Kisah Hidup Putri yang Tragis

Putri Wahyuni, itulah nama yang diberikan oleh orang tuaku. Aku memang tidak putih, tapi kulitku hitam manis dan bersih. 

Sebagai gadis remaja di kampung, aku bukanlah kembang desa. Banyak gadis yang lebih cantik di desa ini. 

Aku adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Selalu dimanjakan Bapak hingga membuat kedua kakak perempuanku iri. Mereka telah menikah dan menetap di kota setelah meminta bagian warisan, sementara Bapak masih hidup. 

Bapak murka, membagi hartanya dan menyisakan untukku lebih banyak karena belum menikah. Satu kekhawatiran Bapak adalah siapa yang akan merawatku nanti. Sedangkan kedua saudaraku tidak ada yang peduli. Bapak berniat mencarikan jodoh untukku karena usianya yang tak lagi muda. 

Iming-iming harta pun menggiurkan bagi pemuda desa sehingga banyak berdatangan melamarku. Sayangnya aku tak menaruh hati pada siapa pun di antara mereka. Terlanjur hatiku terpaut pada seorang pemuda tampan dari desa lain. Tapi aku sangsi apakah dia menaruh hati padaku juga. Kami pernah bertemu secara tak sengaja di sebuah pesta. Senyumnya membuatku terpana. 

Seperti gayung bersambut, seminggu kemudian, pemuda itu akhirnya datang melamarku bersama Ibu dan adiknya. Pemuda itu adalah Mas Haris Santoso. Tanpa berpikir, aku langsung setuju. 

Pernikahan kami pun digelar sangat meriah, membuat banyak orang merasa iri karena Mas Haris primDona para gadis. Tak sedikit pula yang mengolok kalau suamiku hanya memandang harta bukan karena cinta. 

Aku tak menggubris semuanya. Yang penting aku mencintainya dan pernikahan ini lancar. Namun seiring berjalannya waktu, kedok dari suami dan mertuaku mulai terbongkar, apalagi Bapak, satu-satunya orang tua yang tersisa telah meninggal dunia. Hanya Mas Haris dan keluarganya lah tempatku bernaung. 

Semuanya semakin rumit setelah aku menyetujui usul Mas Haris untuk menjual semua harta warisan, lalu tinggal di kota agar bisa memulai kehidupan baru. 

Tanpa curiga, aku yang telah menjadi budak cinta suamiku langsung setuju. Mertua dan adik iparku semakin boros, sementara Mas Haris harus kuliah dan kami tidak ada pemasukan. Ditambah lagi aku tidak pernah bekerja sehingga bingung mau mencari uang. 

"Sekarang, aku bekerja di perusahaan besar. Gajinya lumayan, Bu," ujar Mas Haris suatu waktu setelah dia mendapatkan gelarnya. 

"Alhamdulillah, Mas. Semoga karirmu terus meningkat, ya," ujarku dengan tulus. 

"Apaan sih kamu? Anak saya baru pulang melamar kerja, kamu malah main nyosor saja. Sana, ambilkan minum!" bentak mertuaku, mendorong tubuh ini dengan kasar. 

Tidak ada ungkapan terima kasih mereka, padahal semua harta peninggalan orang tua telah habis untuk biaya hidup kami dan kuliah Mas Haris. Sekarang aku dicampakkan bagaikan sampah. Mereka mulai mengungkit kalau aku tak selevel dengan Mas Haris yang terlihat tetap muda, sedangkan aku? 

Ah, aku memang lebih pantas disebut kakaknya suamiku. Aku tidak pernah perawatan wajah dan badan karena menghemat uang. Sekarang aku seolah menjadi aib. Ditambah lagi diriku yang tidak berpendidikan karena menurut Bapak, anak gadis itu itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi. Cukup bisa baca tulis dan hitung saja, setelah menikah hanya akan mengurus rumah. 

Sungguh teori yang menyesatkan dan membuatku kesulitan sekarang. Kini aku diremehkan dan aku tidak bisa bekerja di luar. 

Aku tetap melayani keluarga ini meskipun hati sakit. Aku akan kemana kalau meninggalkan semua penderitaan ini? Tak ada yang tersisa di kampung. Sementara aku sudah lama hilang kontak dengan kedua kakakku karena ponselku telah rusak. 

*

"Aku akan kerja di kota besar, jadi akan ngekos di sana. Kamu di sini sama Ibu dan Risti," titah Mas Haris. Aku telah menyiapakan koperku karena mengira aku akan tinggal bersamanya. 

"Kenapa, Mas? Aku ikut saja, ya! Sudah lama kita berjauhan," rengek ku. 

"Tidak usah. Aku baru mulai kerja, belum punya banyak uang mengsjak kalian ke sana. Kamu juga bisa linglung di sana. Di kota kecil saja kamu tidak bisa menyesuaikan diri, apalagi di kota besar. Kamu mau mempermalukan aku?" bentaknya. 

Aku menggeleng sambil berurai air mata. 

Beberapa tahun kemudian, aku dihadapkan pada kenyataan yang lebih pahit. Ternyata selama ini, Mas Haris tidak pernah mengurus surat nikah kami. Pernikahan kami hanya sah di mata agama, tapi tidak tercatat dalam negara. Dia pun telah menikah tanpa sepengetahuanku secara hukum dan agama dengan anak pemilik perusahaan tempat ia bekerja. 

Duniaku runtuh. Tidak ada lagi yang harus kupertahankan dalam hubungan ini. Dia selalu di rumah istri barunya. Aku tak tahu apakah aku masih istri atau tidak karena selama ini aku tidak pernah lagi mendapatkan nafkah batin. Nafkah lahir cuma sekedar makan di rumah ini, itu pun setalah mengerjakan semua pekerjaan layaknya pembantu. 

"Tidak bisa. Awas saja kalau sampai kamu kabur, saya tak akan segan-segan menyuruh orang membunuhmu!" ancam mertuaku setiap aku mengutarakan ingin keluar dari rumah neraka ini. 
Seketika bulu kudukku merinding. Aku tidak mau mati sia-sia. Rasa dendam kepada keluarga ini mulai menggunung di hatiku. 


Kasihan sekali ternyata nasib Putri😭😭😭