Misi Sophia
SOPHIA (Juni 2021)

“Penumpang yang terhormat, sebentar lagi kita akan mendarat di Bandar Udara Internasional Ngurah Rai, Bali. Silakan tegakkan sandaran kursi, melipat meja, buka penutup jendela, dan ….” Seorang pramugari mengumumkan persiapan landing pesawat Macan Air yang aku tumpangi.

Perjalanan satu setengah jam dari Surabaya memang tergolong singkat, namun rasanya badan ini tetap saja tegang. Maka aku mencoba menggerak-gerakkan tubuhku ringan hingga terdengar bunyi kretek dari tulang punggung, leher, dan persendian lengan. Lega rasanya.

Tidak sampai dua puluh menit kemudian pesawat landing dengan sempurna di Pulau Dewata. Saatnya mengantre untuk keluar dari badan pesawat menuju pintu kedatangan. Karena masih pandemi, harus berjarak kata pramugari cantik itu.

Dari kabin, aku mengeluarkan sebuah ransel berisi laptop dan beberapa keperluan sederhana lainnya. Sisa barang ada di koper di dalam bagasi. Maka setelah berhasil turun dari pesawat, aku langsung menuju konveyor tempat koperku diturunkan.

Sembari menunggu kehadiran koperku yang berukuran medium dengan sarung koper berwarna ungu bunga-bunga itu, aku mengambil ponsel dari dalam tas kecil, kemudian menyalakannya. Seketika notifikasi Whatsapp, panggilan tidak terjawab, hingga media sosial bermunculan.

Untuk notifikasi media sosial jelas langsung di-skip. Notifikasi Whatsapp hanya aku intip sekilas, chat teratas dari seseorang di Pulau Sumatera sana. Lima panggilan tidak terjawab ternyata juga dari nama yang sama.

Setelah mendapatkan koper, aku berjalan ke arah pintu keluar. Sekalian, kupencet nomor orang yang melakukan panggilan tidak terjawab tadi. “Halo, Bang? Aku baru saja mendarat di Bali.”

“Alhamdulillah kalau gitu. Jadi ketemu temanmu di bandara?” Orang yang kupanggil Abang itu terdengar lega di seberang sana.

“Jadi, Bang. Katanya nunggu di depan pintu keluar bandara. Setelah ini kami mau ke pusat kota Denpasar, ke kos yang sudah kupesan minggu lalu. Tapi sebelumnya, kami mampir dulu buat makan siang di Ayam Betutu dekat bandara,” terangku.

“Syukurlah … berkabar kalau sudah di kosan, ya! Semoga lancar urusan di Bali. Assalamualaikum.”

“Amin, nanti aku kabari. Waalaikumsalam,” ucapku sebelum mengakhiri sambungan itu.

Oh ya, karena aku terbang di masa pandemi, sebelum keluar diwajibkan memindai barcode deklarasi kesehatan yang tersedia, kemudian baru boleh keluar. Dari pintu keluar aku melihat Wayan, teman kampusku di Kota Malang, melambai ke arahku. Wajah lucu ditambah senyuman lebar di balik masker, setidaknya terlihat dari matanya yang menyipit, dan sedikit gerakan jingkrak-jingkrak otomatis membuatku melakukan hal yang sama. Pegal pun hilang setelah melihat Wayan. 

“Hai, Bekhtie aku. Selamat datang di Pulau Dewata, yes!” Wayan menyambutku dengan pelukan erat. Bekhtie adalah panggilannya buatku, akronim dari Bestie-Ukhti. Katanya, walaupun kami ini komplotan gadis berjilab panjang, tetap harus gaul.

Assalamualaikum Wakyu … Wayan akyu,” sapaku dengan penyebutan ‘aku’ berlebihan. Menganugerahi panggilan untuknya dari pelesetan daging wagyu. Pernah dahulu dia sebal dengan panggilan itu, tapi akhirnya pasrah menerimanya. Kataku, siapa sih yang tidak tahu kalau wagyu itu daging terenak dan digemari banyak orang? Hahaha.

“Eh, kenalkan ini kakakku, namanya Sutha.” Wayan mengenalkan pria jangkung di belakangnya. Sebetulnya tadi aku sudah menyadari keberadaan laki-laki kurus, tinggi, dan langsing itu. Kita sebut dia Ku-Ti-Lang. Kupikir teman Wayan. Ternyata saudara kandungnya. Perawakan Ku-Ti-Lang dengan mata teduh itu jelas sangat berbeda dengan Wayan yang tumbuh ke samping dengan bentuk muka dan mata super bulat. Tapi, setelah diamati lebih dekat, ada garis kemiripan antar keduanya.

“Halo, Bang!” sapaku dengan menangkupkan kedua tangan di depan dada. Dia pun menyambut dengan hal serupa.

Setelah perkenalan singkat itu, kami bertiga menuju rumah makan Ayam Betutu yang terkenal di dekat bandara. Kalau ke Bali, tidak afdal rasanya kalau tidak merasakan makanan khasnya.

***

Bekhtie, yakin kamu mau tinggal di kos aja selama di Bali? Kamu bisa loh pakai kamarku. Kan, aku minggu depan sudah balik ke Malang.” Sahabatku, dengan sedikit logat Bali-nya, sekali lagi menawarkanku untuk tinggal di rumahnya.

Sebetulnya jarak antara kos yang akan aku tinggali dengan rumah Wayan tidak terlalu jauh, hanya sekitar lima belas menit. Namun, aku khawatir justru akan merepotkan keluarga Wayan jika aku tinggal di sana, apalagi pekerjaanku akan cukup menyita waktu.

Aku menggeleng dan tersenyum, “Masih aja maksa. Aku, kan, sudah bilang tidak perlu sampai merepotkan ibumu di rumah. Temani saja aku nanti ke kos, ya!”

“Baiklah …,” kata Wayan sambil menghela napas, kemudian pandangannya beralih ke Sutha. “Phia ini memang begitu, Bli. Sudah sahabatan lama tapi tetep aja takut ngerepoti.” Phia adalah panggilan asliku dari nama Sophia, sedangkan Bli adalah panggilan untuk orang yang lebih tua di Bali.

Mendengar adiknya mengomel, giliran Sutha menatapku. “Memangnya Sophia ada proyek apa di Bali?”

Ditanya begitu, aku segera menyeruput es jeruk yang tadi kupesan, tenggorokan ini butuh pelicin sebelum cerita. “Jadi begini, Bang … eh Bli. Kebetulan skripsi saya selesai lebih awal, sedangkan jadwal wisuda masih tiga bulan lagi. Berhubung kuliah, bimbingan, dan kemungkinan wisuda juga masih online, jadi saya putuskan buat nyambi kerja ….”

“Dia ini jago nulis, Bli. Katanya ke sini mau sekalian nyari inspirasi,” potong Wayan.

“Nah, betul. Sekalian cari suasana baru. Saya kebetulan lagi nulis buku non fiksi tentang motivasi islami dan rencananya mau riset juga untuk persiapan novel perdana. Butuh riset latar yang menarik. Bali pasti punya banyak wisata menarik, kan? Apalagi kata Wayan, di sini juga komunitas pengajiannya juga ada yang bagus. Sekalian nanti mau ikut.” Aku menerangkan panjang dan lebar tentang misiku ke Bali.

Sutha yang mendengar ceritaku hanya merespons dengan anggukan-anggukan kecil. Senyumnya juga merekah. Kalau di bandara tadi senyumnya tertutup masker, sekarang di depanku terlihat senyumannya yang … manis. Astaghfirullah, mikir apa kamu, Sophia.

“Menarik banget. Saya baru tahu kamu ini penulis,” kata Sutha.

“Bli Sutha, kan Wayan sudah pernah cerita kalau teman Wayan ini penulis. Beginilah kalau punya kakak yang dengar cerita adiknya aja masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Haduh!” Wayan protes pada kakaknya. Membuatku tertawa melihat tingkah kedua kakak beradik ini.

“By the way, Bekhtie. Ngomong-ngomong soal pengajian nanti aku kenalin sekali saja, ya? Sisanya kamu bisa datang sama Bli Sutha. Dia juga anggota pengajian Fii Sabilillah, kok.” Wayan menyolek lengan kakaknya sambil memasang senyum menggoda, alisnya naik turun. “Bukan begitu, Bli?”

Sutha yang ditembak begitu langsung tergagap. Dasar Bli Sutha tidak bisa menyembunyikan salah tingkahnya. Bukannya bagaimana, saat di Malang, beberapa kali memang Wayan  bercerita tentang kakak laki-lakinya ini. Dia juga tidak segan menggodaku untuk dijodohkan dengan kakaknya. Pasti dia melakukan hal yang sama kepada Sutha. Tapi, baru kali ini aku tahu wujud kakaknya, selama ini tidak sekali pun aku ditunjukkan fotonya. Pemalu kata si Wayan.

“Kita lihat nanti saja. Bukan begitu, Bli Sutha?” jawabku untuk mencairkan suasana.

“Iya, betul itu. Lagian kamu ini cerewet sekali dari tadi. Urus itu skripsimu biar cepat selesai seperti Sophia. Bukan begitu, Phia?” Sutha melemparkan kartu AS-nya sehingga membuat Wayan terdiam dan berpura-pura memasang wajah sebal. Ditoyornya lengan kakaknya. Aku sangat terhibur dengan keberadaan mereka. Sepertinya perjalananku di Bali akan sangat menyenangkan.

Selesai makan dan bercengkerama, kami melanjutkan perjalanan menuju tempat kos yang alamatnya sudah tersimpan di ponselku. Aku sudah tidak sabar, kita lihat bagaimana penampakan dari kos baruku nanti.