'P' untuk Paridah atau Putri?

INISIAL KALUNG YANG TERTUKAR


[Maaf, ya, Sayang. Mas masih di luar kota. Kadonya duluan, kejutan lainnya menyusul setelah Mas pulang] tulis suamiku beberapa jam yang lalu dan aku baru sempat melihatnya. Rasa capek setelah pulang dari butik hilang begitu saja. Aku pulang untuk makan siang, tapi ternyata kejutan sudah menanti. 


Aku tersenyum bahagia membaca pesan lainnya yang puitis dari Mas Haris, suamiku tercinta. Aku beralih ke sebuah kado kecil tergeletak di atas nakas. Asisten rumah tanggaku yang menerimanya tadi, diantar seorang kurir. 


Pria yang menikahiku lima tahun lalu itu memang sangat romantis dan selalu punya cara membahagiakanku. Dia sudah berangkat ke luar kota sejak tiga hari yang lalu dan akan pulang besok hari, tapi dia masih menyempatkan mengirimkan kado. Padahal dia bisa saja memberikannya langsung besok malam dan aku tentu memaklumi. Dia pergi untuk urusan bisnis perusahaan orang tuaku. Setelah menikah, Mas Haris lah yang mengurus perusahaan dan dia memang handal memajukan usaha keluargaku itu. Tak salah kalau Papa sangat mempercayainya sejak masih berstatus karyawan hingga kini menjadi menantu.


Meskipun kami belum dikaruniai keturunan, sikap Mas Haris tak pernah membuatku ragu akan ketulusan cintanya. Dia tak pernah menuntutku agar memiliki anak, meskipun aku tahu kalau dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya. Ibu dan adik perempuannya yang tinggal di kampung pun tak pernah menuntut, selalu ramah padaku saat bicara dengan sambungan telepon.


Aku sungguh beruntung memiliki Mas Haris. Kebahagian itu memang bermacam-macam dan aku mendapatkan bagian suami yang setia dan romantis. Dia selalu ingat setiap tanggal spesial dalam hubungan kami, meskipun aku terkadang lupa. Termasuk hari ini, hari jadi pernikahan kami yang ke-5. 


Aku membuka kotak kecil berwarna merah yang dari luarnya saja sudah tahu kalau isinya perhiasan. Benar saja, sebuah kalung emas yang menjadi kado suamiku kali ini. Namun aku mengernyitkan kening melihat kalung itu menggunakan hiasan huruf 'P'. Sedangkan namaku Ayu Sabila, tidak ada satupun huruf p. Lalu kenapa suamiku memakai huruf ini? 


Apa jangan-jangan tertukar saat di toko perhiasan? Kalau itu benar, bisa saja menimbulkan kesalahpahaman bagi istri yang mendapat kalungku itu. Bisa saja istrinya mengira kalau sang suami mendua. Kalau aku sih, tidak mungkin curiga karena suamiku orang yang setia. 


Aku berniat menelpon Mas Haris, tapi ponselnya tidak aktif. Baiklah, biar aku saja yang mengurusnya. Dari surat perhiasannya, aku tahu ini dibeli dari toko emas langganan kami. 


Segera kuganti baju dan berangkat menggunakan mobil warna hitamku menuju 'Toko Mas Melati'. Toko itu memang melayani pembelian lewat daring dan mengantarnya dengan kurir khusus yang amanah. 


"Eh, Bu Ayu. Mau beli perhiasan lagi? Kan sudah di beli Pak Haris," sambut Koh Aceng, sang pemilik toko. 


"Perhiasan yang dipesan Mas Haris di sini sepertinya tertukar, Koh. Gak mungkin juga kalau suami saya kasih kalung  dengan inisial yang bukan namaku," jelasku, memperlihatkan isi kotak berwarna merah itu. 


"Astaga, ini pasti kesalahan karyawan saya, Bu. Pak Haris memang memesan dua buah kalung yang sama persis, hanya inisialnya yang beda. Pasti tertukar saat mengantarnya," papar pria bermata sipit itu. 


Mas Haris memesan dua kalung? Untuk siapa? 


"Kami akan mengurusnya segera dan mengantar punya Ibu setelah mengambil barangnya dari alamat yang satu lagi," lanjutnya. 


"Kasih alamatnya saja, Koh, biar saya yang ambil sendiri," balasku dengan suara bergetar. 


Koh Aceng memberikan alamat pengiriman perhiasan yang dipesan suamiku dan mengucapkan maaf sekali lagi. 


Aku memaksakan tersenyum padanya, lalu melangkah dengan gontai. Kalungnya memang tertukar, tapi bukan dengan pelanggan lain. Pesanan suamiku lah yang tak sengaja tertukar, seolah kekeliruan karyawannya ingin memberitahu dusta yang disimpan suamiku. Tapi ada apa sebenarnya? 


Pada siapa lagi suamiku memberikan kalung dengan model yang sama selain untukku? Apa jangan-jangan untuk istrinya yang lain? 


Astaghfirullah, aku tidak boleh berprasangka buruk. Perilakunya tidak pernah mencurigakan. Ponsel Mas Haris juga tidak pernah dikunci dan aku bebas mengaksesnya tanpa harus permisi. Sikapnya yang manis juga tidak menunjukkan tanda-tanda sedang menyimpan bau-bau yang tidak beres. 


Aku menghela napas panjang, tidak ingin menyimpulkan apa-apa. Dengan menyeret langkah, aku membeli minuman, menetralkan detak jantung yang berdegup tak karuan. 


Kelurahan Martoli, berjarak sekitar satu jam dari sini. Aku akan ke sana, mencari kejelasan atas kejutan tak terduga ini. Mas Haris benar-benar telah berhasil membuatku terkejut dengan fakta ini. 


Aku memacu kenderaan roda empat bermesin ini dengan kecepatan sedang, mengutamakan keselamatan meskipun hatiku ingin segera sampai di sana. 


Setelah bertanya pada beberapa orang sesuai alamat lengkap, aku sampai di halaman sebuah rumah permanen bercat putih. Pintunya sedang terbuka setengah. Aku mengetuk pintu dan mengucapkan salam, tapi tidak ada yang menjawab. 


Meskipun tidak sopan, aku tetap melangkah masuk, memandangi dinding ruang tamu. Mana tahu aku bisa menemukan foto pernikahan suamiku dengan wanita yang menghuni rumah ini. Namun aku harus menelan kekecewaan lagi karena tembok rumah ini hanya dihiasi beberapa bunga yang dibuat menggunakan kain flanel. Sepertinya pemilik rumah ini tidak suka memajang foto di rumahnya. 


Seorang wanita yang sepertinya seumuran denganku datang dari dapur, menenteng sebuah ember hitam berisi pakaian. Penampilannya sangat sederhana. 


"Saya Putri, Mbak. Mbak ini siapa, ya? Mau cari siapa?" tanyanya dengan raut kebingungan. 


Aku membeliakkan mata. Putri? Pasti kalung ini untuknya. Apa dia selingkuhan atau istri suamiku? Tapi penampilannya tidak mencerminkan sebagai pemilik rumah ini. 


"Halo, mau cari siapa, ya? Kenapa main masuk saja ke rumah saya?"


Suara ketus seorang wanita mengagetkanku dari luar. Aku membalikkan badan dan pandanganku langsung tertuju pada kalung yang sama dengan yang ada di tasku. Inisial 'A', itu harusnya milikku. 


Wanita paruh baya dengan rambut berwarna pirang dan bibir merah menyala itu maju, memandangiku dari atas sampai bawah. 


"Apakah kalung itu hadiah dari Mas Haris?" tanyaku dengan suara bergetar. Menunjuk kalung yang menjuntai di lehernya. 


"Iya, emangnya kenapa?" tanyanya ketus. Seketika persendianku terasa lemas. Bayangan senyuman Mas Haris membuatku semakin sesak. Apa sebenarnya hubungan suamiku dengan dia wanita ini?



Tinggalkan jejak, ya,

Jangan lupa subscribe🥰🥰🥰