Bab 3. Neraka mulai bergolak
Dinda siap untuk menerima sangsi apapun dari Akbar. Meski dicerai sekalipun, namun dia harap lelaki itu mau menyembunyikan aibnya, seperti yang telah dijanjikan.

   Pintu kamar terbuka, Akbar masuk. Dia tersenyum pada Dinda. 

   "Gimana Dinda sudah baikan?" tanya Akbar meraih jemari Dinda. 

   "Iya, Alhamdulillah, Mas," bisik Dinda lirih. 

   Kenapa Akbar tak marah padanya? Dinda merasa ngeri. Seharusnya Akbar marah dan menginterogasinya. 

    "Mas, Dinda salah. Dinda gak jujur dari awal, kini aku terima apapun yang ingin kau lakukan padaku. Mau memukulku, membunuhku, menceraiku atau apapun, aku pasrah Mas," ucap Dinda. 

   Akbar diam mendengarkan. 

   "Aku hanya minta satu hal, tolong rahasiakan ini dari siapapun, hanya kita berdua yang tau," isak Dinda. 

   "Menutupi aib saudara itu sudah kewajiban, Dinda. Jadi jangan khawatir, tak akan ada yang tau selain kita berdua. Aku janji," ucap Akbar. 

   Dinda lega. Rupanya sebaik ini hati Akbar. Dinda sama sekali tak tau permainan apa yang tengah dilakoni Akbar. Dia memang baik. Tapi dipermainkan harga diri dan kehormatannya membuat Akbar tega bersikap buruk. Nanti. 

    Siapa yang bisa terima dibohongi dan ditipu mentah mentah? Akbar tulus mencintai Dinda tapi wanita itu hanya memanfaatkan Akbar saja. Dia hanya ingin menutupi malu karena hamil diluar nikah dan lelaki yang menabur benih tak sudi bertanggung jawab. 

***

    Setelah dua hari Akbar dan Dinda sudah pulang. Kini Dinda banyak menghabiskan waktu di kamar tidur. Berbaring dan nonton TV.

    Akbar sudah kembali masuk kerja. Dikantor dia di elu elukan. Semua teman mengucapkan selamat dan bertanya tentang malam pertamanya. 

   "Ciee yang habis belah duren," celetuk Rima. 

   "Ehm, emm. Moga cepat dapat momongan ya," celetuk yang lain. 

   Akbar hanya nyengir kuda dan pura-pura happy. Sementara hatinya menyimpan luka dan amarah yang menjadi satu. 

   ***

   Malam hampir larut, Dinda menunggu Akbar pulang. Ponselnya gak aktif. Hal itu membuat hatinya risau. 

   "Kemana Akbar?" tanya hati Dinda galau. 

   Bolak balik ke kanan dan ke kiri, Dinda tak bisa memejamkan mata. 

    Hingga tak lama kemudian Dinda mendengar derit pintu yang dibuka. 

   Dia bangun menyongsong suaminya. 

   "Mas, sini aku bawakan," pinta Dinda. 

   Dia bermaksud meraih tas yang dipegang suaminya. Tapi tak disangka Akbar menepisnya. 

   Dinda tetap berjalan di samping lelaki yang diam tanpa kata itu. Dia menawarkan air hangat untuk mandi, namun Akbar tak mempedulikannya. 

   Akbar melempar tas ke atas meja. Kemudian mengambil handuk dan memgunci kamar mandi tanpa sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. 

***