Bab 6. Kamar pengantin
Apalah yang bisa dilakukan Dinda. Selain meratapi nasib dan menyalahkan diri sendiri. 

    Pernikahannya dengan Akbar tak menyelesaikan masalah apapun. Dia tak bahagia, Akbarpun tak bahagia pula bersamanya. Tapi Akbar memaksa untuk tetap bersama. 

    Pernah saat Akbar santai di depan TV,  Dinda datang dan mengajaknya bicara tentang hubungan mereka. 

   "Mas, menurut Mas masih perlukah hubungan pernikahan ini diteruskan? Mas tidak bahagia bersama Dinda. Dinda juga tidak bisa memaksa Mas untuk menerima keadaan Dinda yang sudah terlanjur rusak," ucap Dinda hati-hati. 

   Akbar menatap dingin. 

   "Memang itu niatmu dari awal, Dinda. Menikah denganku, kemudian bercerai, agar kau punya bukti bahwa kau pernah punya suami. Kenapa pikiranmu hanya berisi tipuan, Dinda. Kenapa?" Akbar membentak diakhir kalimatnya. 

   Dinda kaget, tak dia sangka Akbar bersikap sekasar ini. 

    "Mas, dengarkan Dinda. Demi Allah Dinda menyesali apa yang sudah terjadi di masa lalu. Dinda bertobat ingin jadi wanita yang baik. Ingin jadi istri yang baik, karena itulah Dinda memilih Mas Akbar untuk menikahi Dinda."

   Sejenak dia diam. Akbar juga diam. 

   "Dinda yakin Mas Akbar bisa menerima Dinda apa adanya, kemudian jadi imam yang akan membawa Dinda ke jalan Tuhan, tak ada niat Dinda untuk memanfaatkan Mas Akbar," tak sanggup membendung air mata, Dinda segera menjauh menuju kamarnya. 

    Kini Dinda bingung harus melakukan apa. Protes? Marah? Memaki Akbar? Dia tak punya keberanian untuk itu. Dia sadar bahwa dirinya bukan istri yang dianggap. Akbar hanya melihat Dinda sebagai seorang wanita yang menumpang di rumahnya untuk menyembunyikan aib diri.
Hanya itu. 

   "Ya Tuhan mungkin ini hukuman untukku, baik. Jika semua penderitaan ini akan menggugurkan dosa dosaku, maka aku akan ikhlas menerimanya," bisik Dinda. 

***

    Ponsel Dinda berbunyi. Akbar menelponnya. 

   "Dinda, sore ini aku pulang bersama istri baruku, tolong siapkan kamar kosong di samping kamarmu, saat aku pulang nanti semua sudah beres." titahnya. 

   Dinda gemetar karena emosi," kalau aku tidak mau?" 

    "Aku akan bicara pada Ayah dan Ibumu, tentang rahasia dirimu!"

    Dinda jatuh terduduk, dia tak akan mungkin membiarkan aib ini diketahui keluarganya. 

   Ayah yang sakit jantung mungkin akan langsung meninggal jika mendengar semua ini. Penyesalan ... penyesalan selalu muncul dikemudian hari. Dinda semakin menyadari kenapa dia diajarkan untuk menjaga kehormatannya. Rupanya beginilah akibat dari  mengabaikan pesan orang tua. 

     "Dinda." 

    "Iya, Mas!"

    "Aku mengenalkanmu sebagai keluarga jauh yang merantau di kota ini dan menumpang di rumahku, yaah untuk bantu-bantu  ....," terang Akbar lagi. 

   "Terserah kau saja, Mas. Aku memang tak punya hak untuk protes atau membantah," Dinda menghapus airmatanya. 

   "Begitu dong, Dinda." Terbayang di mata Dinda seringai kemenangan Akbar. Lelaki itu telah berhasil menyakiti hatinya. 

   ***