Toa dan Kematian
Setiap orang pasti akan mati, tapi pernah gak sih ketika terjadi satu peristiwa meninggalnya seseorang yang kamu kenal, kemudian kamu bercengkrama dengan teman teman kamu, trus bertanya, kenapa orang baik matinya cepat ? sementara orang yang dalam tanda petik kita anggap gak baik, ga mati mati haha. Saat kita ngobrolin itu dengan orang, kita juga kan  belum mati so...kita bukan orang baik juga dong ? Haha

Intinya Kalo kita masih diberi kesempatan hidup, itu adalah anugerah Allah It's mean kita masih bisa diberi kesempatan memperbaiki diri. 

Di bab sebelumnya sekilas aku menyebut tentang sosok Ibu Anis, tetanggaku waktu di Serang. Kebaikan yang aku ingat darinya adalah, dia gak neko-neko dan selalu mengingatkan ibu-ibu kompleks buat ngaji setiap Minggu sore sehabis ashar. 

"Assalamualaikum, Ibu-ibu ditunggu kehadirannya, di Mushola Al ikhlas untuk pengajian bersama." Suara khas Bu Anis terdengar dari speaker pengeras suara alias Toa musola. Toa yang sekarang lagi diperbincangkan. Pemerintah katanya pengen bikin masyarakat lebih harmonis, jadi dibuat aturannya biar gak ada lagi tuh gontok-gontokan, sindir sindiran di medsos soal kerasnya toa yang syahdan mengganggu orang yang mau istirahat. 

Bicara soal Toa, katanya diatur sekarang gak boleh lebih dari 100 Desibel...hmm bingung juga ya, 100 desibel itu kalo disederhanakan setara apa sih suaranya ? Terus nanti mic mic di mesjid or mushola ada alert nya gitu ? Apa setara dengan suara aku kalo lagi ngomelin bocah ? Hahaha....ga tau lah. 

Panggilan toa dari Bu Anis itu, aku  gak ngerasa terganggu, malah Ter motivated bikin aku bergegas ke musola buat ngaji sama ibu ibu yang lain. 

Tapi, beda halnya kalo aku dengar suara toa Om M, merbot mushola. Jadi Om M ini sesudah tarawih dia akan tadarus Alquran pakai speaker mesjid, bukan toa lagi. Duh kebayang dong abis taraweh jam 9 or 10 waktunya kita mau istirahat, Om M ini mengaji pakai speaker. Aku ya serba salah, mau marah masa sebagai muslim aku marah dengar orang mengaji, tapi ga marah juga ya gimana aku ga bisa tidur...dan dia ngaji bisa sampai tengah malam. Lha om M enak aja kan, khusuk mengaji, paginya dia bisa istirahat, nah kita harus ngantor?

Jadi kalau aku rasa pengaturan toa memang penting juga. Intinya tetap sebagai syiar but tetap ada batas. Bukankah yang baik itu memang yang sedang sedang saja ? Tahu porsinya sehingga enak menjalaninya.

Back to Bu Anis, dia kalo abis ngasih pengumuman pakai toa, dan kita para ibu-ibu kumpul, pas ngajinya kita ga pakai pengeras suara. Jadi menurut aku tepat banget. Kalau ada ustazahnya, ngasih materi ya 15 menit paling lama baru pakai toa. Dan Alhamdulillah dikomplek ga ada yang protes. 

Sampai sekarang pun aku masih teringat dengan Bu Anis. Dia sudah punya putra putri 3, dan dalam kondisi hamil. Saat kondisi hamil pun dia masih rajin mimpin pengajian.  Tapi takdir tak bisa dipungkir, malang tak bisa ditolak. Bu Anis menghembuskan nafas terakhirnya sesudah berjuang melahirkan putra ke 4 nya. Putranya sehat, gemuk, tapi sang ibu hanya bisa menghantarkannya ke gerbang dunia beberapa jam saja. Pukul setengah 3 dini hari, aku terbangun mendengar toa mesjid mengumumkan bahwa Bu Anis sudah berpulang. 

Semoga amal ibadah Bu Anis diterima di sisi Allah swt. Husnul khotimah. Aku begitu mendengar berita itu, cuci muka dan sikat gigi dan langsung takziyah ke rumah almarhumah. Kain batik menutup jenazah beliau, aku baca Yasin, air mata menetes mengingat seruan Bu Anis untuk ibu ibu komplek mengaji. 

Ya Allah, ampuni dosanya, berikan surga baginya. 

Dan kabar Om M, yang merbot mesjid, rasanya tak adil kalau aku tak mengisahkan tentang dia. Om M pindah ke kota T, motif kepindahannya entahlah, tapi memang sikapnya yang kurang bisa menyesuaikan dengan masyarakat sekitar, tidak peka menyebabkan dia tidak diperpanjang masa tugasnya oleh Dkm. 

Bu Anis, orang baik sudah dipanggil Tuhan. Om M orang yang menuju menjadi pribadi yang lebih baik, semoga saja...masih berjuang untuk kehidupan. 

Dan aku yang masih abu-abu juga still on the way to be a good person too.