Prolog
SOPHIA

Sepanjang perjalanan, perasaanku tidak enak. Ojek yang kutumpangi menepi di depan sebuah diskotek yang cukup terkenal di pulau ini. Bangunan depannya yang serba gelap hanya diterangi lampu remang-remang, menyisakan satu pintu yang dijaga oleh dua penjaga. Aku masuk begitu saja tanpa peduli pandangan aneh dari kedua pria berbadan besar itu. Aneh saja, seorang gadis berjilbab masuk kelab malam.

Masuk ke dalam, dentum suara musik DJ memekakkan telingaku. Ruangan luas dan gelap itu diterangi lampu disko yang berwarna-warni. Aku hampir tidak bisa melihat dengan jelas. Apalagi asap rokok memenuhi ruangan. Bau alkohol menyengat indera penciumanku.

Aku terus berjalan ke tengah ruangan, tidak bisa kugambarkan dengan detail apa yang ada di dalam. Rok seksi, baju ketat, pria-pria berdandan berbagai rupa, bule-bule, orang tua, anak muda, semua berbaur. Ada yang berjoged mengikuti alunan musik, ada yang duduk tertawa dan asyik menenggak minuman keras.

“Hai, Cantik.” Seseorang menyolekku dari samping. Pria tua dengan kumis bak Mas Adam, suami Inul Daratista. “Sendirian aja, nih? Godain kita dong!”

What happen to your dress, Young Girl?” Cewek, bajumu kenapa? Kata seorang wanita bongsor berbaju semi terbuka sambil menarik ujung kerudungku. Aku menampis tangannya dan terus maju ke depan. Mataku nyalang. Mencari seseorang.

Nah, itu dia! Tepat di kursi sofa di lantai atas aku melihatnya. Dikelilingi beberapa lelaki dan beberapa di antaranya bule. Aku bergegas naik ke atas. Dari gerak-geriknya, mereka pasti sudah mabuk berat.

Aku menuju perempuan yang kucari. Betapa bodoh pakaian yang ia kenakan. Terusan dengan rok ketat di atas lutut. Aku menarik dan langsung menyeretnya.

What are you doing?” Seorang bule menarik balik perempuan itu. Empunya tangan seperti tidak sadar. Tarikan bule yang cukup keras membuatnya oleng dan jatuh terduduk di sofa.

Si bule menuju ke arahku. “Kamu ngapain, wanita aneh? Main tarik-tarik saja!” Tanpa ampun, dia menjambak kerudungku dan berusaha menyeretku.

Seorang temannya yang berwajah lokal menimpali sambil terkekeh. “Hei, tunggu! Dari pada wanita ini kau usir, buka saja jilbabnya dan ajak dia minum dengan kita. Lumayan ada hiburan tambahan. Hahaha.”

Perutku mual, selain bau alkohol dari mulutnya, aku juga mual dengan perkataan jahat lelaki hidung belang tadi. Sialnya, bule itu mengindahkan perkataan temannya. Dia lalu memegangiku erat, temannya tadi berusaha menarik jilbabku ke atas agar terbuka. Aku hanya bisa meronta, berusaha mempertahankan diri.

Bugh! Sebuah tendangan membuat pria lokal itu terjengkang.

RANA

Aku mabuk berat, entah berapa sloki yang mereka cekokkan kepadaku tadi. Mataku berkunang-kunang. Badan dan otakku berasa melayang. Sekejap aku merasa ditarik paksa oleh seseorang. Selang sekian detik, kurasa tubuh ini ditarik lebih keras ke sebaliknya. Tubuhku berputar kemudian terhempas ke … sofa. Sebab empuk yang terasa.

Kepalaku masih pening, mataku terbuka tapi apa yang ada di depanku terlihat kabur. Telingaku menangkap suara-suara terkekeh dari salah satu pelangganku malam ini. Kupegangi kepalaku yang sakit, berusaha memusatkan pandanganku. Pada saat pandanganku kembali sepenuhnya, aku melihat dua pelangganku tengah memegangi seorang gadis dan berusaha menarik paksa jilbabnya. Astaga!

Dengan sisa kesadaran, aku bangkit dan sekuat tenaga menubruk salah seorang pria itu. Bugh! Kemudian aku menyambar tas dari sofa dan melayangkan tepat ke muka bule di depanku. Bugh!

“Heh, Goblok! Lo ngapain ke sini? Buruan … kita harus kabur dulu dari sini!” Aku segera menarik tangan Sophia. Kami berlari ke arah pintu keluar.