Cemburu?

"Kamu ngapain pegang-pegang tangan Mbak Putri, Mas?" cecarku dengan kesal. 

Wajah pria yang kucintai itu masih belum bisa menyembunyikan rasa terkejutnya. Ya pastilah, dia heran kenapa aku bisa mengenal perempuan berbadan kurus itu

"Eng-ngak kok, Dek. Mas cuma heran kenapa dia ada di sini," kilahnya, tapi wajah tampan itu memucat. 

"Mas Haris sudah pulang? Gaes, ini loh masku yang paling ganteng baru pulang kerja. Serasi banget sama kakak iparku, kan?"

Risti terus saja ngevlog, mengarahkan kamera ke arah kami. 

"Kejutan …! Selamat hari jadi pernikahan kalian yang kelima, ya, Nak! Istri kamu yang ngajak kami ke sini. Pasti heran kan kalau pembantu baru Ibu ikutan ke sini? Istrimu juga yang minta dia buat bantu-bantu di sini," ujar Ibu. Mertuaku itu pun beralih memandang Risti dengan tajam

"Matikan hapemu, Risti!" tegas Ibu, merampas ponsel milik putrinya dan memasukkannya ke saku celana. Beliau kemudian menarik tanganku dan putranya, mengajak duduk di sofa. 

"Ini kado buat kalian berdua. Terima kasih telah memberikan liontin ini untuk kado ulang tahun Ibu. Kalian berdua memang anak dan menanty yang berbakti. Semoga hubungan kalian tetap harmonis seperti ini," ujar Ibu, memberikan sebuah kado yang beliau sembunyikan tadi di bawah meja. 

Kalau tidak mengingat kejanggalan-kejanggalan sejak tadi siang, mungkin aku akan merasa jadi wanita paling beruntung di dunia ini. Suami yang setia, baik, pengertian dan penuh kejutan. Keuangan kami juga tak pernah bermasalah, ditambah lagi mertua dan adik ipar yang ramah. 

Tinggal anak saja yang membuat kami kurang sempurna. Namun, sekarang aku merasa hambar, terlalu banyak teka-teki yang mencurigakan dan aku baru tahu sekarang. Tak ingin kecewa terlalu dalam, aku memilih ingin menyelidiki kecurigaan ku sampai tuntas. 

Aku akhirnya tersenyum, lalu memeluk mertuaku yang tetap modis meskipun pakaiannya lebih sopan dibanding saat pertama jumpa kemarin. Aku seperti tak mengenali keluarga suamiku lagi. Seperti punya topeng yang disembunyikan dengan kepura-puraan. 

"Makasih, ya, Bu. Ibu juga telah jadi mertua yang baik buat istriku. Makasih juga buatmu, Yu, telah bikin Mas terkejut. Padahal, Mas yang mau kasih kejutan. Ini hadiah terindah, Sayang," ujar Mas Haris, memelukku dengan lembut. 

Jika biasanya aku merasa berbunga-bunga dengan kata-kata romantis yang keluar dari bibir suamiku, kali ini tidak ada getaran di hati. Curigaku telah lebih besar dari cinta ini. 

Aku melirik dari ekor mata, Mbak Putri mengusap pipinya dengan kasar, lalu melebarkan langkah ke dapur. Apakah dia teringat kisah rumah tangganya yang kelam sehingga baper melihat keluarga harmonis seperti kami? Itu cerita Ibu, dan belum pasti kebenarannya. 

"Kalau begitu, kita makan, yuk," ajakku.

Semuanya mengiyakan. Aku tersenyum melihat makanan sudah terhidang di meja. Piring juga sudah ditata untuk kami bertiga. 

"Kita makan bareng saja, Mbak. Yuk!" ajakku, menarik pergelangan tangan perempuan berwajah kusam itu. Ia mengelap sudut mata sekali lagi dengan ujung lengan dasternya. 

Dia terlihat terluka batin, tapi siapa sebenarnya perempuan ini? Kalau simpanan Mas Haris seperti kecurigaanku, kenapa penampilannya lusuh? Sementara mertua dan iparku yang selalu diceritakan sebagai keluarga sederhana malah kelihatan seperti sosialita. Keadaan yang bertolak belakang sehingga nurani memberontak kalau itu tidak lah benar. Tapi apa? 

"Saya gak enak makan satu meja, Mbak. Belakangan saja saya makan," balasnya, tersenyum tipis. 

"Ayo makan, Mbak Yu. Dia memang gak suka makan dengan orang lain. Malu kalau mau nambah," kekeh Risti. 

"Ya, gak apa-apa dong. Kan makanannya banyak. Lagian ini semua masakan Mbak Putri. Dia pasti sudah lapar, iya, kan, Mbak?" tanyaku, lalu menarik tangannyasebelum menjawab pertanyaanku. 

Kami pun makan dalam hening, sesekali suara sendok yang beradu dengan piring. Mas Haris terlihat tak berselera makan, begitu juga dengan Mbak Putri. Dengan skor mata, aku mengawasi gerak-gerik mereka yang mencurigakan. Seolah menyuruh Mbak Putri untuk tidak ikut bergabung di meja makan. 

"Mbak ini banyak kerjaan setiap hari, tapi kok makannya sedikit? Tambah ya, Mbak," ujarku, menambahkan nasi dan ayam bakarnya ke piring Mbak Putri. Ia terlihat sungkan, tapi tidak menolak. 

"Oh iya, masakan Mbak Putri ini sangat sesuai di lidahku, Mas. Bagaimana dengan Mas Haris, Ibu dan Risti? Enak, kan?" tambahku. 

"Biasa saja, kok," komentar Risti dan mertuaku dengan kompak, tapi mereka sudah menghabiskan beberapa potong ayamnya. 

"Berarti masakannya lebih cocok di lidahku sama Mas Haris. Gimana kalau Mbak Putri ini kerja sama kita saja, Mas. Ibu sama Risti bisa cari yang baru. Soalnya kan, ART kita mau nikah sebentar lagi."

Mas Haris terbatuk-batuk mendengar ucapanku. Dengan sigap kuberikan air putih dan menepuk-nepuk punggungnya. 

"Kalau makan hati-hati, Mas," saranku. 

"Kamu sih, Dek. Jangan aneh-aneh deh. Dia itu kan pembantu di rumah Ibu. Kita bisa cari yang lain,"sanggah Mas Haris. 

"Susah cari ART, Mas. Kamu sendiri kan tahu kalau kita sama-sama sibuk. Ibu sama Risti kan terbiasa mengerjakan semuanya sendiri di kampung. Mereka memakai jasa Mbak Putri karena masih baru di Kelurahan Martoli. Sekarang pasti gak perlu lagi pakai jasa orang. Iya, kan, Bu?" todong ku, menyentuh lengan mertuaku. 

"Eh, i-iya. Gak apa-apa, Ris. Istri kamu gak boleh kecapekan biar program hamilnya berhasil," balas Ibu, akhirnya memihakku. 

Dengan terpaksa, Mas Haris setuju. 

"Tapi maaf, Mbak Ayu. Meskipun semuanya setuju, saya tidak ingin kerja di sini," tegas Mbak Putri.

"Kenapa?"

"Aku cemburu," liriknya, lalu meninggalkan meja makan. 


Cemburu pada suami Ayu kah, Put? 🥺