Selalu Penuh Kejutan

"Dia memang begitu, Yu. Jangan dipikirin. Dia itu janda ditinggal suaminya menikah dengan gadis lain. Jadi dia suka baper kalau lihat wanita cantik kayak kamu yang bahagia dan punya keluarga baik," jelas Ibu tanpa kuminta. 

"Oh," balasku singkat dan pura-pura percaya saja. Aku jadi punya ide untuk mengorek informasi lebih dalam. Aku mencintai suamiku dan menyayangi keluarganya. Daripada hatiku tidak tenang karena curiga, lebih baik diusut sampai tuntas. 

"Wih, ada mobil bagus. Bu, ini mobilnya Mas Haris, ya?"

Ibu langsung bergegas keluar, berbisik-bisik sebentar lalu masuk. Sepertinya itu adik iparku. Aku bisa melihatnya karena bagian depan rumah ini menggunakan jendela kaca berwarna hitam yang bisa membuatku melihat jelas ke luar. 

"Mbak Ayu, apa kabar? Masih ingat aku, kan?" sapa gadis berambut ikal dan bertubuh langsing itu. Ia mencium punggung tanganku, lalu duduk di sebelah Ibu. 

"Masih ingat, dong. Kamu Risti, kan? Terakhir ketemu kamu masih abege, sekarang sudah mulai terlihat dewasa," balasku, tersenyum ramah. 

Kami pun bicara banyak hal karena adik iparku ini ternyata sangat up to date tentang kejadian-kejadian viral. Dia juga terlihat kekinian, padahal kata Mas Haris, di kampungnya masih jarang yang pake internet. Termasuk adik iparku sehingga kami tidak pernah melakukan panggilan video selama ini. 

Semakin mencurigakan. Sepertinya mereka bukan baru pindah, melainkan sudah tinggal di sini sejak lama. Ah, bodohnya aku terlalu percaya. 

Ibu tersenyum bangga saat aku memuji Risti yang enak diajak ngobrol. Beliau pamit mau ke belakang dan kesempatanku melakukan tes kejujuran. 

"Kamu kuliah mau ngambil jurusan apa, Ti?" tanyaku. 

"Kuliah?"

Gadis yang lebih putih dari terakhir kami bertemu itu tersenyum bingung, menggaruk-garuk kepalanya dengan pelan. 

"Kata Ibu, tahun ini kamu mau masuk kuliah. Udah dapat universitas yang cocok?" 

"Oh, em, belum, Mbak. Iya, Risti memang mau kuliah, tapi bingung mau ambil jurusan apa. Enaknya ngambil jurusan apa, ya, Mbak?" Dia balik bertanya. 

Pintar juga adik iparku ini mengelak dari pertanyaanku yang sempat membingungkannya. 

"Semua jurusan itu bagus, Dek. Kenali dulu bakat dan kesukaanmu di bidang apa, lalu itulah yang harus kamu pilih. Jangan ikut-ikutan biar terlihat keren. Soalnya kuliah itu juga gak gratis, Ti. Maka harus diperhitungkan dengan matang-matang," jelasku.

"I-ya, Mbak. Nanti aku pikirkan lagi deh," balasnya sambil nyengir. 

"Oh iya, gimana kalau Ibu sama Risti ikut ke rumah Mbak? Besok sore, Mas Haris akan pulang dari luar kota. Dia pasti akan terkejut. Masmu itu sayang banget sama Mbak, selalu bikin kejutan. Salah satunya ini, pura-pura kasih hadiah yang tertukar, eh rupanya biar bisa ketemu sama kalian di sini," ujarku. 

Risti langsung antusias, setuju dengan usulku. Ibu mertua entah kemana. Sejak tadi belum muncul, begitu pun dengan perempuan bernama Putri yang menurut penuturan mertuaku adalah pembantu. 

"Ibu kemana sih? Aku cari Ibu dulu, ya, Mbak," pamitnya. 

Aku mengangguk. Risti pergi ke belakang dan aku pun langsung keluar, melihat sekitar mana tahu ada tetangga yang lewat. 

Sunyi, jam segini tidak ada orang yang lewat. Sekalinya ada, cuma sepasang kakek-nenek. Kalau aku bertanya pada mereka, takutnya gak nyambung. 

Akhirnya penantianku tak sia-sia. Seorang ibu-ibu berjalan menenteng keranjang belanja. Aku menyongsongnya, berniat menanyakan tentang Putri yang sepertinya masih muda. Mungkin seumuran denganku. 

"Permisi, Bu, kenal dengan Mbak Putri, pembantu di rumah itu?" tanyaku to the point sambil celingukan, mengantisipasi kalau ipar atau mertuaku datang. 

"Pembantu?"

Dia terlihat kebingungan. Matahari cukup terik hingga peluh membasahi dahinya. 

"Adek ini siapa rupanya?"

Dia balik bertanya. Aku bingung mau jawab apa. Kalau kukatakan dengan jujur bahwa aku adalah istrinya Mas Haris, bisa saja Ibu ini tidak jujur. 

"Maaf, ya, Dek, Ibu mau jalan lagi. Sudah ditungguin karena mau ada acara di rumah," ujarnya, lalu berjalan buru-buru. 

"Mbak Ayu!" panggil Risti. Aku langsung memutar badan, bergegas masuk ke dalam rumah. 

Apa mungkin ibu tadi melihat Ayu berdiri di dekat jendela samping? 

"Jadi gimana, Risti? Ibu stuju, kan?" tanyaku  memulai obrolan. 

"Ibu setuju," timpal mertuaku, muncul dari dapur. Aku menghela napas. 

"Alhamdulillah. Ibu sama Risti siap-siap saja. Sekalian Mbak Putri disuruh ikut," ujarku. 

"Apa?"

Ipar dan mertuaku kompak bertanya. 

"Asisten rumah tanggaku selalu pulang setelah kerjaannya selesai, Bu. Paling lama sore, semuanya sudah beres. Dan dia sudah izin tidak masuk besok. Kita butuh tenaga Mbak Putri, Bu. Atau ... Ibu sama Risti mau bantu aku masak dan beberes buat menyambut Mas Haris?"

Ibu terdiam, sepertinya memikirkan baik buruknya keputusan yang dia ambil. 

"Mau sih, Yu. Tapi ya sudah lah, dia ikut saja," pungkas Ibu. 

Aku tersenyum tipis. 

"Tapi aku ada keperluan penting loh, Bu. Ibu berangkat naik angkutan umum saja, gak kenapa-napa kan?" ujarku. 

Aku membuka dompet dan mengeluarkan lima lembar uang nominal lima puluh ribuan sebagai ongkos. 

"Ibu saja yang belakangan sama Mbak Putri. Kalau aku langsung ikut, ya, Mbak," rengek Risti yang langsung kuiyakan. 

Sepanjang jalan, adik iparku itu terus saja memainkan ponselnya. Mulai dari selfie hingga menayangkan video secara langsung. Aku menghela napas kasar melihat merek iphone Risti yang harganya 20 jutaan. 

*

Menjelang malam, mertuaku dan Putri sudah datang. Wanita bernama Putri itu begitu pendiam dan tak pernah mau beradu pandang denganku. Namun semua pekerjaan yang diperintahkan Ibu dan Risti selalu ia kerjakan dengan baik. 

Semua yang kami lakukan di rumah ini tak luput dari bahan konten adik iparku. Seperti sekarang, kami sedang memasak ayam bakar teflon.

Tiba-tiba bel rumah berbunyi. Aku menduga kalau itu adalah Mas Haris. Dia sering begitu, kalau ponselnya gak aktif dalam jangka waktu lumayan lama, itu tandanya mau pulang lebih awal. 

"Mbak Putri, tolong buka pintu, ya," pintaku dengan sopan. Ia tak menjawab dan langsung berdiri. 

Lima menit, sepuluh menit, dia belum juga kembali ke dapur. 

"Aku ke depan sebentar, ya, Bu," pintaku, lalu mematikan kompor karena ayamnya memang sudah matang sempurna. 

Dengan langkah pelan, aku mendekati pintu yang terbuka setengah. 

"Mas, apa yang kamu lakukan?" ujarku dengan suara meninggi. 

Imamku yang selalu penuh kejutan itu gelagapan dan langsung menghampiriku. 


Kira-kira ada apa, ya? 🥰🥰🥰