sama teman, mau ketemu disini," paparku. 

"Duh, Mbak memang pengertian banget, deh," ujar Risti, mengambil ponsel dan meninggalkan tasnya padaku. Ibu mertuaku juga setuju. 

Langkah awal berhasil. 

Setelah memastikan mereka sudah jauh dan tidak menoleh ke belakang lagi, aku kembali ke parkiran, lalu melajukan kenderaan roda empatku ke rumah. Kalau tidak ada hubungan apa-apa antara ART itu dengan suamiku, aku akan kembali ke mall ini dan membayar semua belanjaan mereka. Namun jika mereka telah mengkhianataiku, jangan harap akan menikmati uangku lagi. 

"Kenapa pulang, Bu?"

Mbak Putri yang sedang menyapu halaman kelihatan kaget melihatku kembali. 

"Saya ingin bicara serius dengan kamu. Ayo!" ajakku, menarik pergelangan tangan kurusnya masuk ke dalam rumah. Sapu lidi yang ia pegang terjatuh, lalu mengikuti dengan langkah cepat. 

"A-ada apa, Bu?" tanyanya dengan wajah takut. 

"Saya sudah tahu semuanya tentang hubungan kamu dengan Mas Haris. Sekarang kamu jujur saja, akui dengan jelas apa hubungan kalian," ujarku dengan tegas. Aku sengaja bersikap seolah sudah tahu, meskipun aku belum punya bukti. Mana tahu dia akan jujur karena merasa percuma bohong jika sudah terbongkar. 

"Sa-saya ...."

"Saya apa? Kamu selingkuhan suami saya kan? Menikah diam-diam, menjebak suami saya dan akhirnya tak disukai Ibu sama Risti. Ngaku kamu, Mbak!" bentakku. 

Wanita berdaster itu menitikkan air mata, tapi belum juga mau bersuara membuatku semakin merasa kalau dugaanku benar. 

Ia menghela napas, lalu menatap ke arah lain. 

"Aku bukan selingkuhan Mas Haris, Bu Ayu. Aku ini istri pertamanya dan Bu Ayu lah yang selingkuhan, lalu jadi istri kedua."

Seketika bahuku yang tadi terangkat langsung terkulai lemas. Apa benar aku lah yang kedua?